Paulo Dybala Prihatin Masa Depannya di Juventus - Male Indonesia
Paulo Dybala Prihatin Masa Depannya di Juventus
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Sudah lama Paulo Dybala menyadari kalau masa depannya di Juventus tidak akan selalu ‘jelas’. Tak peduli seberapa besar tekadnya membela klub, ia tahu bahwa ada titik di mana “Si Nyonya Tua” tak membutuhkan jasanya lagi.


Photo credit: Leandro.C on Visualhunt / CC BY-SA

“Saya tidak bisa menjamin saya berada di Juventus selamanya. Keputusan itu tidak bergantung pada diri saya,” tutur Paulo Dybala seperti diwartakan Calciomercato.

Ia merasa Juventus terlalu mudah melepas pemain macam Paul Pogba dan Dani Alves, yang menurutnya bisa membawa prestasi signifikan jika dipertahankan di Turin.

Waktu berjalan, Dybala pun merasakan apa yang dialami Alves dan Pogba. Seperti dilansir dari Goal, di bursa transfer musim panas 2019, Juventus membuka negosiasi dengan klub mana pun yang bersedia merekrut Dybala minimal 100 juta pound.

Juventus seolah mendapat keuntungan di musim 2019/2020 dengan kehadiran Matthijs de Ligt dan Aaron Ramsey. Namun bila Dybala pergi, bukan mustahil kerugian yang bakal diterima La Vecchia Signora juga sepadan.

Direktur olahraga Juventus, Fabio Paratici pernah menyebut bahwa Paulo Dybala memenuhi segala kriteria untuk menjadi legenda klub. Dia punya intelejensi dan kemampuan individu di atas rata-rata, memperkuat Juventus sejak usia muda, serta kepribadian baik di dalam dan luar lapangan.

Namun akhirnya, semua itu kalah oleh takdir. Dan Dybala paham betul betapa kejamnya dinamika hidup sebagai pemain sepak bola.

“Hidup sebagai pesepakbola bagaikan menaiki roller coaster. Suatu hari Anda akan dianggap yang terbaik, tapi bisa jadi hari berikutnya Anda menyadari diri sebagai orang tak berguna dan mencari keseimbangan bukan sesuatu yang mudah,” ucap Dybala dalam wawancaranya dengan Calciomercato.

Lantaran ia berasal dari Argentina, banyak orang yakin dirinya merupakan penerus Lionel Messi. Awalnya, pelatih Juventus, Massimiliano Allegri enggan membandingkannya dengan pemain Barcelona tersebut.

Namun faktanya, ia (Allegri-red.) mulai menuntut Dybala berperan lebih banyak seperti Messi. Di tahun kedua Dybala, Allegri menempatkannya di belakang striker, alih-alih sebagai ujung tombak.

Dybala sejatinya mampu menjawab ekspektasi pelatih dengan baik. Dua musim menjadi tandem Higuain, keganasannya sama sekali tak berkurang. Dalam 64 laga di dua musim Serie A, dia mengemas 33 gol dan 12 assist.

Masalah muncul ketika Allegri mendepak Higuain dari Juventus pada musim 2018/2019. Terbiasa berdiri di belakang Higuain bikin Dybala kesulitan usai tandemnya pergi.

Situasi kian parah saat Allegri banyak mengandalkan skema 4-3-3. Tak ada tempat di belakang striker. Ketimbang menempatkan Dybala sebagai gelandang, Allegri lebih memilih pemain yang punya kemampuan murni, seperti Sami Khedira, Emre Can atau Miralem Pjanic.

Kehadiran Cristiano Ronaldo juga “menutup” potensi Dybala. Eks pemain Madrid itu mendapat posisi di sayap kiri, sehingga Dybala terpaksa menempati sayap kanan. Posisi ini tidak ideal baginya, sebab Dybala adalah pemain kidal.

Di sisi lain, ia tidak didesain membantu tim bertahan di tepi lapangan seperti yang dilakukan kebanyakan pemain sayap di era modern. Alhasil, selama musim 2018/2019, Dybala sering turun sebagai pengganti. Ia hanya sanggup mengemas lima gol dan empat assist di 30 laga Serie A.

Dybala butuh tim yang bisa menempatkannya di posisi ideal. Entah sebagai striker murni, false nine, atau tandem tunggal seorang striker. Sejauh ini, satu-satunya klub yang memungkinkannya bermain bebas seperti itu adalah Manchester United. [GP]

SHARE