Tentara PD I Sempat Bikin Olimpiade Sendiri - Male Indonesia
Tentara PD I Sempat Bikin Olimpiade Sendiri
Sopan Sopian | Story

Stadion penuh sesak meraung ketika Solomon "Sol" Butler, membuat rekor lompat jauh AS. Tapi Butler tidak hanya seorang atelet, tetapi juga seorang tentara. Ia mengiktui kompetisi olahraga kelas dunia namun bukan Olimpade. Tetapi olahraga yang sekelas dengan itu, yakni Inter-Allied Games dilakukan pada 1919.


Photo: Skblzz1/Wikipedia

Inter-Allied Games 1919 merupakan Acara olahraga yang dirancang untuk mengisi waktu ribuan tentara AS di Eropa selama gencatan senjata saat Perang Dunia I. Olahraga ini konon belum pernah dilihat oleh siapapun, kompetisi ini juga mempertemukan tentara dari 14 negara Sekutu dan memamerkan yang terbaik dan tercerdas bukan sebagai pejuang, tetapi sebagai atlet.

Meskipun acara olahraga itu menyatukan tentara Sekutu, Pertandingan Antar-Sekutu mengekspos perpecahan di antara negara-negara yang sibuk mengeluarkan syarat-syarat perdamaian yang tidak nyaman. Dan meskipun mereka memukau dunia kala itu, yang ingin pindah dari perang yang mengerikan, mereka sebagian besar juga terlupakan pada tahun-tahun berikutnya.

Mengutip laman History, acara olahraga ini sebenernya hasil akhir dari Perang Dunia I yang tak berujung. Kedua belah pihak pihak babak belur dan siap untuk mengakhiri permusuhan, dan setelah secara tak terduga meminta gencatan senjata, Jerman setuju untuk melakukan persyaratan yang keras sebagai imbalan untuk menghentikan pertarungan.

Gencatan senjata yang secara itu membuat Amerika Serikat berada dalam situasi yang canggung. Karena AS sudah merencanakan konflik untuk memakan waktu lebih lama, dan mengerahkan upaya perang besar dalam pelayanannya. 

Ketika keluarga-keluarga menyerukan pasukan pulang, para pejabat khawatir tentang pemberontakan di antara pasukan yang ingin pulang. Meskipun ada upaya untuk membuat pasukan yang semakin pahit dan frustrasi sibuk dengan latihan disiplin dan kegiatan kelompok, mau tidak mau harus ada sesuatu yang lain harus diberikan.

Ellwood Brown, seorang penyelenggara olahraga,  menyarankan agar para pejabat mengarahkan prajurit yang frustrasi ke dalam olahraga. Ide itu kemudian disetujui. Pejabat Prancis dan Amerika memutuskan bahwa tempat terbaik untuk mengadakan acara itu dekat Paris, dan dibuatlah stadion baru di sana. 

Pada 22 Juni 1919, pertandingan resmi dimulai. Atlet militer dari Amerika Serikat, Prancis, Inggris, dan 11 negara lainnya ikut serta dalam berbagai acara yang bervariasi seperti baseball, gulat, golf, pagar, dayung, menembak, sampai lari. 

Tetapi meskipun pertandingan mempertemukan berbagai negara dan memberi tentara sesuatu untuk dilakukan selama periode perdamaian yang tak terduga, mereka mencerminkan ketegangan perang setelahnya.

Pertandingan pertama itu berbarengan dengan uraian visi Woodrow Wilson dalam mengupakaian perdamaian. Sayangnya, uraian yang terangkum dalam 14 poin itu tidak disetui Pranis. Apalagi tidak menghukum Jerman sebagai negara yang memulai peperangan.

Pertandingan pun terlihat menegangkan di antara para atlet. Apalagi ketika AS mempermainkan team Prancis dalam pertandingan rugby sehari setelah perjanjian itu. Di sisi lain, jenis olahraga pelemparan granat tangan adalah sebuah acara di pertandingan itu. Amerika mendapat kemenangan ketika mantan pemain baseball FC Thompson melemparkan granat tangan sejauh 246 kaki.

Meskipun saat itu rasisme kuat, tetapi pemain kulit hitam dari tim AS, Solomon "Sol" Butler, seorang atlet serba bisa memenangkan medali demi medali selama karir perkuliahannya. Di pertandingan, ia memenangkan medali emas dalam lompat jauh, mencetak rekor lompat jauh AS dan memenangkan perunggu untuk lari 90 yard. 

Dia adalah satu-satunya orang kulit hitam yang memenangkan medali di acara olahraga itu. Dia kemudian berkompetisi di Olimpiade pada tahun 1920. Meskipun hanya 14 negara Sekutu yang berpartisipasi dalam permainan, mereka dianggap sukses dan dilaporkan secara luas. *** (SS)

SHARE