Miliarder Pertama di Dunia yang Kontroversial - Male Indonesia
Miliarder Pertama di Dunia yang Kontroversial
MALE ID | Story

Pada 1916, surat kabar di seantero Amerika Serikat mengeluarkan kabar senada. John D. Rockefeller telah melampaui batasan, dari status jutawan menjadi miliarder pertama yang tercatat dalam sejarah.

Photo: wikimedia commons

Pemicunya adalah kenaikan harga saham perusahaannya, Standard Oil Co. sehari sebelumnya. Sebanyak 247.692 saham milik Rockefeller kala itu bernilai hampir 499 juta USD, sebagaimana dikutip dari Time.

Kekayaannya menjadi beberapa miliar dolar lantaran digabung dengan kepemilikan di sejumlah bank, perusahaan kereta api, juga obligasi di tingkat nasional, negara bagian, maupun kota.

Sejak itu, John D. Rockefeller kerap dijuluki sebagai miliarder pertama di AS, bahkan satu-satunya di Negeri Paman Sam selama periode waktu yang panjang.

Hingga akhirnya, putranya, John D. Rockefeller, Jr. mengeluarkan pernyataan yang menyebut, kabar itu tak sesuai kenyataan alias dibesar-besarkan.

Sementara, dalam buku biografi, Titan: The Life of John D. Rockefeller, Sr. yang diterbitkan pada 1998, penulisnya, Ron Chernow memperkirakan kekayaan Rockefeller memuncak di angka 900 juta USD pada 1913.

Namun, legenda yang menyebut John D. Rockefeller sebagai miliarder pertama di AS tetap bertahan hingga kini.

Di sisi lain, taktik bisnis Rockefeller yang kejam bahkan ‘brutal’ juga membuatnya dijuluki “orang paling dibenci di Amerika”.

Pada tahun-tahun terakhirnya, ia mencoba menghapus citra buruk itu dengan cara memberikan sebagian besar kekayaannya untuk amal. Ia juga kerap memberikan uang koin baru pada setiap anak kecil di dekatnya.

Saat meninggal dunia pada 1937, obituari New York Times menyebut John D. Rockefeller sebagai ‘miliarder’ dengan tanda kutip. Jika bukan dia miliarder pertama di Amerika Serikat, lantas siapa?

Sejumlah sejarawan menunjuk Henry Ford. Ia diyakini mempunyai kekayaan bernilai 10 digit pada tahun 1925.

Kisah Rockefeller mungkin adalah yang teraneh dari era Gilded Age. Kala pertumbuhan ekonomi tinggi, rel kereta membentang di sana-sini, dan pameran kemewahan menyilaukan mata, menutupi realitas yang ada seperti kemiskinan dan korupsi merajalela.

Rockefeller merupakan sosok gila kerja, yang mengumpulkan kekayaan berlimpah, namun akhirnya memberikan sebagian hartanya untuk orang lain. Walau kejam, di sisi lain, pria kelahiran 1839 itu banyak beramal di penghujung usianya.

Pada 1870, ia menjalankan praktik monopoli dengan Standard Oil Co. dan menjadi pelopor kapitalisme modern Amerika. “Persaingan adalah dosa,” itu yang pernah diucapkan Rockefeller. Awal 1900-an, Standard Oil menguasai lebih dari 90 % pasar minyak dan gas di Amerika.

Praktik monopoli Standar Oil dibongkar oleh Ida Tarbell, seorang penulis, dosen, jurnalis investigasi, sekaligus anak pengusaha yang menjadi korban Rockefeller dalam bukunya, The History of the Standard Oil Company. Ayah Tarbell bangkrut total, sementara koleganya bunuh diri.

Pada 1903, di tengah pengungkapan terkait skandal Standard Oil, Ida Tarbell melihat sang jutawan duduk di sebuah peribadatan di gereja.

“Sangat menyedihkan. Orang yang melihat John Rockefeller duduk dalam pelayanan di gereja akan merasa ia adalah objek paling menyedihkan di dunia,” kata dia, seperti dilansir Time.

Kala itu, Rockefeller menderita alopecia atau kerontokan rambut yang disebabkan serangan sistem imunitas tubuh terhadap folikel. Bulu-bulu di tubuhnya rontok, termasuk alis.

Meski di masa jayanya kekayaan Rockefeller mencapai 900 juta USD, saat kematiannya, nilai itu menyusut jadi 26 juta USD. [GP]

SHARE