Ambisi Ciptakan Sepatu Kulit Berkualitas Tinggi - Male Indonesia
STARTUP
Ambisi Ciptakan Sepatu Kulit Berkualitas Tinggi
MALE ID | Works

Terjun ke bisnis sepatu kulit bukan perkara mudah, karena sudah banyak brand ternama menghasilkan sepatu berkualitas. Belum lagi kecenderungan orang yang lebih memilih brand asing ketimbang brand lokal. Fenomena itulah yang ingin dipatahkan oleh Madya Adi, CEO sekaligus Founder Benzein.


Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

“Awalnya orang tua saya sudah bermain di item sepatu dari tahun 1986. Pada zaman dulu, banyak sepatu dengan kualitas seperti Benzein. Namun untuk menghemat cost produksi dan mempertimbangkan daya beli masyarakat, sekarang sepatu kualitasnya menurun,” kata Adi kepada MALE Indonesia.

“Saya sendiri terjun langsung di bisnis sepatu pada tahun 2017. Sebelumnya saya kerja di perusahaan properti selama enam tahun. Saya memutuskan resign, riset bahan kulit sepatu, konstruksi, dan shoelast. Setahun kemudian, Benzein lahir.”

Ia menyebut, masih perlu adanya edukasi kepada masyarakat terkait produk sepatu miliknya. Bahkan peran pemerintah dinilai sangat penting untuk memajukan industri sepatu lokal.

Dikatakan Adi, kesulitan berbisnis di industri lokal yaitu tidak dapat berjalan sendiri. Sebab, masyarakat masih ragu pada produk lokal yang dibanderol tinggi, melebihi brand ternama dari luar negeri.


Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

“Saya menjelaskan penggunaan bahan dan konstruksi sepatu pada masyarakat. Sekitar 90 % sepatu Benzein konstruksinya goodyear handwelted. Itu menjadi tantangan kita.”

“Sebagian besar orang yang telah mengetahui produk Benzein setuju akan kualitasnya. Tidak bisa dibandingkan dari sepatu merek luar yang konstruksinya cementing atau dilem. Kalau mau, coba bandingkan dengan merek Red Wing. Walau harganya juga lebih tinggi,” tutur Adi.

Lebih lanjut menurut Adi, setiap pasang sepatu pada dasarnya hanya membutuhkan proses pengerjaan selama satu minggu. Karena Benzein telah masuk ke produksi massal, sepasang sepatu akan diproses empat minggu setelah pemesanan.

Banyaknya pesanan juga memengaruhi jumlah sumber daya manusia di Benzein. Adi menyebut, saat ini karyawan Benzein ada enam orang, dan kemungkinan akan bertambah mengikuti kebutuhan.

Setiap produk sepatu Benzein dibanderol dari harga 1,6 juta - 2,5 juta rupiah. Sementara produk lainnya adalah tas, dompet, key wallet, hingga kaus kaki.


Photo: Gading Perkasa/ Male Indonesia

“Kita berencana develop bahan kulit dari Italia untuk sepatu. Targetnya, sebelum akhir 2019 kita sudah bisa meluncurkan sepatu dengan bahan kulit tersebut di kisaran harga 3,5 juta - 4 juta rupiah,” ucapnya.

“Agak lama karena prosesnya panjang. Shoelast atau cetakan sepatu kita mal dulu, bentuknya sudah sesuai apa belum. Kalau belum, kita lempar lagi ke pabrik. Kemudian pola atas, dan bagian sol. Untuk develop satu sol sepatu itu butuh waktu enam bulan,” ucapnya lagi.

Adi melanjutkan, salah satu misi yang ingin disampaikan oleh Benzein, sepatu dengan material lokal juga dapat menyaingi produk luar.

“Karena saya tidak mungkin berjalan sendiri, akhirnya Benzein bekerja sama dengan beberapa brand lokal dan mendirikan Kicks and Krew, wadah bagi para pebisnis lokal untuk memajukan usahanya dan orang-orang semakin tertarik.”


Photo: Gading Perkasa/male Indonesia

“Saya ingin Benzein membuka official store sendiri, tapi di luar negeri, bukan di Indonesia. Ibaratnya, Benzein membawa nama bangsa,” ujar dia.

Benzein memasarkan setiap produknya di media sosial Instagram. Sedangkan untuk pemasaran di marketplace, tergantung dari permintaan pasar.

Kendati bisnisnya baru berjalan satu tahun, Benzein berhasil mencatatkan pendapatan cukup signifikan. Total keuntungan yang diperoleh sudah menyentuh angka puluhan juta rupiah.

“Pada 8 Januari 2018, pertama kali Benzein berdiri, produk sepatu yang laku hanya satu. Tapi saya enjoy menjalaninya. Benzein mempunyai target dalam jangka waktu tertentu. Akhirnya penjualan bertambah dari bulan ke bulan. Pertengahan 2018 kondisinya semakin membaik, apalagi akhir tahun itu kita ikut event lokal,” tuturnya.

Selain membuka store di luar negeri, Adi akan berupaya memperkuat karakter produk sepatu Benzein agar memiliki ciri khas. “Sepertinya 1 - 2 tahun lagi karakter dari Benzein sudah semakin kuat.”

Berikutnya, ia berencana membuka bisnis sepatu untuk segmen menengah dengan sistem penjualan yang berbeda. “Jenis sepatunya sneakers, dan nama brand-nya sudah ada, Sejakala. Singkatan dari sejauh kaki melangkah. Bulan Agustus 2019 kita akan launching,” kata Adi.


Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

Dengan latar belakangnya yang sempat bekerja kantoran lalu memutuskan resign demi berbisnis, Adi memberikan sedikit tips bila MALEnials mau melakukan hal serupa. Ia mengatakan, alangkah baiknya mempunyai tabungan yang cukup sebelum mengundurkan diri dari perusahaan.

“Jangan resign terus memulai usaha tanpa modal. Itu sama saja bunuh diri. Tetap harus ada persiapan, paling tidak tabungan untuk satu tahun. Sebenarnya bisnis tanpa resign juga bisa, tinggal membagi waktu. Kalau sudah siap dengan risikonya, maka jalani,” kata Adi. [GP]

SHARE