Apa Penyebab Gangguan Kejiwaan Megalomania? - Male Indonesia
Apa Penyebab Gangguan Kejiwaan Megalomania?
MALE ID | Sex & Health

Megalomania merupakan salah satu gangguan kejiwaan yang ditandai fantasi haus kekuasaan. Istilah ini lebih populer disebut gangguan kepribadian narsistik (Narcissistic Personality Disorder). Secara umum, masyarakat lebih mengenalnya dengan narsis.

Megalomania - Male Indonesia
Photo: Pexels.com

Ahli klinis Steve Bressert memaparkan, orang-orang yang menderita gangguan kejiwaan megalomania punya kebutuhan luar biasa terhadap kekaguman. Biasanya, mereka kurang empati terhadap orang lain.

“Orang-orang dengan gangguan ini sering percaya bahwa mereka sangat penting dalam kehidupan setiap orang, siapa saja yang mereka temui. Sementara pola perilaku ini mungkin cocok untuk seorang raja di Inggris abad ke-16,” tutur Bressert, melansir dari Psychcentral.

Penderita megalomania sering menunjukkan sikap angkuh, meremehkan atau menggurui. Misalnya, mereka mengeluh tentang tindakan kasar pelayan yang canggung atau menyimpulkan pemeriksaan medis dengan merendahkan dokter.

Adapun gejala gangguan kejiwaan megalomania harus memenuhi lima atau lebih dari gejala berikut, antara lain:

1. Punya rasa mementingkan diri sendiri

2. Disibukkan dengan fantasi keberhasilan yang tak terbatas, kekuatan, kecemerlangan, keindahan atau cinta ideal

3. Percaya bahwa dirinya ‘istimewa’ dan unik

4. Punya kekaguman berlebihan

5. Mengeksploitasi orang lain untuk mencapai tujuannya sendiri

6. Kurangnya empati. Contohnya, tidak mau mengenali atau mengidentifikasi perasaan dan kebutuhan orang lain

7. Sering iri pada orang lain atau percaya bahwa orang iri padanya

8. Secara teratur menunjukkan perilaku atau sikap sombong dan angkuh

“Karena gangguan kepribadian menggambarkan pola perilaku yang sudah lama dan bertahan lama, mereka paling sering didiagnosis pada usia dewasa. Sangat jarang bagi mereka didiagnosis pada usia muda,” ucap Bressert.

Gangguan kejiwaan megalomania biasanya menurun seiring bertambahnya usia. Banyak orang mengalami beberapa gejala paling ekstrem saat mereka berusia 40-an.

Tidak Jelas Sebabnya
Sampai saat ini, para peneliti tidak tahu apa yang menyebabkan megalomania terjadi. Meski begitu, sebagian besar ahli menyampaikan faktor biologis dan genetik adalah kemungkinan terbesar.

Faktor sosial, seperti bagaimana seseorang berinteraksi dengan keluarga dan teman serta faktor psikologis, ditandai kepribadian dan temperamen individu.

“Itu menunjukkan bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggung jawab. Jika seseorang memiliki gangguan kepribadian ini, ada sedikit peningkatan risiko ‘diwariskan’ kepada keturunan mereka,” ujar Bressert dalam tulisannya yang berjudul Narcissistic Personality Disorder.

Bagi seseorang yang mengalami megalomania dan butuh perawatan, biasanya melibatkan psikoterapi jangka panjang dengan terapis.

“Tentunya, terapis yang memiliki pengalaman dalam mengobati gangguan kejiwaan megalomania. Obat-obatan juga dapat diresepkan untuk membantu dengan gejala spesifiknya .” [GP]

SHARE