Kekejaman Dokter Amerika Habisi Keluarganya - Male Indonesia
Kekejaman Dokter Amerika Habisi Keluarganya
MALE ID | Story

Pada 1979, dokter Angkatan Udara Amerika Serikat, Jeffrey MacDonald, diadili di North Carolina atas pembunuhan istri dan anak-anaknya.


Photo: State Archives of North Carolina/flickr

Mengutip History, pada 17 Februari 1970, Jeffrey MacDonald melakukan panggilan darurat ke polisi militer. Petugas yang merespon teleponnya menemukan istri MacDonald, Colette, dan dua anaknya, Kimberley (5) dan Kristen (2), tewas bersimbah darah. Tubuh ketiganya penuh luka tusuk.

Ditemukan kata ‘pig’ ditulis dengan darah di bagian kepala tempat tidur. MacDonald yang mengalami beberapa luka tusuk, mengatakan kepada petugas bahwa empat hippie telah menyerang dirinya dan keluarganya.

Hippie adalah seseorang dengan penampilan tidak konvensional, memiliki rambut panjang dan memakai manik-manik, terkait subkultur yang melibatkan penolakan terhadap nilai-nilai konvensional dan penggunaan obat-obatan halusinogen.

MacDonald pun berkisah kepada polisi bahwa dia terluka akibat berusaha menyelamatkan istri dan putri-putrinya. Namun ceritanya diragukan penyelidik, pasalnya di tempat kejadian perkara hanya sedikit bukti yang ditemukan.

Majalah Esquire yang memuat artikel pembunuhan terkenal Manson, tergeletak di lantai di ruang tamu, tempat MacDonald mengklaim telah diserang. Penyelidik berteori, cerita soal hippie dan tulisan di tembok adalah upaya untuk meniru tindak kriminal ala Manson dan meredakan kecurigaan.

Lebih penting lagi, bukti cipratan darah tampaknya tidak mendukung pengakuan MacDonald tentang insiden tersebut. Para detektif tak ingin kecolongan, mereka memeriksa darah di dinding dan mencocokkannya dengan golongan darah setiap anggota keluarga MacDonald.

Istri dan kedua anak MacDonald memiliki golongan darah berbeda. Sementara, cipratan darah sang kapten ada di mana saja di rumah, kecuali kamar mandi. Luka-lukanya pun jauh lebih parah daripada luka istri dan kedua anaknya. Colette, Kimberley dan Kristen masing-masing ditikam 20 kali.

Namun, penyelidikan forensik awal sangat fatal dan tuduhan bahwa dokter ini pelakunya dibatalkan pada tahun 1970.

Sidang militer yang digelar tiga bulan setelahnya, berakhir tanpa hasil karena kurangnya bukti, meski MacDonald dihentikan dengan hormat.

Walau MacDonald muncul di televisi dan mengeluh tentang perawatannya, para penyelidik tetap menaruh perhatian terhadap kasus ini. Pada 1974, dewan juri di pengadilan mendakwanya karena pembunuhan, tapi persidangan ditunda untuk lima tahun berikutnya.

Pada 1979, MacDonald akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup. Ia masih bersikeras tidak bersalah, meminta penulis Joe McGinnis membantu membebaskannya.

McGinnis mewawancarainya dan menyelidiki kasusnya sendiri, memutuskan bahwa MacDonald memang bersalah. Buku tentang kisah sang dokter, Fatal Vision, adalah buku terlaris di masanya dan membuat MacDonald marah, menuntut McGinnis atas penipuan.

Sejak itu, MacDonald kehabisan permohonannya. Kasusnya naik banding ke Mahkamah Agung AS berkali-kali. Ia tetap dipenjara.

Di satu sisi, MacDonald ditolak mengajukan pembebasan bersyarat. Ia baru dibolehkan kembali mengajukannya pada 2020, ketika usianya menginjak 76 tahun. [GP]

SHARE