The Brandals: Tak Pernah Puas Untuk Terus Berkarya - Male Indonesia
INTERVIEW
The Brandals: Tak Pernah Puas Untuk Terus Berkarya
MALE ID | News

Sejak era awal 2000-an, The Brandals tak henti-hentinya menyerukan perjuangan mereka menghadapi tantangan kehidupan yang berat, khususnya di Ibukota. Aksi panggung mereka juga senantiasa dinantikan oleh para penggemar setianya.

Photo: Sopan Sopian/Male Indonesia

Waktu terus berjalan, banyak hal mereka alami. Mulai dari perubahan personel, hingga vakum sementara dan kepergian sang drummer, Rully Annash. Namun, itu tidak sedikit pun menghentikan The Brandals untuk melaju kencang.

So, buat Anda yang tertarik mengetahui lebih jauh kiprah mereka, kami telah sajikan wawancara eksklusif MALE Indonesia bersama The Brandals. Let’s go!

Proyek apa yang sedang dikerjakan oleh kawan-kawan The Brandals?
Proyek yang lagi kita garap pastinya album. Kemarin single pertama Retorika, keluar di akhir tahun 2018. kita lagi cicil untuk full album. Kita sih maunya akhir tahun ini. Sebenarnya proyek lain juga banyak, termasuk album kompilasi the best The Brandals, packaging-nya bakal ada bonus CD dan DVD lagu-lagu yang belum kita rilis.

Sejak berdiri pada 2001, The Brandals selalu menghadirkan karya yang merupakan representasi kehidupan di Jakarta. Apakah itu cara pendekatan yang sengaja dilakukan agar lebih mudah menjangkau penonton?
Itu bukan kita sengaja. Tapi memang kita merasakannya setiap hari. Terutama di masa-masa awal, kita masih dekat sama jalanan. Kemana-mana pakai kendaraan umum, melihat ketimpangan sosial dan ketidakadilan. Jadi tidak kita buat sedemikian rupa agar disukai masyarakat. Dari kecil kita hidup di Jakarta, jadi tahu semuanya. Kita membicarakan apa adanya. Kalau orang lihat kota Jakarta itu glamor, tapi sebenarnya seperti itu. Ibaratnya, album pertama kita masih nongkrong di trotoar. Di album kedua, tempat kita ngumpul sudah agak bersih. Album ketiga, mulai masuk ke dunia malam Jakarta. Album keempat, mainlah kita di club.

Photo: Sopan Sopian/ Male Indonesia

The Brandals sempat hiatus pada 2014 dan mengalami momen berat seiring berpulangnya Rully Annash. Bagaimana The Brandals bangkit dan kembali bermusik?
Sebenarnya tidak sulit kalau ngomongin tentang niat dan semangatnya. Justru menyatukan waktunya saja yang agak susah. Karena masing-masing personel punya prioritas yaitu keluarga. Begitu ketemu waktunya, langsung latihan. Bisa dibilang, pesan terakhir almarhum Rully pasti ingin supaya kita berkumpul lagi.

Setiap musisi punya karya yang menjadi andalan. Adakah lagu atau album yang menurut The Brandals kurang memuaskan?
Dari setiap album, kita masih kurang puas. Kalau sudah puas, nggak ada album berikutnya. Sementara untuk lagu yang kurang, pasti di setiap album ada. Tapi itu bukan menjadi penyesalan. Semakin majunya zaman, kita menyempurnakan lagu dengan pengetahuan yang kita dapat. Kita cukup sadar membuat karya, happy dulu di dalam biar diterima masyarakat. Suka atau tidak, mereka yang menilai.

Sebelum manggung, apakah The Brandals punya ritual khusus?
Paling kita latihan dan berdoa sebelum manggung. Sambil bercanda di backstage. Rasa nervous selalu ada. Kalau kita nggak merasa nervous, artinya kita sudah nggak punya nyawa untuk main musik. Eka sendiri sebelum naik ke atas panggung, olahraga dulu supaya nervous-nya hilang.

Photo: Gading Perkasa/ Male indonesia

Apa saja momen seru yang paling berkesan selama mengadakan konser?
PL di tahun 2004 momen berkesan buat kita. Sampai kita ditimpukin penonton. Hahaha. Kalau kita main di tempat yang belum pernah didatangi, itu biasanya berkesan. Karena penontonnya nggak peduli band-nya siapa. Di Sanggau, kota terpencil di Kalimantan, kita sempet main di situ tanpa tahu massanya seperti apa. Ternyata semuanya bercampur, baik yang tahu The Brandals atau tidak.

Sebaliknya, momen yang bikin kesal?
Justru nggak ingat, karena kita sering nggak sadar. Tapi seperti apa pun kota atau tempat kita konser, kita bawa have fun aja.

Punya impian yang berniat diwujudkan?
Inginnya kita festival luar negeri. Kalau memang ada kesempatan, Amerika atau Eropa. Misalnya bisa main di kawasan Asia sekalipun, seperti Jepang, kita juga senang hati. Mudah-mudahan akomodasi ditanggung, apalagi kita bawa nama Indonesia.

Photo: Gading Perkasa/ Male Indonesia

Sekarang tak sedikit genre musik lahir dari perpaduan beberapa genre. Melihat fenomena itu, apa langkah The Brandals agar musik kalian tetap disukai oleh generasi muda?

Dari segi musik, tidak banyak yang bisa kita ubah. Tapi kita akan mengedukasi milenial bahwa musik The Brandals dapat diterima. Kita explore dari sound, instrumen dan penambahan apa pun. Itu yang kita create.

Orang bisa mengakses musik lewat Youtube dan platform digital lain. Artinya, potensi pembajakan bakal semakin besar. Tanggapan The Brandals seperti apa?

Sebagai musisi, jangan terpaku pada sebuah format. Membuka peluang baru. Nggak bisa selamanya khawatir apabila format digital bikin kita merugi. Kan cuma pindah format aja, dari vinyl ke kaset, CD, MP3, hingga streaming. Mau tidak mau, kita harus adaptasi. Kita sih agak ‘iri’ sama musisi sekarang, karena mereka sudah familiar dengan platform-nya. Makanya jadi musisi, tidak hanya sebatas main musik. Harus tahu teknik marketing, bisnis, dan industri.

The Brandals ada niat mengisi original soundtrack (OST) di sebuah film (lagi)?
Pasti kita punya. Target filmnya sudah ada. Tapi masih rahasia.

Harapan The Brandals untuk musik Indonesia?
Semoga musik Indonesia lebih dikenal di luar negeri, bahkan bisa menjadi barometer. Dan kita yakin itu bisa, karena hasil musisi sekarang sudah sangat keren. [GP]

SHARE