Danilla Riyadi: Tak Suka Disebut Sebagai Penyanyi - Male Indonesia
INTERVIEW
Danilla Riyadi: Tak Suka Disebut Sebagai Penyanyi
Sopan Sopian | News

Nama Danilla Jelita Poetri Riyadi atau yang lebih dikenal Danilla Riyadi kini sedang digandrungi oleh penikmati musik di Indonesia. Hal itu terbukti dari suksesnya dua album yang telah telurkannya. Keduanya menjadi album terbaik di tahun perilisannya, yakni Telisik (2014) dan Lintas Waktu (2017).


Photo: Sopian/Male Indonesia

Di tahun 2019, Danilla Jelita Poetri Riyadi atau yang lebih dikenal Danilla Riyadi sukses memukau beberapa festival musik, dua diantaranya adalah Java Jazz dan Prambanan Jazz 2019. 

Meskipun sukses manggung di dua festival musik yang bergengsi, namun menurutnya tidak ada yang berbeda. "Kurang lebihnya sama, tapi memang tidak semuanya (lagu) yang aku bawakan itu beraliran jazz," tutur Danilla itu di kantor MALE Indonesia.

Nah, selain berbicara musik, banyak hal yang diceritakan oleh pelantun "Berdistraksi" yang tidak ingin disebut sebagai penyanyi itu. 

Merokok atau "minum" katanya jadi kiat biar manggung enggak gugup?
Sebenarnya setiap manggung itu pasti grogi. Jadi aku akan bilang, sama saja ketika aku mau mandi aku harus buka baju dulu. (Artinya) sudah pasti grogi, karena kita mikirin sound, mikirin gimana caranya menampilkan yang terbaik, panggungnya baru, medannya baru, otomatis ada rasa ingin menampilkan yang terbaik sehingga jadi ekspetasi dan itu jadi grogi.

Bahkan panggung yang kecil pun masih grogi sampai sekarang. Merokok cukup membantu banget kalau misalnya lagi di panggung. Kadang aku juga kalau mau manggung harus ada salahnya. Jadi nanti kaya ada jiwa yang berbicara, jangan sampai ada salah sedikitpun.

Makanya diawal-awal itu yang bikin aku grogi itu ingin bener banget, makanya aku diawal sering aku salahin aja. Toh anak band pasti salah. jadi kadang aku bisa melampiaskannya dengan merokok, misalnya. 

Kadang merokok juga bisa mengalihkan penonton yang tegang, atau terbawa suasana dengan lagu yang melankolis atau ada yang mendengarkan ada yang enggak, ya sudahlah, sebat (sebatang) dulu deh. Ibaratnya seperti itu.

"Minum" menurut Danilla membantu tidak?
Minum juga cukup membantu, tapi kalau kebanyakan enggak, jadi kurang bijak, minumnya harus bijak. Itu membantu mengurangi pikiran-pikiran yang enggak penting sebenarnya yang tidak harus dibawa ke atas panggung.

Sering lupa lirik enggak kalau habis minum?
Enggak "minum" aja suka lupa lirik, apalagi minum. Aku sering banget lupa lirik walau enggak minum. Pernah ada cerita lupa lirik, waktu itu enggak minum, dan ada penonton yang teriak ngasih tahu kalau liriknya salah. Tapi itu justru menjadi hal yang aku suka, berarti mereka mendengarkan dan mereka tahu aku salah. 

Dari sekian banyak manggung, lebih suka manggung di mana?
Aku lebih suka manggung di bar sebenarnya. Karena bentuknya cocok aja gitu. Biasanya kan bar membawakan lagu yang sudah ada pasti, dan seneng banget ketika tiba-tiba ada yang bawain lagu tahun 50-an atau apa gitu, terkadang kita ingin mabuk dengan nuansa yang lebih melankolis. 

Selain itu, suka manggung di bar itu karena tamunya unik- unik sebetulnya. Ada yang minum ada yang apa, terus mereka mendengarkan lagu pada happy. Kitanya tidak perlu banyak kerjaan. Dan sekarang aku juga masih manggung kok di bar.

Album pertama kan sukses, mengapa di album kedua mengaku miskin?
Sebenarnya album kedua juga sukses, cuman tidak ada yang tahu aja. Soal miskin itu, karena aku tidak tinggal di rumah. Kalau album pertama waktu itu masih kuliah, kita cari duit untuk bayar kuliah dan semacamnya.

Photo: Sopian/Male Indonesia

Di album kedua, keluar dari rumah, malu untuk minta uang ke orang tua. Ego anak pasti kaya gitu ya rata-rata. Terus pengen tahu hidup di Jakarta, oh begini hidup di Jakarta. Enaknya kayak gini, enggak enaknya kaya gini.

Tapi justru di momen itu, dan banyak pengalamannya dan bisa jadi inspirasi untuk bikin album kedua ini.

Terus lagi garap album baru enggak?
Sekarang lagi enggak garap album baru, memang lagi garap satu atau dua karya, cuman sekarang lagi enak-enakin manggung dulu. 

Tapi memang sebenarnya awalnya ada target-targetnya, tapi kita skip terus. Kita banyak sekali terjadi skip dalam hidup kita, jadi terkadang sih deadline itu kita terobos. Dan timeline kita sering berantakan.

Dan kalau tahu, sebenarnya album kedua yang "Lintasan Waktu", tanggal rilis di digitalnya itu bukan tanggal itu. Waktu itu habis manggung di daerah, turun dari pesawat, pas buka Twitter ada yang bilang, "Hore album Danilla sudah ada".

Apakah punya standarisasi kepuasan ketika menulis sebuah lagu?
Sulit juga jawabnya, karena aku juga belum tahu letak standarisasi kepuasannya di mana. Karena aku juga kadang enggak merasa puas pada saat mastering, sampai akhirnya ada momen di mana apapun yang aku terima dari karya aku sendiri, aku harus terima. 

Jadi (lagu ini) seperti seorang anak yang mau jadi apapun nantinya, itu anakku dan aku sayang dia. Jadi kaya menerima kekurangan-kekuarangan lagunya itu.

Mungkin, soal standarisasi kepuasannya, aku harus berhenti mengembangkannya ketika ada satu momen di mana ketika aku dengerin (lagu) itu  aku merasa tidak ada di dunia realita. 

Lalu proses kreatif menulis lagunya seperti apa?
Di album pertama, inspirasinya banyak banget datang di jam delapan malam sampai jam empat pagi. Dan di album kedua itu malah inspirasinya datang di subuh hari. Dan entah kenapa lagunya keluar lebih gelap (senja), padahal bikinya subuh (pagi). 

Terus di lagu yang sedang dibikin, lebih gelap juga?
Enggak, malah temanya lebih beragam, intinya tentang manusia itu sendiri, tentang kehidupan itu sendiri, tentang mindset, tentang pernikahan, semuanya. 

KETAGIHAN MAIN FILM
Di tahun 2019 ini juga, Danilla Riyadi mencoba dunia baru dengan ikut berperan sebagai Nova dalam film besutan Pidi Baiq yang berjudul 'Koboy Kampus'. Film itu juga menjadi film pertamanya di dunia akting. Lalu seperti apa pengakuan wanita yang bikin gagal fokus pria ini mengenai pengalamannya bermain film?

Photo: Sopian/Male Indonesia

'Koboy Kampus' jadi film pertama seorang Danilla, bagaimana perasaannya?
Awalnya aku menutup diri, mau fokus di musik saja, enggak mau main film. Karena itu ranah yang berbeda dan lain sebagainya. 

Terus aku konsultasi sama ayahku, lalu dia bilang bahwa film juga seni. Kemudian dia juga bilang, kenapa kamu membatasi diri, karena kamu toh berkesenian juga. Terus aku diminta untuk mencoba walau aku bisanya hanya di musik saja.

Ditambah lagi ada Jason Ranti, dia juga musisi yang juga baru terjun ke dunia film. Dan sejauh ini aku mulai bisa menemukan enaknya di dunia film. Dan sebenarnya dulu aku sempet pengen jadi sutradara dan penulis waktu itu. Jadi dunianya sebenarnya tidak jauh dari lingkaran itu.

Aku juga sering bikin vidio klip sendiri, tapi aku tidak langsung jadi talent dengan segala profesionalism di dunia perfilman itu enggak pernah. Jadi, sebenarnya tidak asing, cuman yang asingnya aku harus membuat bola dunia yang baru di mana ini akan menjadi hal yang menarik.

Enak main film?
Main film enak. Kaya baca novel dan bisa mewujudkannya. Enggak tahu enak aja, mungkin karena aku suka ngayal kali ya. Terus ya udah ngayal aja di dalam sana gimana. 

Ya walau biasa aja sih aktingnya, tapi setidaknya ada satu hal yang bisa membuat aku berani, berani bertanggungjawab, berani profesional, dan berani melakukan hal baru untuk diri aku sendiri.

Ketagihan main film enggak?
Iya ketagihan, mau main film lagi, dan udah ada film baru lagi selain 'Koboy Kampus'. Tinggal tunggu tayangnya saja. Aku sudah syuting dengan aktor dan aktris.

Apa alasannya tidak ingin disebut penyanyi?
Aku malas dibilang penyanyi itu karena tanggung jawabnya besar. Apapun yang terjadi dipanggung, di mana panggungnya sangat bagus, itu menjadi tanggung jawab si penyanyinya, dan orang akan mengenang itu. 

Tapi ketika ada yang jelek, walaupun itu bukan dari segi si penyanyinya, bisa saja bandnya, tim produksi, sound-nya, atau manajernya, yang kena imbasnya pasti penyanyinya. 

Wajar buat aku, waktu itu aku beru masuk kedunia musik, aku paling benci tiba-tiba sudah diberi tanggung jawab, Danilla adalah seorang penyanyi. Dan aku tidak pernah menobatkan diri aku sebagai penyanyi, karena aku tidak memiliki teknik yang begitu spektakuler.

Maka aku langsung berpikir kalau nyanyi itu tidak perlu teknik, karena sebetulnya nyanyi itu cuman bagaimana orang menyampaikan pesan dari sebuah karya. Itu menurutku. Intinya semua itu menyampaikan pesan.

ASMARA SEORANG DANILLA RIYADI
Selain cantik, pembawaannya yang riang dan penampilannya yang cuek, membuat banyak pria pensaran akan kisah asmaranya. Banyak hal yang diakui Danilla terkait asmara, bahkan ia mengaku tidak bisa lupa dengan kisah asmaranya yang unik ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). 

Photo: Sopian/Male Indonesia

Sadar tidak kalau sosok Danilla jadi pusat perhatian pria?
Sadar. Dan itu senang. Karena semua orang pasti senang ketika mereka mengetahui bahwa mereka itu menarik. Karena menurutku, menjaga diri itu penting, ketika aku berpenampilan sesuai yang aku inginkan, dan aku menjaga diri aku kemudian ada orang yang senang dengan hal itu aku merasa sukses terhadap diri aku sendiri. Menurut aku sih itu anugerah sebetulnya.

Sosok Danilla itu idaman pria, berapa banyak yang menyatakan cinta?
Enggak ada, tapi aku tahu ada (yang suka), cuman aku tidak tahu kalau itu ternyata banyak. Kalau sampai menyatakan cinta sih, enggak. 

Tapi ada aja sih sebenernya yang menyatakan cinta. Itukan bentuk rasa suka sekali. Tapi aku cuma merasa banyak orang yang ingin ngobrol denganku, dan aku merasa banyak teman di mana-mana.

Ada cerita yang masih diingat soal pria unik yang PDKT?
Ada waktu itu masih SMP. Badan aku kan bongsor, dan ada tetangga rumah, ada pria yang usianya sekitar 30 tahun, dia mikir aku sudah SMA. Lalu dia bawain aku bunga, dan dia ngajak aku kencan.

Terus aku mikir, gila ya, aku kan masih SMP dan dia sudah 30 tahun. Lalu dia melamarku dengan halus, kaya gini, Tante kalau Danilla udah gede nanti sama saya aja ya. Terus lama-lama aku lihatnya geli, aku kan masih mau main.   

Dan dia terus kasih bunga. Jadi momen itu kalau sekarang ada pria yang ngasih bunga, aku selalu teringat dengan pria itu.  Dan aku merasa agak geli.

Tempat romantis menurut seorang Danilla?
Aku suka tebing, di situ bisa minum, ngebir bareng sambil lihat laut berdua, menurut aku itu romantis banget. Tapi kayaknya itu enggak ada di Jakarta. Kalau di Jakarta, aku lebih suka di dalam mobil, karena aku di sana bisa sambil dengerin lagu dan private banget.

Hal simpel yang bikin romatis itu misalnya kita menginap di mana, main ke rumahnya (pasangan), bangun-bangun dibikinin teh hangat. Itu adalah hal paling romantis yang pernah aku alami. 

Lebih suka berstatus atau open relationship?
Kalau bisa open relationship sih, open. Soalnya, target hidupku belum tercapai. Aku kepingin bisa stabil diri sendiri, tanpa ada intervensi orang lain. Kalau sudah bisa seperti itu, aku akan kasih ruang di kepalaku untuk all in sama orang.   

Apa yang ditakuti dalam hidup seorang Danilla?
Takut sekarat. Karena kan aku enggak tahu kehidupan setelah mati seperti apa. Kenapa sekarat? Karena di situ adalah momen kira-kira apa yang ada di kepalaku nanti, apakah nanti aku masih ingat ayah ibuku, saudara-saudaraku, terus rasanya sakitnya seperti apa, momen-momen aku akan pergi bagaimana batinnya, itulah yang sering aku pikirin.

karena sering kepikiran, jadilah sebuah lagu akan hal itu, yang judulnya 'Usang'. Ketakutan akan sekarat, bukan akan matinya. Tapi proses menuju ke kematiannya. Itu yang aku takutkan. *** (SS)

SHARE