Keprihatinan Pencipta WWW pada Pengguna Internet - Male Indonesia
Keprihatinan Pencipta WWW pada Pengguna Internet
Sopan Sopian | Digital Life

Pada awal 2019, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai sekitar 132,7 juta. Dibalik itu semua, data Kemenkominfo juga menyebutkan ada sekitar 800 ribu situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu. 

Photo: Paulrclarke/Wikipedia

Tahun sebelumnya, Dailysocial bekerja sama dengan Jakpat Mobile Survey Platform melakukan survei kepada 2.032 pengguna ponsel pintar di Indonesia mengenai sebaran hoaks. Pertanyaan juga mengenai apa yang mereka lakukan saat menerima hoaks.

Berdasarkan survei itu, hasil riset menyebutkan saluran terbanyak penyebar berita bohong atau hoaks dijumpai di media sosial. Persentasenya, yakni 82,25 persen di Facebook, 56,55 persen (WhatsApp), dan 29,48 persen (Instagram).

Penyebaran hoax tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga di belahan dunia lainnya yang memiliki atau difasilitasi internet. Maka dari itu, Techradar melaporkan bahwa, Pencipta World Wide Web (WWW) mengungkap keprihatinan terhadap kondisi ruang online saat ini. Khususnya internet yang kini digunakan untuk menyebarkan berita palsu.

Dalam agenda OpenText Enterprise World di Toronto, Tim Berners-Lee mengungemukakan kekhawatiran tentang bagaimana perusahaan, pemerintah, dan lembaga lain dapat menggunakan Internet dengan tujuan jahat untuk membuat umat manusia terpisah dan menciptakan perselisihan.

Ia mengatakan bahwa seharusnya internet dipakai untuk hal positif. "Web tidak sempurna. Kami ingin orang menggunakan web dengan cara yang positif," kata Tim Bernes-Lee.

Tim Bernes-Lee menyarankan untuk menjadi menjadi kreatif, konstruktif. Membangun komunitas yang menghormati hak-hak sipil dan martabat. "Jangan jahat, sesederhana itu," tuturnya.

Berners-Lee secara khusus membidik kekuatan situs media sosial, merujuk skandal Cambridge Analytica-Facebook dan bagaimana jejaring sosial tertentu dapat memengaruhi masyarakat secara keseluruhan.

Berita palsu yang tersebar juga dinilai membantu mempolarisasi opini di seluruh dunia, membuat orang mengklik pada cerita yang salah karena penasaran. Ia juga memperhatikan bagaimana "konsekuensi yang tidak diinginkan" dari pertumbuhan jejaring sosial mungkin membuat banyak manusia lebih dekat, tetapi juga membuat mereka semakin terpisah.

"Dunia dalam jumlah tertentu lebih buruk dan lebih terpecah berkat jaringan sosial tertentu. Ini adalah hal-hal yang tidak kita pikirkan pada tahun 1969," pungkasnya. *** (SS)

SHARE