Aglonera, Sentuhan Teknologi dalam Bisnis Agraris - Male Indonesia
Startup
Aglonera, Sentuhan Teknologi dalam Bisnis Agraris
Gading Perkasa | Works

Dunia pertanian di Indonesia relatif jarang tersentuh oleh para pelaku bisnis. Hal ini disadari betul oleh Febri Aditya. Sehingga ia memutuskan untuk membentuk platform bisnis bernama Aglonera di tahun 2017.

Aglonera Male Indonesia
Photo: Doc. Aglonera/Male Indonesia

“Sejak dulu saya berbisnis di trading pertanian. Namun saya hanya sebagai penghubung antara buyer dan producer. Di sana saya mengamati, harga hingga di buyer sangat tinggi, lalu saya berhenti dan mendirikan Aglonera,” kata Febri selaku CEO Aglonera kepada MALE Indonesia.

“Tadinya, Aglonera adalah marketplace pertanian, tapi gagal. Karena ada bagian yang belum tersentuh teknologi, contohnya petani. Alhasil, platform yang kami sediakan tidak berfungsi semestinya.”

Di akhir 2018, ia mengubah target pasar dan model bisnis Aglonera. Sebab, ada bagian penting yang menurutnya harus ditingkatkan levelnya lewat sentuhan teknologi.

“UKM di bidang pangan contohnya. Mereka menjalankan bisnis hampir 24 jam dan harus berbelanja kebutuhan bisnis mereka dari jam 4 - 6 pagi, harga yang mereka dapatkan sangat tinggi. Oleh sebab itu, kami memutuskan untuk pivot dan mengganti arah model bisnis kami,” ujar dia.

Dengan jumlah karyawan sebanyak 7 orang, Febri mengaku masih banyak kendala yang ia temukan. Khususnya terkait stok produk dan proses distribusi.

“Produk yang dihasilkan petani sangat beragam dan tidak selalu tersedia. Itu menjadi tantangan kami untuk bekerja sama membangun kemitraan dengan petani agar memenuhi kebutuhan pasar. Selain itu, kami juga tidak berhenti mengedukasi pelaku UKM yang sulit beradaptasi dengan teknologi.”

Photo: Doc. Aglonera/Male Indonesia 

“Kami sedang melakukan market validation, menguji apakah produk kami diterima nantinya. Kira-kira membutuhkan waktu 1 - 2 bulan lagi, sehingga target kami merilis produk pada September 2019 mendatang,” tutur Febri.

Menanggapi adanya pesaing yang memiliki model bisnis serupa dengan Aglonera, ia mengatakan bahwa hal itu sangat wajar terjadi di dunia bisnis.

“Sebenarnya di bidang pertanian banyak pesaingnya dan yang menyasar pasar kami juga ada beberapa. Namun keunggulan kami adalah sistem kemitraan dengan UKM, caranya memberi edukasi dan workshop serta bisnis model yang menekankan pada berlangganan.”

Rencana lima tahun ke depan, Febri berharap agar Aglonera bisa berkembang lebih baik dan memiliki jumlah pelanggan mencapai 50.000 orang di beberapa daerah di Indonesia. “Selain itu juga peningkatan income dan gaji karyawan,” ucapnya.

Aglonera di LampungPhoto: Doc. Aglonera/Male Indonesia

Banyak pihak menilai, 90 % startup di Indonesia gagal berkembang. Menurutnya, hal itu disebabkan kurangnya proses riset yang baik dan tidak menekankan pada kebutuhan konsumen.

“Kami sedang berjuang untuk keluar dari jurang tersebut. Strategi yang tepat menurut saya, pahami terlebih dulu produk dan siapa konsumennya. Tim juga menjadi kunci. Berani ambil risiko dan realistis terhadap bisnis yang ingin dilakukan. Jangan gampang baper, dan segala pintu kemungkinan bisa terbuka,” kata Febri. [GP]

SHARE