Kadar Kolesterol Rendah Juga Berbahaya Bagi Tubuh - Male Indonesia
Kadar Kolesterol Rendah Juga Berbahaya Bagi Tubuh
Gading Perkasa | Sex & Health

Kolesterol jahat atau LDL (Low density lipoprotein) selama ini dianggap berbahaya jika berada di tingkat yang tinggi. Namun, dari studi terbaru ditemukan bahwa kadar kolesterol terlalu rendah juga mengancam kesehatan tubuh. Apa pasal?

penyakit kolesterol - male IndonesiaPhoto by rawpixel.com from Pexels

Studi menyebutkan, kadar kolesterol jahat terlalu tinggi meningkatkan risiko serangan jantung dan kematian akibat masalah kardiovaskular. Sementara kolesterol terlalu rendah berpotensi memicu stroke hemoragik atau pendarahan.

Mengutip dari Medical News Today, studi yang dimuat ke dalam jurnal Neurology ini meneliti sebanyak 96.043 peserta yang tidak memiliki riwayat stroke, serangan jantung, serta kanker.

Selama sembilan tahun, para ilmuwan mengukur kadar kolesterol LDL di awal dan penghujung tahun. Mereka juga memasukkan faktor lain seperti usia, jenis kelamin, tekanan darah, serta obat-obatan. Selama masa studi, ditemukan sebanyak 753 kasus stroke hemoragik.

Seperti dilansir dari Live Science, para peneliti menemukan bahwa orang dengan kadar kolesterol LDL di bawah 70 mg/dL, 65 % lebih berisiko terkena stroke hemoragik selama periode penelitian. Sementara, peserta dengan kadar LDL di bawah 50 mg/dL, risiko meningkat hingga dua kali lipat.

Tidak boleh terlalu tinggi atau rendah
Xiang Gao, kepala dari Nutritional Epidemiology Lab di Pennsylvania State University, Amerika Serikat mengatakan, temuan ini menunjukkan pentingnya keseimbangan kolesterol.

“Seperti halnya dengan banyak hal terkait nutrisi, moderasi dan keseimbangan adalah kunci untuk menentukan target tingkat kolesterol LDL yang optimal. Anda tidak boleh ekstrem, terlalu tinggi atau rendah,” kata Gao.

Di samping itu, ia juga mengingatkan bagi orang-orang yang memiliki risiko stroke hemoragik karena riwayat keluarga, serta faktor risiko lain seperti tekanan darah tinggi dan konsumsi alkohol. Temuan ini, kata Gao, tampaknya berguna untuk target pengobatan di masa depan.

Namun, penulis juga menyebut bahwa temuan kasus stroke terjadi pada kurang dari 1 % peserta. Mereka menambahkan, penerapan tersebut terdengar sulit karena setiap negara memiliki kondisi yang berbeda.

Satu hal lagi dari studi ini yaitu tidak ada perhitungan dari kebiasaan pola makan para partisipan yang dapat dipertimbangkan untuk studi di masa mendatang. [GP]

SHARE