Memahami Wanita yang Memiliki Kecanduan Seks - Male Indonesia
Memahami Wanita yang Memiliki Kecanduan Seks
Sopan Sopian | Sex & Health

Sejak dimulainya peradaban manusia, berhubungan seks tak lagi dilihat hanya sebagai cara menghasilkan keturunan. Evolusi membuktikan bahwa manusia menikmati seks sebagai suatu bentuk rekreasi dan ekspresi kasih sayang. 

kecanduan seks - male indonesia
Image by N-Y-C from Pixabay

Kegiatan memadu kasih di atas ranjang ini, kerap membuat seseorang ketagihan dan bukan hanya pria, kecanduan seks ternyata bisa juga dialami oleh wanita. Lalu bagaimana wanita bisa kencanduan seks? Hal pertama adalah ketika pria atau perempuan, mulai menggunakan seks untuk mengatasi emosi negatif.

Rasanya enak dan melepas kimia otak yang meredam zat kimia lain yang menyebabkan seseorang merasa buruk. Seorang pria mungkin puas dengan hubungan seks fisik, tapi wanita cenderung untuk mengejar kenyamanan emosional tertinggi yang bisa didapat di awal hubungan.

Artinya, pria saat memperlakukan wanita dalam hubungan seksual, jangan membuat egosentris diri. Buatlah si dia nyaman secara emosionalnya sehingga ia nyaman saat melakukan hubungan intim itu.

Jika tidak terjadi kenyamanan, wanita akan cenderung pergi dari satu pasangan ke yang lain untuk mencari kenyamanan, meninggalkan hubungan sebelumnya ketika kenyamanan habis, seperti dikutip dari in style.

Seiring siklus berlangsung, wanita akan sering masuk ke hubungan ini pada frekuensi yang lebih besar dan mengekspresikan semangat yang lebih besar dan lebih besar di awal. Selain kenyamanan, wanita memiliki kemungkinan menggunakan seks fisik untuk mengamankan hubungan, mengabaikan bahaya kehamilan yang tidak diinginkan, atau penyakit menular seksual. 

Selain itu, disebut nymphomania, wanita bisa kecanduan seks disebabkan sepenuhnya oleh faktor psikis. Salah satunya berakar pada penyimpangan sewaktu usia balita sampai remaja, semisal menyaksikan bagaimana ibunya kerap dipukuli atau disiksa ayahnya. 

Berbekal pengalaman buruk inilah, semasa dewasa ia merasa butuh pendamping yang berbeda atau lebih baik dari ayahnya. Namun dalam pencarian itu, ia tak bisa menemukan nilai-nilai kebaikan pada satu orang, hingga bergaullah ia dengan banyak orang untuk mencari dan terus mencari orang yang dirasa pas

Padahal, pria yang diidamkan takkan pernah kunjung datang. Bukankah untuk menemukan orang yang sama persis atau malah bertolak belakang sungguh tak mudah? Selalu akan ada saja satu atau dua pria yang memenuhi kriteria fisik, tapi kepribadiannya meragukan. Atau secara aspek kepribadian cocok, tapi aspek lain tak cocok. 

Ketidakcocokan ini menimbulkan sederet ketidakpuasan yang mendorongnya mencari dan terus mencari, hingga akhirnya membentuk semacam kebiasaan pada tubuh.

Celakanya, kalau ia sudah terpengaruh atau minimal mengenal hubungan seks, kebiasaannya untuk berganti-ganti pasangan makin membuatnya nyandu atau ketagihan seks. Sama halnya dengan kebiasaan merokok yang bisa menyebabkan ketagihan. Bukan semata-mata karena nikotin, melainkan pola kebiasaan itu sendiri. 

Bisa pula hubungan seks ini dipakai sebagai senjata untuk "memancing" pria yang semula dianggapnya sebagai pria idaman. Hingga bisa dikatakan, dorongan seks yang berlebihan sebetulnya merupakan pemuasan kejiwaan belaka. *** (SS)

SHARE