Aplikasi Pembersih Palsu untuk PC Marak Beredar - Male Indonesia
Aplikasi Pembersih Palsu untuk PC Marak Beredar
Gading Perkasa | Digital Life

Belum lama ini Kaspersky Lab menyatakan, hampir 1,5 juta orang di paruh pertama 2019 terkena penipuan melalui aplikasi pembersih palsu pada perangkat komputer.

aplikasi pembersih - male IndonesiaGambar oleh TheDigitalWay dari Pixabay

Angka itu meningkat sebanyak dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018 dengan jumlah 747.322 kasus.

Seperti telah diketahui, aplikasi pembersih merupakan solusi untuk masalah komputer yang lambat atau memiliki kinerja buruk. Ada banyak alat maupun aplikasi guna memecahkan masalah tersebut.

Meski demikian, tak sedikit pula aplikasi palsu yang dikembangkan untuk meyakinkan pengguna bahwa komputer mereka berada dalam kondisi kritis. Kondisi tersebut seperti komputer yang kelebihan memori sehingga harus segera dibersihkan.

Pelaku kemudian menawarkan layanan berupa alat pembersihan berbayar. Kaspersky mendefinisikan aplikasi itu sebagai hoax system cleaners.

 
 

“Kami telah menyaksikan bagaimana fenomena hoax cleaners telah berkembang selama beberapa tahun terakhir, dan ini merupakan ancaman yang aneh,” kata Artemiy Ovchinnikov, peneliti keamanan di Kaspersky Lab, dalam keterangan resmi Kaspersky.

Usai menerima izin dan pembayaran dari pengguna, pelaku memasang sebuah program palsu yang diklaim bisa membersihkan komputer. Namun yang terjadi adalah, program tidak dapat berbuat apa pun, bahkan aplikasi juga menginstal adware.

Kaspersky menyebut, aplikasi pembersih palsu kerap memberikan notifikasi tidak penting hingga terpaan iklan di komputer.

Seiring meningkatnya penipuan, ada banyak pelaku yang juga menggunakan pemasang pembersih palsu untuk mengunduh atau menyamarkan malware seperti Trojan atau ransomware.

“Di satu sisi, banyak sampel yang kami lihat menyebar lebih luas dan lebih mengancam. Berkembang dari skema penipuan sederhana menjadi malware yang berfungsi sepenuhnya dan berbahaya,” tutur Ovchinnikov.

Ovchinnikov melanjutkan, penipuan melalui alat pembersih ini sangat marak dan tampak tidak merugikan. Oleh karena itu, para pelaku memandang penipuan lebih efektif dalam menguras uang korban ketimbang menggunakan malware.

Negara-negara yang terkena dampak serangan dengan pembersih palsu pada paruh pertama 2019 menunjukkan seberapa luas ancaman tersebut. Jepang berada di peringkat pertama (12 % pengguna terdampak), disusul oleh Jerman (10 %), Belarus (10 %), Italia (10 %), dan Brasil (9 %).

Peneliti Kaspersky memberikan beberapa tips agar pengguna terhindar dari penipuan aplikasi pembersih palsu. Pertama, disarankan selalu memeriksa layanan PC yang akan dipakai adalah sah dan mudah dipahami.

Jika terlalu membingungkan, pakai mesin pencari untuk menelusuri informasi lebih lanjut mengenai suatu layanan agar memperoleh penjelasan lebih rinci.

Terakhir, jika Anda berniat memakai pembersih PC, cari sumber informasi yang bisa diandalkan atau mendapat rekomendasi dari ahli IT dengan reputasi dan ulasan meyakinkan. [GP]

SHARE