Obat Perkasa Pria yang Tidak Sengaja Tercipta - Male Indonesia
Obat Perkasa Pria yang Tidak Sengaja Tercipta
Gading Perkasa | Story

Gejala disfungsi ereksi adalah momok bagi kaum adam. Tak heran, mereka mencoba mengonsumsi makanan atau minuman khusus agar tetap prima.


Photo: Tim Reckmann/flickr

Berbagai obat diciptakan, namun sulit mendapatkan legalitas untuk dijual bebas. Setelah perjuangan panjang, akhirnya upaya pihak farmasi mendapatkan titik terang.

Pada 27 Maret 1998, obat kuat viagra mendapatkan legalitas dan penggunaannya dibolehkan di Amerika Serikat (AS).

Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) di AS menyetujui penggunaan viagra untuk mengobati gangguan disfungsi ereksi. Legalitas ini menjadi era baru bagi tiap pria di dunia.

Secara umum, Viagra bekerja secara efektif pada pria yang mengeluhkan disfungsi ereksi hingga 65 sampai 70 %.

Ditemukan Secara Tidak Sengaja
Obat ini mulai diteliti pada 1989. Kala itu, para ilmuwan merilis obat yang disebut Sildenafil, berbentuk pil kecil berwarna biru muda.

Mengutip dari History, ilmuwan perusahaan farmasi Pfizer Inggris, Peter Dunn dan Albert Wood, menciptakan obat yang mereka yakini berguna mengobati tekanan darah tinggi dan angina --sakit dada karena penyakit jantung koroner.

Obat ini diklasifikasikan sebagai UK-92480. Namun, ahli kimia di perusahaan farmasi Pfizer menemukan bahwa obat itu hanya sedikit berpengaruh pada angina.

Peneliti justru menemukan, obat tersebut membantu memperlancar aliran darah ke organ vital pria dan memicu ereksi dalam waktu 30 - 60 menit. Hal ini tentu memudahkan pria ereksi dan mempertahankannya lebih lama.

Melihat peluang ekonomi dalam efek biokimiawi seperti itu, Pfizer memutuskan memasarkan obat untuk impotensi usai penelitian lebih lanjut.

Di tahun 1996, Pfizer mematenkan Sildenafil. Dua tahun kemudian, FDA melegalkan dan menyetujui penggunaan viagra. Waktu yang sangat singkat dibandingkan obat-obat lainnya untuk mendapatkan lisensi.

Viagra langsung meraih kesuksesan. Penjualannya meningkat pada tahun pertama. Perusahaan mendapatkan 1 miliar USD dalam penjualan.

Dampak viagra pada industri farmasi dan medis serta kesadaran publik juga sangat besar. Meskipun hanya tersedia dengan resep dokter, viagra dipasarkan di televisi. Bahkan, obat ini disebut-sebut calon presiden Bob Dole yang ketika itu berusia 70 tahun.

Pemasaran langsung ke konsumen praktis belum pernah terjadi untuk obat resep. Obat ini ditawarkan melalui internet dan pelanggan hanya perlu mengisi konsultasi online guna menerima sampel.

The Washington Post melaporkan bahwa CIA menggunakan Viagra untuk mendapatkan ‘teman’ di Afghanistan, sehingga operasi mereka berjalan lancar.

Pada era 2000-an, pesaing Viagra muncul, di antaranya Cialis (tadalafil) milik perusahaan Lilly USA dan Levitra (vardenafil) milik perusahaan Bayer. [GP]

SHARE