Dark Tourism, Tren Berwisata ke Lokasi Bencana - Male Indonesia
Dark Tourism, Tren Berwisata ke Lokasi Bencana
Gading Perkasa | Relax

Belum lama berita mengenai turis yang mengunjungi bekas lokasi bencana nuklir Chernobyl di Ukraina sedang ramai dibicarakan. Salah satu yang menjadi sorotan karena mereka mendatangi Chernobyl hanya demi mengambil foto selfie.


Photo: wikimedia commons

Akibatnya, netizen beranggapan jika ulah para turis itu sudah keterlaluan dan tidak menghormati tragedi yang terjadi.

Walau begitu, fenomena turis berkunjung ke bekas lokasi bencana atau tragedi ternyata bukan hal baru. Seperti dilansir dari Suara, fenomena ini dikenal dengan sebutan dark tourism dan mengacu pada kegemaran orang-orang mendatangi lokasi seperti kamp konsentrasi Nazi hingga 9/11 Memorial and Museum.

Istilah dark tourism sendiri pertama kali muncul pada tahun 1990-an. Sebutan lainnya thanatourism, diambil dari bahasa Yunani, thanatos atau kematian. Sehingga, dark tourism dideskripsikan sebagai aktivitas wisata yang memiliki asosiasi dengan kehancuran dan kematian.

Menariknya, tren dark tourism sudah ada ketika orang-orang ramai berkunjung ke kota Pompeii di Roma yang hancur akibat bencana gunung berapi.

 
 

Lalu, ada pula Colosseum di Roma yang senantiasa didatangi turis, padahal dulunya merupakan tempat bertarung para gladiator hingga mati.

“Tidak seperti yang terlihat, ini bukan tren wisata baru,” ujar Peter Hohenhaus, salah satu turis yang sering melakukan dark tourism.

Menanggapi minat wisatawan terhadap dark tourism yang sudah lama eksis, seorang pakar dari Althone Institute of Technology di Irlandia pun menjelaskan motivasi mereka. Disebutkan, beberapa turis mungkin hanya kebetulan berkunjung karena penasaran. Ada yang datang karena memang memiliki minat sejarah.

Walau begitu, tidak dapat dimungkiri jika orang mendatangi tempat wisata macam ini untuk bersenang-senang dan berniat lain. Hanya saja hal itu tidak sering terjadi.

“Biasanya para pengunjung mempelajari sejarah gelap bekas lokasi bencana, juga sebagai refleksi tentang apa yang salah di masa lalu dan nilai untuk mereka pelajari agar tidak terulang di masa depan,” ucap pakar dari Althone Institute of Technology.

Melihat banyaknya turis yang datang demi selfie dan bersikap kurang pantas, para pakar dari Althone Institute of Technology menyarankan supaya turis memikirkan niat mereka sebelum berangkat.

“Sebelum datang ke lokasi yang berasosiasi dengan kematian dan tragedi, penting memikirkan niat Anda. Apa Anda datang untuk menghormati dan memahami, atau mengambil selfie?” [GP]

SHARE