Ainun Najib: 2019 KawalPemilu Tak Diserang Hacker - Male Indonesia
INTERVIEW
Ainun Najib: 2019 KawalPemilu Tak Diserang Hacker
Sopan Sopian | Digital Life

Nama Ainun Najib mulai dikenal sejak dirinya membangun situs Kawalpemilu.org (Kawal Pemilu) pada 2014 lalu. Kawal Pemilu sendiri merupakan situs crowdsourcing digitalisasi dan penghitungan hasil pemilihan presiden 2014 dan dilanjutkan hingga pemilihan presiden 2019.

Ainun mengaku bahwa, Kawal Pemilu bukanlah pekerjaan utama dirinya. Ia justru bekerja di sebuah startup yang bergerak di bidang transportasi sebagai praktisi data, seperti data analytics, artificial intelligence, dan motion learning. "Di luar itu (Kawal Pemilu), saya sehari-hari bekerja di startup," tuturnya.

Di temui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, banyak hal yang diceritakan Ainun Najin terkait Kawal Pemilu dan perkembangan teknologi di Indonesia. Seperti apa cerita yang ia paparkan, berikut ini petikan wawancara khusus MALE Indonesia bersama Ainun Najib.

Bicara Kawal Pemilu, pada Pilpres 2014 banyak hacker yang ingin membobol situs Anda itu, lalu bagaimana pada 2019 kemarin, apakah terhadi hal yang sama?
Di tahun 2019 malah tidak ada hacker. Kalau saya boleh menebak, mungkin hal itu sudah terjadi di 2014. Jadi mereka sudah mengantisipasinya, di mana orang-orang yang tidak suka dengan Kawal Pemilu, menyerang dengan cara lain. Mungkin (cara hacker) bukan teknik yang tepat. 

Tetapi, di 2019 serangnya lebih pada penyebaran hoax, misalnya ini (bahwa di Kawal Pemilu) datanya palsu, datanya simulasi, atau banyak hacker di belakang itu semua. 

Apa yang melatarbelakangi Anda membangun Kawal Pemilu? Apalagi Anda waktu itu Anda berada di Singapura.
Saya sudah tinggal di Singapura 16 tahun. Jadi saya ini warga Indonesia yang rindu dengan kampung halaman, dan saya melihat kampung halaman ini sedang bahaya adanya perpecahan. 

Dari luar, saya melihatnya prihatin. Saya yang sedang berada jauh, saya tidak mau rumah saya dirusak atau pecah. Itu sih motivasi yang mendasari kami bergerak membangun Kawal Pemilu pada 2014 dan dilanjutkan di 2019. 

Lalu apa tujuannya?
Tujuan akhirnya ingin menjaga stabilitas, menjaga persatuan, mencegah perpecahan Bangsa Indonesia dari polarisasi yang sudah terlihat, bahkan sebelum (pemilu) 2014. Karena saking panasnya kampanye, terus menerus sampai sekarang 2019, bahkan setelah pemilu 2019.

Berapa biaya membangun Kawal Pemilu pada 2014?
Iya, pada 2014 biayanya sekitar Rp 600 ribuan. Di 2019 ini Rp 24 juta. Bedanya, karena pada 2014 sistemnya sangat sederhana. Download scan C1 KPU (Komisi Pemilihan Umum), kalau sekarang Situng. 

Di 2019 ini, karena kita tahu bahwa KPU sudah bikin Situng sendiri, sebagaimana Pilkada sebelum inikan KPU juga sudah mempublikasikan angkanya secara real time, real count-nya dipublikasikan. Jadi kita berpikir, kalau masih sama seperti 2014 lalu, ya tidak perlu. Kalau mau bikin harus bikin yang berbeda.

Akhirnya, di 2019 ini kita bikin sistem di mana semua orang siapapun itu, bisa meng-upload foto hasil dari TPS lalu di-upload ke Kawalpemilu.org. Nah, karena ada proses download, upload, data transfer, dan sebagainya, jadilah ongkos. Secara sistem ongkos bertambah.

Dan setelah kita buka data biayanya, temen-temen dari IT itu melihat bahwa biaya yang cuma Rp 24 juta ini ternyata murah sekali. Jika dibandingkan dengan anggaran situng memang murah sekali. Mungkin bisa miliaran rupiah kalau sistem-sistem yang lain. 

Pakai biaya sendiri atau ada yang membiayai?
Dari 2014 sampai 2019 juga biaya sendiri. Kita ingin transparansi, jadi kita tidak ingin ada anggapan bahwa ada kepentingan golongan di dalamnya. Jadi kita bikin semurah mungkin di awal (2014), kemudian kita melakukan crowdfunding (pada 2019). Terus kita buka ke publik semua anggaran yang digunakan Kawalpemilu.org ini.

Pernah ada ancaman dari pihak tertentu?
Ancaman sih tidak ada. Tapi pada 2014 saya sedikit agak parno, soalnya ada orang yang tahu alamat saya, terus menghubungi saya lewat pesan singkat seperti "Ayo kita ketemuan di Singapura."

Saya jadi ngeri-ngeri sendiri. Sampai nyari tahu alamat saya segala macam. Tapi ternyata itu bukan apa-apa, sempet agak parno sedikitlah. 

Awalnya yang membangun Kawal Pemilu ini lima orang, sekarang berapa orang di dalamnya?
Iya, kita sebutnya Pandawa Lima. Tapi itu lebih ke tim teknologinya pada waktu 2014. Kalau untuk yang sekarang di 2019, banyak yang meminta ikut untuk gabung, baik itu temen-teman teknologi ataupun non-teknis di keteknologian (relawan).

Jadi banyak sekali sebelum di 2019 ini yang mau gabung. Terus saya masukin saja di Facebook Chat dan di Facebook Group. Setelah berjalan, banyak macam-macam karya dihasilkan oleh teman-teman. Seperti ada yang bikin visualisasi, ada yang bikin perbandingan dari hasil Kawal Pemilu, hasil dari Situng, dan dari hasil-hasil yang lain.

Bicara hal lain, setelah lulus kuliah di Singapura, mengapa Anda memilih menetap dan bekerja di Singapura?
Waktu itu rezekinya di Singapura. Setelah lulus saya langsung bekerja tiga tahun, kemudian keterusan. Ya terdamparlah. Kemudian menikah, membangun keluarga. 

Jarang lulusan madrasah yang kemudian muncul ke publik sebagai ahli teknologi dalam bidang data. Apa yang melatarbelakangi Anda untuk tertarik dalam bidang tersebut?
Saya memang minatnya di eksakta, seperti matematika, teknologi itu sendiri, terus iseng pakai "komputer jangkrik" waktu SMP. Saya tertarik, setelah lulus SMA ada peluang untuk kuliah teknik komputer itu. 

Barulah saya terjerumus ke bidang teknologi ini, dan bersyukur. Selain sesuai dengan minat, juga teknologi sangat diperlukan di era sekarang. Jadi berguna sekali.

Ada publik figur yang menginspirasi Anda?
Jika dicarikan publik figur, mungkin Pak Habibie (B.J. Habibie) ya. Saya sejak kecil mengagumi Pak Habibie karena sama-sama kecil. Mungkin itu ya kalau dicarikan figurnya, tapi selain itu karena memang minat saya terjun ke bidang eksakta ini.

Dari pandangan Anda, perkembangan teknologi di Indonesia seperti apa?
Sangat pesat. Anak-anak muda Indonesia luar biasa. Kita bisa lihat sendiri banyak startup-startup teknologi yang bermunculan dan sudah berkompetisi di level dunia. Tapi yang paling mendasar adalah bukan seperti apa anak muda Indonesia dan perkembangan teknologinya itu sendiri, tetapi masalah apa yang mau kita pecahkan. Masalah bangsa apa yang mau kita pecahkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia terutama.

Disitulah sering kali kita dapati bahwa teknologi company yang sukses adalah yang bisa memecahkan masalah-masalah itu. Misalnya tempat saya bekerja, bisa memecahkan masalah transportasi, memacahkan masalah kemacetan, dan membantu memberikan alternatif penghasilan untuk kalangan bawah. Inikan sebuah dampak sosial yang besar. Nah itulah yang lebih penting.

Bicara teknologi yang pesat, masyarakat Indonesia ini siap menerima hal itu atau seperti apa menurut Anda?
Saya melihat justru kita termasuk yang cepat. Cepat menelan teknologi. Definisi siap ini apa, kalau siap tidak bisa memakai, kita siap sekali. 

Tetapi kalau siap ini menggunakannya untuk yang bermanfaat dan baik, itu mungkin kita masih banyak pekerjaan rumah (PR). Misalnya sosial media yang masih digunakan untuk saling mencerca, atau apliaksi chatting yang dipergunakan untuk penyebaran hoax, jadi menurut saya berarti itu tidak siap.

Apa impian terbesar Anda di bidang teknologi?
Kembali ke problem. Saya merasa problem terbesar di Indonesia untuk segera dipecahkan itu kualitas pendidikan untuk anak-anak usia sekolah. Karena di era teknologi informasi, era knowledge, era informasi ini, ketangguhan ketahanan Nasional terletak di kualitas generasi mudanya. Itu dimulai dari pendidikan.

Jadi menurut saya inilah problem yang segera dipecahkan bersama. Baik dengan teknologi ataupun tidak dengan teknologi. Harapan saya bisa memecahkan bersama kualitas anak muda Indonesia terutama pada pendidikannya, karakternya, serta kemandiriannya.  

Dibalik kecerdasan Anda di bidang teknologi, apa hobi Anda?
Menggunakan anak-anak saya untuk menjadi alasan untuk bisa main, seperti main lego, main robotik, dan lain sebagainya. 

Waktu Anda kecil termasuk anak yang kutubuku?
Iya, saya temasuk anak yang kutu buku waktu kecil. Saya termasuk penggemar majalah Bobo. Dan hobi saya waktu itu naik sepeda ke kecamatan, ke pasar, pergi ke toko buku, nebeng baca seharian, enggak beli.  

Bekerja di bidang teknologi tentu banyak duduk, apakah Anda rajin berolahraga untuk menjaga kesehatan?
Saya sesekali berdiri ketika menggunakan tablet, ponsel, atau komputer ketika bekerja. Tetapi memang saya belum melakukan kebiasaan baik ini, olahraga. Sayang sekali memang. 

Terakhir, Anda bekerja di startup, apakah Anda ada keinginan untuk membangun startup di Indonesia?
Balik lagi, problem apa yang mau kita pecahkan. Nah, untuk memecahkan problem itu solusi apa yang tepat. Apakah bikin startup, apakah bikin sistem seperti Kawal Pemilu, atau ikut startup yang sudah ada, itukan sebuah solusi juga. Jadi banyak pilihan.

Tetapi kalau secara spesifik, ingin juga ya. Cuman itu, perlu dua hal yang harus saya temukan. Pertama, problem apa yang lebih penting untuk saya pecahkan sehingga saya harus membuat startup sendiri. Dan kedua, apakah saya orang yang memang layak untuk membangun solusi untuk memecahkan masalah ini. Itu yang harus saya temukan dulu sebelum masuk ke sana (startup).

Jadi dulu sekali, saya sangat konsentrasi sekali dengan sistem donasi untuk membantu orang-orang yang mebutuhkan (duafa). Dulu mau bikin seperti itu. Tapi sekarang saya bukan orang yang tepat untuk memecahkan masalah itu, karena sudah ada platform seperti Kitabisa. Jadi mindset saya ya sudah kita bantu itu untuk lebih sukses lagi. Tidak harus saya bikin sendiri. *** (SS) 

SHARE