Presiden Mesir Pertama yang Menang Secara Mutlak - Male Indonesia
Presiden Mesir Pertama yang Menang Secara Mutlak
Gading Perkasa | Story

Pada 23 Juni 1956, Gamal Abdel Nasser mencatatkan sejarah. Dia terpilih sebagai presiden Mesir untuk masa jabatan kedua.


Photo: wikimedia commons

Sebanyak 99,95 % pemilih Mesir menandai surat suara mereka pada Gamal Abdel Nasser. Ia pun menjadi satu-satunya kandidat presiden Mesir dalam pemungutan suara.

Dalam pemungutan yang sama, konstitusi baru Nasser, dimana Mesir menjadi negara sosialis satu partai dengan Islam sebagai agama resmi, disetujui oleh 99,8 % pemilih.

Pria kelahiran Iskandariyah atau Alexandria tahun 1918 itu menjabat presiden usai menggulingkan presiden sebelumnya, Jenderal Muhammad Naguib.

Seperti dilansir dari History, Nasser adalah presiden kedua Mesir. Namun sejatinya ia presiden pertama dengan sistem pemerintahan Republik. Sebagai catatan, sebelumnya Mesir dikendalikan pemerintahan monarki yang digulingkan pada 1952 dalam kudeta militer.

Ketika remaja, ia adalah aktivis yang terus membela hak-hak rakyat melawan pendudukan Inggris. Nasser sempat menimba ilmu di sekolah hukum dan masuk pendidikan tentara di Royal Military Academy.

Menginjak tahun 1938, dia diangkat sebagai Letnan Jenderal dan memimpin pasukan Mesir dalam pertempuran di Sudan ketika Perang Dunia II. Serta memimpin tentara pada perang Israel dan Arab Saudi di tahun 1948. Kiprahnya di dunia militer cukup cemerlang.

Memimpin penggulingan

Pada 23 Juli 1952, Nasser memimpin aksi penggulingan rezim Raja Farouk. Kemudian ia bersama petinggi militer Mohammad Naguib membentuk pemerintahan baru di bawah payung Dewan Komando Revolusi. Mohammad Naguib memproklamirkan diri sebagai Perdana Menteri Mesir.

Dua tahun berselang, ia mengambil alih pimpinan negara tersebut dan menetapkan Mesir sebagai negara Republik Arab Sosialis. Atas aspirasi rakyat dan hasil pemilu, Nasser terpilih menjadi pemimpin dengan konstitusi baru sebagai negara republik.

Satu bulan pasca terpilih dalam pemilu, Nasser menghadapi krisis politik internasional. Lantaran ia menjalin perjanjian senjata dengan Uni Soviet, Amerika Serikat dan Inggris memutuskan untuk mengambil kekuasaan pembiayaan bendungan Sungai Nil.

Nasser kemudian menanggapinya dengan mengambil alih kanal Suez yang sebelumnya dikuasai Inggris dan Prancis. Jalur ini akan dikenai pajak oleh Mesir kepada yang melintas.

Sebagai konsekuensi atas kebijakan Nasser tersebut, pada Oktober 1956, Israel, Inggris dan Prancis menyerang Mesir. Mesir dibantu oleh Uni Soviet berhasil memukul mundur pasukan zionis dan negara Eropa tersebut. Terusan Suez akhirnya ditinggalkan asing, dan dimiliki penuh oleh Mesir. [GP]

SHARE