Memacu Adrenalin dengan Offroad Bersama Jurnalis - Male Indonesia
Memacu Adrenalin dengan Offroad Bersama Jurnalis
MALE ID | Sport & Hobby

Membicarakan mobil jip, banyak orang menganggapnya sebagai hobi yang cukup memacu adrenalin dan menguras energi. Di berbagai dunia, khususnya di tanah air, mereka yang tergabung dalam komunitas jip rata-rata merupakan pejabat atau publik figur.


Photo: Jurnalis 4x4

Lantas, bagaimana jika komunitas jip berisikan orang-orang yang berprofesi sebagai jurnalis? Pastinya aktivitas menempuh medan terjal bakal semakin seru. Hal itu sangat dirasakan oleh Joko Josh bersama komunitas Jurnalis 4x4.

“Komunitas Jurnalis 4x4 lahir karena tingginya minat para jurnalis terhadap mobil jip. Dibentuk oleh empat jurnalis, yaitu Firman Wibowo (Bisnis Indonesia), Prastra Dewangga dan Adi Widyarta (Metro TV), dan Tommy (Reuters),” kata Joko, Group Head News & Production Support JakTV sekaligus Ketua Jurnalis 4x4.

“Di tahun 2008, mereka berempat berangkat offroad ke daerah Cikidang. Dari situ, mereka mencetuskan ide untuk membuat wadah komunitas ini. Akhirnya, 8 Oktober 2008, komunitas Jurnalis 4x4 lahir, bertepatan dengan kegiatan bakti sosial di daerah Hambalang.”

Menurutnya, pada awal pendirian Jurnalis 4x4, jumlah anggota sekitar 20 orang. Rata-rata bekerja di industri media, baik nasional dan beberapa media internasional seperti Reuters, AFP, dan BBC. Saat ini, terdapat sekitar 40 orang anggota aktif, berpusat di Jakarta.

“Di komunitas kami, orang-orangnya juga berasal dari komunitas lain. Contohnya Prastra, dari Suzuki Jeep Indonesia. Tommy dari Willys, terus Ratman (Sindo) itu dari American Jeep. Mereka ada di Jurnalis 4x4 karena sama-sama satu profesi,” ujar Joko.

Satu hal yang cukup menarik di komunitas ini, yaitu tidak adanya pembatasan untuk menggunakan mobil jip dari brand tertentu. “Semua varian mobil bebas. Di sini ada yang memakai CJ 7, Cherokee, Daihatsu Taft, FJ, intinya yang 4-wheel drive,” ujarnya lagi.

Joko mengatakan, dengan profesi para anggota komunitas sebagai jurnalis, agak sulit mengadakan kopdar secara rutin.

Offroad - male Indonesia

“Pernah suatu waktu kita sudah membuat agenda pergi kemping ke Gunung Bunder, Bogor. Tiba-tiba ada bom di daerah. Salah satu jurnalis kita ditugaskan melakukan peliputan. Akhirnya batal. Kira-kira itu suka-dukanya,” ucapnya ramah.

“Paling jauh, kita berangkat bareng ke Cianjur. Kalau sampai ke luar dari Pulau Jawa sih belum. Rencana ada, cuma terbentur sama profesi,” ucapnya lagi.

Kendala lainnya adalah mobil yang mengalami kerusakan mesin saat perjalanan berlangsung. “Ketika teman-teman ada yang mobilnya bermasalah, kita tetap nungguin. Never leave friend behind.”

Ditambahkan olehnya, tidak ada syarat khusus agar seseorang dapat bergabung ke komunitas Jurnalis 4x4, meskipun tidak berprofesi sebagai jurnalis. “Intinya, punya kendaraan 4x4. Banyak juga teman-teman di sini yang non-media.”

Rencananya, komunitas ini akan menyambangi pembangunan Pondok Pesantren di daerah Cibadak, Sukamakmur. Ia menyebut, bakti sosial sudah menjadi aktivitas rutin Jurnalis 4x4.

“Kita lebih sering mengadakan baksos, seperti membantu recovery tsunami di Banten, terus di Situ Gintung juga kita ikut terjun.

Ia pun mengaku, tidak ada kesenjangan atau gap antara Jurnalis 4x4 dan komunitas mobil jip lain. “Walaupun beda jenis mobil, itu tidak masalah buat kita. Justru kalau kita mengkhususkan diri pada salah satu brand mobil, rasanya kok terlalu eksklusif,” tutur Joko.

Lantaran sebagian besar anggotanya adalah jurnalis, Joko mengatakan cukup banyak hal menarik yang dialami kala bertemu dengan komunitas lain.

“Di awal-awal, kita mendapat perlakuan istimewa oleh orang-orang karena profesi kita. Begitu lihat, ternyata lo lagi, lo lagi. Hahaha,” katanya tertawa.

“Terus terang, keunggulan saat kita mengadakan kegiatan yaitu publikasi yang lebih mudah dan cepat. Kita juga sering diminta bantuan untuk publikasi event dari komunitas tertentu.”

offroad - male Indonesia

Rencana membuat event berskala nasional sejatinya sempat terbesit dalam benak Joko dkk di Jurnalis 4x4. Namun lagi-lagi, sponsor dan waktu menjadi masalah utamanya.

“Mungkin event nanti dulu. Kita fokus pada kegiatan kemanusiaan. Ambil contoh, Bogor itu tidak jauh dari Jakarta, tapi masih banyak daerah terpencil yang tidak ada listrik. Beberapa kali kita drop genset ke daerah Citeureup, terutama Sukamakmur,” ujar Joko.

Kenapa harus mobil jip? Menurut Joko, mobil tersebut meningkatkan kepercayaan dirinya selama berkendara. “Lebih pede aja sih. Walau mau di onroad, atau jalan becek, tidak masalah. Apalagi saya sudah menyatu dengan mobil saya,” ujarnya lagi.

Di akhir wawancara, ia memberikan tips bagi siapa saja yang tertarik untuk bermain jip. “Pertama-tama, lihat dulu fungsinya buat apa, cuma offroad atau dipakai harian. Kemudian, berapa budget yang Anda punya. Minimal 60 juta rupiah. Intinya Anda harus minat, baru membeli dan merawat jip.” [GP]

SHARE