Iklan Video Online Menggeser Iklan TV - Male Indonesia
Iklan Video Online Menggeser Iklan TV
MALE ID | Digital Life

TV_elephant-pixabay_
pixabay.com

Berhasilnya iklan video online di platform sosial yang populer seperti Facebook, YouTube, Vimeo ataupun LinkedIn membuat beberapa brand menghasilkan transaksi yang signifikan sehari-hari. Brand-brand yang sudah melek digital mulai memindahkan anggaran iklannya dari iklan TV ke video online.

Hal ini bisa saja dianggap sebagai revolusi video online. Bayangkan, di negeri Paman Sam, tahun 2016 ini tertanam harapan iklan video online akan tumbuh hingga 8 milyar dollar seiring dengan luar biasanya pertumbuhan yang terjadi di mobile video. Ini pasti akan berakibat pada penurunan di iklan TV dikarenakan para pengiklan terus mencari cara yang paling efektif untuk menjangkau pelanggan ataupun calon pelanggan mereka. Menurut PricewaterhouseCoopers (PwC), diperkirakan pada 2017 iklan TV hanya akan menguasai sekitar 37% dari keseluruhan belanja iklan di Amerika.

Tapi memang tetap ada persamaan mendasar dalam pemasangan dengan iklan video online dengan iklan TV. Saat pengiklan memutuskan untuk beralih ke online video, selalu saja ada kekhawatiran dalam hal menjangkau target audience, tercapainya tujuan merk, atau mengubah prioritas saat membeli ruang iklan.

Perlu diingat bahwa dengan memilih memasang iklan lewat jalur video online, sangat banyak hal baru yang akan menerabas batas-batas yang selama ini belum bisa dijangkau iklan TV tradisional. Skala pencapaian audiens adalah salah satu contoh yang sangat kentara. Maklum saja, keberadaan internet membuat semua industri yang berjalan menjadi berpikir global. Semua sudah tidak lagi berorientasi lokal ataupun nasional semata, tapi juga lintas negara bahkan benua. Hal ini saat diramu dengan tepat, keberadaan iklan digital berplatform sosial yang sekarang sedang populer akan mudah menjangkau kesemuanya.

Lihat saja perkembangan terkini di tanah air dengan negara-negara tetangganya. Dicetuskannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi satu tanda bahwa batas-batas antar negara dalam bidang ekonomi sudah mulai diperlonggar. Ini juga berarti bahwa pemasaran produk ataupun brand sudah tidak bisa lagi hanya menyasar audiens seperti yang lalu-lalu. Minimal kini wajib memikirkan lintas negara ASEAN yang keran-keran kemudahan berkegiatan ekonomi sudah mulai dibuka.

Memang ini bukan berarti iklan TV sudah mati. Justru akan menjadi sangat ideal ketika iklan video online akan bahu-membahu dengan iklan tradisional di televisi untuk memudahkan para pengiklan mencapai tujuan-tujuan yang sudah dicanangkan. Walaupun memang sangat berbeda kondisinya dengan 30 tahun lalu dimana sektor TV sangat dominan berperan. Kini harus diakui bahwa video online perlahan tapi pasti sedang mengambil alih peran itu. Apalagi dengan kemampuan menghasilkan efek viral (baca juga: Viral Video, Bayi Ajaib di Dunia Maya), video online bagai tak bisa dibendung.

Jelas, internet yang merubah cara ini semua. Tak hanya cara menyampikan tapi juga cara mendapatkan hasil yang terukur. Dan lihatlah kini, pemirsa TV mengakses konten yang mereka suka dengan cara yang beragam, dari perangkat yang beragam pula. Bahkan survei yang dilakukan BrightRoll -Yahoo, pada awal 2015 saja 72% agency iklan mengatakan bahwa iklan video online sudah sama efektif dengan iklan tradisional di TV, bahkan sudah mengarah lebih efektif. TV memang sanggup mencapai pemirsa dalam jumlah yang banyak, tapi saluran online dapat melibatkan audiens untuk lebih terbenam dalam pesan yang disampikan dalam iklan. ** MIND (fallingupmedia.com, marketingland.com)

SHARE