Mereka yang Melarikan Diri dari Penjara Mengerikan - Male Indonesia
Mereka yang Melarikan Diri dari Penjara Mengerikan
Gading Perkasa | Story

Di masa lalu, Penjara Alcatraz memiliki reputasi paling angker di Amerika Serikat. Tempat berjuluk The Rock atau Americas Devil Island itu menjadi kerangkeng bandit kelas kakap, termasuk gangster asal Chicago, Al Capone.


Photo: wikimedia commons

Tak ada kemewahan. Para narapidana menempati sel sempit, berukuran 1,5 x 2,7 meter, termasuk toilet dan wastafel. Mereka bisa bercakap-cakap selama makan dan waktu rekreasi. Selain itu, mereka dilarang mengucapkan sepatah kata pun.

Mustahil kabur dari Penjara Alcatraz. Selain dijaga ketat, perairan yang mengelilingi pulau karang itu dingin dan berbahaya. Namun, sejarah mencatat, setidaknya tiga orang berhasil lolos. Mereka adalah Clarence Anglin, John Anglin, dan Frank Lee Morris.

Seperti dilansir dari Listverse, Anglin bersaudara berprofesi sebagai perampok. Selama beraksi, mereka berusaha tidak melukai siapa pun.

Mereka merampok tempat bisnis pada jam tutup, menjarah bank dengan pistol mainan. Perampokan di Columbia Savings Bank, Alabama, mengantarkan mereka ke Penjara Alcatraz.

Bersama Frank Morris, Anglin bersaudara berencana kabur dari Alcatraz. Frank Morris merupakan residivis yang terlibat kasus kepemilikan narkoba hingga perampokan bersenjata.

Plot kabur telah dirancang cukup lama. Tiap malam, mereka melubangi dinding belakang sel menggunakan potongan pisau gergaji dan sendok logam yang diselundupkan dari kantin.

Dinding tua itu dibobol. Ketiganya menggunakan ventilasi palsu untuk menyembunyikan aksi mereka dari pengawasan para penjaga.

Ketiganya mencuri 50 mantel hujan, disatukan dengan panas dari pipa uap yang mengalir di bawah sel untuk dijadikan semacam rakit. Mereka berencana mendayung ke Angel Island yang berada di dekat Alcatraz, mencuri perahu, dan mobil agar bisa kabur.

11 Juni 1962 malam, mereka bertiga merangkak lewat terowongan sempit di bagian belakang sel, mengumpulkan potongan rakit, membawanya ke atas, memanjat tembok, lalu masuk ke teluk.

Ketika para penjaga menemukan boneka samaran di bawah selimut narapidana yang kabur, mereka mengira ketiganya mustahil selamat.

Suhu air di sekeliling Alcatraz kala itu 12 derajat Celcius, dengan kecepatan gelombang 13 km/jam. Potongan rakit mereka ditemukan di teluk, tak ada perahu atau mobil yang dilaporkan dicuri. Mereka lenyap tanpa jejak.

Surat misterius
Walau tak diketahui keberadaannya usai kabur dari Alcatraz, John Anglin, Clarence Anglin, dan Frank Morris dinyatakan sebagai buron.

Pada tahun 2013, muncul surat yang ditujukan untuk Kepolisian San Francisco. Penulisnya mengaku sebagai John Anglin.

“Nama saya John Anglin. Saya melarikan diri dari Alcatraz pada Juni 1962 bersama saudaraku Clarence dan Frank Morris. Kami berhasil kabur, tapi nyaris gagal,” demikian kutipan surat tersebut, melansir Listverse.

John Anglin mengaku berusia 83 tahun saat menulis surat. Ia menderita sakit kanker. Ia mengatakan, Morris tutup usia pada 2005, disusul Clarence Anglin tiga tahun berselang.

“Jika Anda mengumumkan di televisi bahwa saya bakal dijanjikan masuk penjara tidak lebih dari satu tahun dan mendapat perawatan medis, saya akan kembali menulis surat dan memberitahukan di mana saya berada,” tulisnya, dikutip dari BBC News.

US Marshals Service yang bertanggung jawab atas kasus tersebut sejak 1978, menyerahkan surat itu ke laboratorium FBI untuk dilakukan analisis tulisan tangan secara forensik.

“Sampel tulisan tangan dari ketiga pelarian, John Anglin, Clarence Anglin dan Frank Morris, dibandingkan dengan surat anonim. Hasilnya dianggap kurang meyakinkan,” kata US Marshals Service dalam sebuah pernyataan.

Kerabat John dan Clarence Anglin, David Widner mengatakan kepada CBS bahwa neneknya menerima kiriman bunga mawar selama beberapa tahun setelah pelarian itu. Ada tanda tangan John dan Clarence di kartu yang menyertainya. [GP]

SHARE