Ketika Pemimpin Baik Menciptakan Hasil Buruk - Male Indonesia
Ketika Pemimpin Baik Menciptakan Hasil Buruk
MALE ID | Works

Kepemimpinan yang baik/etis sangat penting untuk keberhasilan bisnis. Pemimpin yang tidak baik/etis pada akhirnya akan merusak kesuksesan bisnis jangka panjang untuk keuntungan pribadi mereka atau untuk hasil jangka pendek. 


Image by hakan y?ld?r?m from Pixabay

Sebuah studi dari Baylor University dalam laman Entrepreneur menunjukkan, secara berlawanan, bahwa ketika kepemimpinan etis tidak ditangani dengan benar, itu dapat menjadi bumerang dan memiliki konsekuensi negatif juga.

Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi masa depan kepemimpinan dan manajemen yang baik, di mana menunjukkan bahwa memiliki kebijakan etika yang baik tidak cukup jika pertimbangan untuk psikologi pekerja tidak diterapkan dengan benar.

Kepemimpinan Etis yang Buruk
Hasil dari penelitian tersebut juga memberi tahu bagaimana bentuk "badai sempurna" dari kepemimpinan etis yang buruk akan terjadi. Beberapa hal ini menunjukan bagiamana kepepimpinan etis yang buruk.

1. Manajemen menegakkan kepemimpinan etis dengan melembagakan aturan yang tidak fleksibel.

2. Penyimpangan dari aturan-aturan yang tidak fleksibel ini, bahkan ketika beretika, dicap tidak etis.

3. Jika penyimpangan ini juga menghasilkan peningkatan kinerja, ini juga disebut perhatian.

4. Karyawan diberi metrik yang melacak kepatuhan mereka terhadap etika serta kinerja dan didorong untuk bersaing di keduanya.

Hasil akhir dari pengaturan ini adalah sebuah skenario di mana banyak karyawan diberitahu oleh manajemen bahwa mereka berkinerja rendah karena mereka lebih etis daripada rekan kerja mereka.

Sehingga akhirnya menciptakan tenaga kerja kehilangan hak yang merasa tidak ada dukungan dari manajemen atau rekan kerja mereka dan sedikit alasan untuk mematuhi persyaratan etis.

Kepemimpinan Etis yang Baik
Selain memberikan beberapa poin terhadap kepemimpinan etis yang baruk. Studi ini juga menawarkan rekomendasi berikut ini untuk kepemimpinan etis.

1. Menyediakan Sumber Daya Karyawan
Menjaga agar karyawan tetap rendah stres sambil mempertahankan standar etika yang tinggi. Ini berarti bahwa karyawan yang mematuhi standar etika tidak akan menderita dalam pekerjaan mereka.

2. Memerangi Ambiguitas
Menegakkan etika dengan menuntut kepatuhan terhadap aturan ketat seringkali menciptakan ambiguitas. Ini karena etika yang ketat dan berbasis aturan dibangun untuk kepatuhan di lingkungan yang statis daripada yang dinamis.

Penegakan etis berbasis aturan yang ketat juga sering mengarah pada konflik yang melekat, karena mempersiapkan semua cara di mana kepatuhan terhadap satu aturan mungkin membuat tidak mungkin atau sulit untuk mematuhi aturan lain bisa sangat sulit dan terlibat.

3. Pemodelan
Manajemen harus memberikan contoh yang baik bagi karyawan, tidak hanya untuk memodelkan perilaku sehingga karyawan tahu seperti apa perilaku etis di dalam perusahaan, tetapi juga karena karyawan yang merasa perilaku mereka sendiri lebih etis daripada manajemen akan merasa dikucilkan dan dirusak secara sosial.

4. Efisiensi dan Etika
Efisiensi dan etika sering bertentangan satu sama lain, dan ketika keduanya didorong dan dilacak, ini pasti mengarah pada konflik. Singkatnya, pada akhirnya tidak ada cara untuk menghindari pertukaran antara efisiensi dan etika dalam jangka pendek.

Beban membuat keputusan seputar trade off ini tidak boleh ditempatkan pada karyawan level rendah. Hambatan efisiensi harus diatasi oleh manajemen dan dikomunikasikan dengan jelas kepada karyawan. *** (SS)

SHARE