GPS Jadi Teknologi Jadul Karena Robot Semut - Male Indonesia
GPS Jadi Teknologi Jadul Karena Robot Semut
MALE ID | Digital Life

Sejak zaman prasejarah, manusia telah menavigasi Bumi melalui langit. Seperti jarum jam, matahari melacak jalur yang dapat diprediksi dari timur ke barat setiap hari. Setelah matahari terbenam, bintang-bintang muncul.


Image by Dariusz Sankowski from Pixabay

Meskipun rumit untuk diuraikan, rasi bintang dapat dikenali dalam polanya dan menawarkan peta rumit dari dunia yang dapat digunakan oleh navigator terlatih untuk penelusuran jalur yang tepat.

GPS adalah sistem populer saat ini. Karena GPS dapat membantu manusia menemukan tempat baik dari jalur umum atau dengan jalur yang tidak pernah dilewati. Akan tetapi GPS akan segera usang hanya karena gara-gara semut. Mengapa bisa seperti itu?

Keterbatasan GPS
Jika Anda pernah mencoba menggunakan GPS saat bepergian melalui terowongan atau di bawah bayang-bayang gedung-gedung tinggi, kemungkinan Anda mengalami salah satu ketidak akuratan. Itu karena GPS (dan sistem serupa seperti Galileo Uni Eropa dan GLONASS Rusia) bergantung pada sinyal dari beberapa satelit yang mengorbit Bumi hingga 12.000 mil jauhnya. 

Ada sekitar 73 satelit GPS saat ini di orbit, tetapi jika benda yang cukup besar menghalangi jalur komunikasi yang jelas, navigasi GPS menjadi tidak bisa dioperasikan. Selain itu gangguan lainnya adalah sinyal yang hilang.

Navigasi Semut
Mengutip laman Digital Trends, para peneliti di universitas dan beberapa perusahaan teknologi top dunia sedang mengembangkan teknik navigasi canggih yang dirancang untuk mengisi kekosongan ketika GPS gagal.

Teknik navigasi baru ini terinspirasi dari semut. Khususnya semut gurun. Di mana kemampuan navigasinya yang unik telah diasah oleh evolusi. Meskipun masih dalam fase eksperimental, suatu hari sistem ini dapat digunakan untuk mendukung navigasi berbasis satelit. 

"Semut gurun dapat berjalan hingga satu kilometer (0,6 mil) dalam waktu 30 menit, dan mereka dapat kembali ke pintu masuk sarang mereka tanpa risiko tersesat," tutur Julien Dupeyroux, seorang insinyur di Universitas Aix-Marseille yang bekerja di AntBot. "Kami ingin menyelidiki cara membuat navigasi seperti ini bekerja di robot," tambahnya.

Bermitra dengan Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis, Dupeyroux dan timnya mengembangkan robot seperti semut gurun (AntBot), dilengkapi dengan sensor cahaya UV yang mampu mendeteksi pita cahaya terpolarisasi, yang digunakan untuk menavigasi seperti "kompas langit".

Sebagai langkah tambahan, AntBot mampu menghitung langkah-langkahnya untuk menentukan laju pergerakan relatif terhadap matahari. Aspek-aspek gabungan ini membantunya menentukan lokasinya dengan presisi hingga satu sentimeter (0,4 inci) per 14 meter (45 kaki) yang dilalui. 

AntBot ternyata bukan satu-satunya robot yang menggunakan navigasi gurun yang terinspirasi dari semut. Para peneliti di University of Sussex juga telah mengembangkan sistem yang dapat berfungsi tanpa GPS dengan menggunakan algoritma yang meniru otak semut gurun.

Kendati teknologi ini akan membuat usang GPS, tetapi masih ada kelemahan di dalamnya, misalnya misalnya, belum tahan air dan belum dikalibrasi untuk bekerja di malam hari. *** (SS)

SHARE