Rumahsakit: Musik Indie Juga Perlu Apresiasi! - Male Indonesia
Interview
Rumahsakit: Musik Indie Juga Perlu Apresiasi!
Gading Perkasa | News

Tetaplah di istanaku, langit yang biru kelabu.. Biarlah rinduku, kusimpan bersama mimpiku.” Penggalan lirik lagu Rumahsakit berjudul Kuning itu seolah selalu terngiang di kalangan muda era 90-an.


Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

Band yang dibentuk di Jakarta pada tahun 1994 ini seolah tak berhenti berkarya. Memiliki lagu-lagu dengan irama nostalgia dan nuansa ‘gelap’, Rumahsakit sedikitnya telah melahirkan album Self-Titled, Nol Derajat, 1+2, dan yang terakhir, Timeless.

Seiring berkembangnya zaman dan selera musik generasi milenial yang senantiasa berubah, bagaimana mereka bertahan di kancah musik indie tanah air? Berikut MALE Indonesia sajikan wawancara bersama para personel Rumahsakit yang terdiri dari Arief, Marky, Sadam, Mickey, dan Fadly tersebut.

Ada proyek yang sedang dikerjakan?
Kami sekarang masih di tahap pembuatan vinyl, yang isinya berupa kumpulan lagu dari album-album lama kami. Rencananya, pertengahan 2019 ini bisa segera selesai.

Rumahsakit dikenal sebagai salah satu band yang sering melahirkan lagu bernuansa kelam. Sebut saja Anomali, Mati Suri, Kuning. Apakah itu memang disengaja, atau ada faktor lain di baliknya?
Sebenarnya tidak. Lagu-lagu itu lahir karena perasaan yang tengah dialami oleh vokalis kami dulu, Andri Lemes. Jadi, bukan secara sengaja kami ingin membuat karya-karya yang kelam.


Photo: @rumahsakitband/instagram

Mungkinkah nantinya kalian akan kembali menghadirkan lagu bernuansa kelam ke pasar?
Jujur saja, ada kemungkinan ke arah sana. Khususnya bagi sang vokalis, Arief. Namun tetap disesuaikan dengan karakter vokal Arief dan aransemen musiknya.

Seperti diketahui, Rumahsakit sempat vakum lama dari tahun 2004. Apa yang memutuskan kalian untuk kembali bermusik?
Tadinya, kami sama sekali tidak berniat kumpul kembali dan main musik lagi. Kebetulan, kami semua tinggal di lingkungan yang sama. Tahun 2009, ada satu orang yang kami kenal, dia membujuk kami satu per satu agar mau manggung di sebuah acara di Jakarta. Di pertengahan 2010, kami pun manggung. Pikiran kami saat itu hanya sebatas main lalu selesai. Gak nyangka, penonton yang datang begitu antusias dan menyanyikan lagu-lagu kami. Atmosfer yang kuat itulah penyebab kami kembali bermusik.

Arti band ini bagi kalian?
Rumahsakit lebih dari sekadar band. Kami menganggapnya sebagai wadah berekspresi, menyuarakan pendapat, dan menyatukan perbedaan menjadi sebuah karya. Segala suka dan duka telah kami lewati bersama, dan itu yang membuat kami bertahan.

Momen paling menyenangkan selama konser?
Momen ketika kami memutuskan comeback di tahun 2010. Para penonton masih ingat dengan lagu-lagu kami. Barangkali tanpa itu, kami belum tentu kembali seperti sekarang. Konser-konser di luar daerah, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga menyenangkan, apalagi di Surabaya.

Kalau momen paling tidak mengenakkan?
Di sebuah event ternama di Jakarta. Kami sempat diundang menjadi band pembuka. Tahun berikutnya, kami diundang lagi dan statusnya masih sama. Kami pun menolak tawaran itu. Alasannya, apa artinya kami membangun band ini lagi kalau apresiasi yang didapat tidak sesuai. Kami juga mau jerih payah kami dihargai.


Photo: @rumahsakitband/instagram

Dengan selera milenial yang cenderung berubah-ubah dalam menikmati musik, bagaimana cara kalian menyajikan karya agar disukai oleh mereka?
Bila dibandingkan dengan lagu-lagu yang dulu, sekarang kami sudah mencoba berbagai inovasi. Seperti lagu di dalam album Timeless, nuansanya agak berbeda dan menyesuaikan kondisi yang ada.

Impian yang belum pernah terwujud?
Kami punya impian mengadakan tour di kota-kota di Indonesia, bahkan kalau perlu keliling dunia. Namun untuk mencapainya, masih banyak hal yang harus kami siapkan.

Harapan untuk musik Indonesia?
Mudah-mudahan musik Indonesia semakin berkembang. Apalagi sekarang semua serba canggih, generasi muda bisa lebih memanfaatkan teknologi yang ada dan menghasilkan karya berkualitas. [GP]

SHARE