Password Jadi Senjakala, Jika Intel Terapkan Ini - Male Indonesia
Password Jadi Senjakala, Jika Intel Terapkan Ini
MALE ID | Digital Life

Sensor biometrik akan mengubah semuanya dalam dunia pengamanan perangkat lunak. Bahkan password akan menjadi peninggalan kuno jika teknologi prototype gelombang tangan ini diterapkan. Pasalnya teknologi baru ini bisa menjadi pengganti password pada e-banking, jaringan sosial, dan email.

pengganti password pexels.com

Para peneliti Intel sedang dalam pengembangan teknologi baru pengganti password tersebut untuk digunakan pada tablet dan laptop. Diketahui, seperti dikutip dari financialpost, para penliti kini sedang mengumpulkan tablet untuk diuji coba dengan perangkat lunak baru dan sesor biometrik yang akan medeteksi pola unik dari pembuluh darah di telapang tangan seseorang.

"Password kini sudah banyak digunakan dan memiliki aturan yang kompleks. Ribetnya mereka (password) harus berbeda untuk setiap website," tutur Sridhar Iyengar, direktur riset keamanan di Intel Lbas. "Untuk mengurangi permasalahan itu, ada jalan keluarnya, yakni biometrik," lanjutnya pada forum tahunan Intel Debeloper di San Francisco, belum lama ini.

Pada acara itu, Iyang menunjukan teknologi yang dia kembangkan tersebut. Dia melambaikan tangannya di depan tablet tanpa menyentuhnya. Setelah sensor diterima tablet, dengan aman semuanya terkoneksi dengan identitas pada e-banking, jaringan sosial, dan layanan lainnya.

"Kami berencana untuk bekerja dengan penyedia layanan untuk mengambil keuntungan penuh dari ini," tutur dia.

Teknologi built-in accelerometers akan digunakan dalam perangkat pengganti password ini. Gunanya untuk mendeteksi saat pengguna menggunakannya untuk mengunci agar orang lain yang tidak bertanggungjawab tidak bisa membobolnya.

Selain itu, teknologi palm-identifikasi menjadi salah satu fokus dari beberapa demonstrasi selama pidato utama oleh Intel Chief Technology Officer Justin Rattner di forum tersebut. Rattner yang berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah teknologi masa depan.

Dikatakan Rattner, teknologi palm-identifikasi ini masih dalam pengembangan dan membutukan perangkat lunak baru yang kemudian bisa digabungkan dengan sensor biometrik untuk semua perangkat yang dimiliki konsumen (laptop dan tablet). Bahkan, Rattner juga mengklaim dalam pidatonya, bahwa tekonoli barunya ini bekerja jauh lebih baik dari pemindai jari yang ditemukan pada beberapa laptop dan smartphone saat ini.

Maka dari itu, jika tekonologi ini benar-benar sudah diterapkan sebagai pengganti password yang menggunakan angka atau sejenisnya, password yang masih banyak digunakan hingga kini bisa menjadi peninggalan kuno. **

SHARE