Darwis Triadi: Fotografi Itu tidak perlu gelar - Male Indonesia
INTERVIEW
Darwis Triadi: Fotografi Itu tidak perlu gelar
MALE ID | Sport & Hobby

Darwis Triadi sempat memotret keluarga dan keseharian Presiden Jokowi di Istana Bogor. Bahkan, hasil jepretannya pun terpanpang saat peluncuran buku Jokowi Menuju Cahaya di Hotel Mulia Senayan, Desember 2018 lalu. Beberapa hasil foto-fotonya pun tersemat di akun instagram pribadinya @darwis_triadi.

Mengenakan polo-shirt hitam, dengan santai Darwis menceritakan dibalik proses pemotretan bersama Presiden Jokowi. Bahkan Darwis pun bercerita bagaimana ia membangun sekolah fotografi dan rasa sedihnya ketika menjadi seorang pengajar. 

Berikut ini hasil wawancara MALE Indonesia bersama Darwis Triadi di Darwis Triadi School of Photography, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. 

Anda sempat memotret Presiden Jokowi, bisa diceritakan?
Sebetulnya Pak Jokowi sudah nyari saya lama. Sudah sejak tiga sampai empat tahun. Cuman mungkin enggak ada yang tahu kontak saya. Sampai akhirnya, Pak Triawan Munaf kontek saya. Karena kan Pak Triawan kebetulan teman saya lama.

Sebetulnya pemotretan itu awalnya keperluan kampanye. Tapi akhirnya saya banyak motret profil beliau. Salah satunya di Istana Bogor.

Ada perbedaan dengan tokoh-tokoh lain yang sempat Anda potret?
Saya baru menemukan sosok yang sebelumya tidak ada. Maksudanya begini, dari kebiasaan saya kalau dia seorang pejabat, apalagi orang nomor satu di Indonesia, pasti ada jarak. Walaupun jarak itu karena prosedur Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden). Tapi beliau (Jokowi) tidak ada jarak sama sekali.

Makanya saya punya keyakinan ketika saya motret beliau (Jokowi), saya akan mendapatkan enggle momentum dan karakter yang maksimal. Dan kenyataannya benar, saya mendapatkan banyak sekali itu semua.

Apakah banyak arahan yang diminta?
Tidak sama sekali. Beliau hanya kasih contoh beberapa profil dari tokoh-kotoh dunia. Tapi saya bilang dalam hati, saya bisa memotret Pak Jokowi lebih bagus dari ini, kenyataannya iya. 

Hal ini bisa terjadi, karena tidak ada gap (pemisah atau jarak). Dan itulah yang saya rasakan. Saya tidak pernah mengalami proses pemotretan dengan satu orang, di mana beliau ini adalah pejabat sekaligus tokoh nomor satu di Indonesia. Itu yang saya alami.  

Lalu apa yang Anda lihat?
Kemudian saya melihat, seharunya siapapun orangnya bisa seperti itu. Entah itu orang kaya atau apa. karena kan biasanya orang yang sudah punya duit, punya kekuasaan, pasti akan berbeda. Terkenal pasti akan berbeda. 

Apa kata Darwis Triadi tentang fotografi analog? Cek di sini

***

TANTANGAN MEMBANGUN SEKOLAH FOTOGRAFI
Sudah sejak 2001/2002 Darwis Triadi mendirikan sekolah fotografinya. Bahkan, sekolah fotografi yang dibangunnya sempat mengalami perkembangan pesat, sehingga Darwis Triadi School of Photography pernah ada di Bandung dan Surabaya. Meski kemudian dileburkan kembali.

Apa alasan Anda menutup cabang sekolah fotografi Anda?
Memang dulu ada beberapa cabang, tetapi sekarng cuma satu, di Jakarta saja. Karena saya tidak berpikiran untuk bermecusuar, karena saya tidak berorientasi bisnis ya. 

Jadi akhirnya setelah saya perhitungkan, saya juga cape kalau ngajar, baru saya konsentrasi ke satu tempat saja. Walau begitu saya juga banyak ngajar di luar juga, bikin workshop secara periodik. 

Saat itu apa yang terlintas ketika ingin mendirikan sekolah fotografi?
Saya ini orang yang independen. Saya dulu sempat mengajar di Trisakti, saya sempat mengajar di ISI, tapi kan seorang pengajar (dosen) harus punya gelar. Gelar saya enggak ada. Cuma lulusan SMA, karena saya lepas sekolah pilot saya, otomatis saya cuma punya ijazah SMA.

Buat saya fotografi tidak perlu gelar S1 dan seterusnya. Sekarang kalau kita bicara teori fotografi dari mana? Dari orang. Orang dulu kuliah enggak? Enggak. Makanya saya meyakini itu.

Contohnya?
Misalnya ada seorang profesor atau doktor fotografi, dan misalnya saya diskusi sama dia dan kita coba saling berinteraksi, dia melakukan eksplorasi fotografi (bicara fotografi berarti bicara lighting), kalau dia tidak bisa menguasai itu, buat apa gelar itu.

Teori fotografi itu kan tercipta bukan dari sistem akademis. Walaupun sekarang ada sistem akademis memberikan gelar sarjana. Ya, tidak apa-apa buat saya. Tetapi sekali lagi, buat saya fotografi itu tidak perlu begelar secara akademis. Tetapi dari pengalaman.

Selain karena nama besar Anda, apa perbedaan sekolah fotografi Anda dengan sekolah fotografi lainnya?
Saya merasa tidak besar, kalau lama iyalah ya. Hanya saya coba terus memaintenance itu saja. Tapi ditanyakan perbedaannya, sekolah saya itu punya metode yang berbeda.

Karena apa yang saya ajarkan, walaupun banyak guru, dengan teori yang mendasar, tetapi saat bertemu dengan saya, saya memberikan satu input pemikiran fotografi yang saya jalankan. Jadi saya bicara bukan teori, tapi dari pengalaman. Dan dari pengalaman saya, banyak teori fotografi yang salah. 

Maksudnya banyak teori itu salah?
Fotografi kan diciptakan oleh mansia, memang manusia selalu benar? Tidak. Apalagi diera digital seperti sekarang ini, banyak sekali cara berpikiran yang salah. Saya betulkan di situ. Berdasarkan pengalaman saya.

Contohnya, orang selalu bilang, mau foto tajam pakai diafragma atau aperture (f) kecil, 8, 11, 16. Kalau saya tidak, mau pakai f/1.2 bisa tajam juga. Karena kalau Anda punya lensa f/1.2, ya sudah pakai diafragma itu. Karena disitulah optiknya berjalan dengan bagus.Tapi banyak fotografer tidak berpikir ke sana. 

Lalu?
Terus orang yang menggunakan flash, orang akan selalu pakai f yang kecil juga. Alasannya sama, supaya tajam. Saya pakai flash, bisa pakai f/1.2, karena yang saya kejar adalah efek. Karena saya tahu efeknya seperti apa.

Nah, pemikiran inilah yang tidak pernah terungkap. Terus ditambah lagi, biasanya pemakaian lampu juga kan biasanya jauh, tidak didekatkan, kalau saya motret cuma close up, lampu saya dekatkan sampai 20cm. Alasannya akan lebih lembut. Belum ada yang membuka teori ini. 

Kembali ke sekolah fotografi Anda, apa tantangan Anda?
Tantangannya bagi saya ketika membuat sekolah. Saya kan transfer knowledge, saya siap enggak? Saya jujur enggak? Saya tanya itu ke diri saya. Saya lama mencoba berpikir itu. Terus saya tanya ke dalam diri saya lagi, apakah saya siap? Ketika jawabannya siap, saya jalankan.

Makanya di Indonesia ini, sekolah fotografi yang non formal, cuma sekolah saya yang masih buka, yang lainnya sudah tutup. Kenapa? Jawabannya adalah kejujuran. 

Sebagai pemilik sekolah, mengapa Anda juga ikut mengajar?
Banyak teman saya, buka kelas fotografi, dia sendiri enggak ngajar, jadi urusannya cuma bisnis, cari duit. Tutup. kalau saya tidak. Karena saya punya moral obligasi, saya harus memberikan ilmu saya yang saya punya kepada murid-murid saya.

Apabila masih belum bisa, saya berikan lagi. Belum bisa, saya terus berikan lagi. Kalau enggak bisa lagi, saya mikir, saya berarti masih bodoh. Bukan muridnya yang bodoh. Sedih saya. Karena saya punya keinginan, apa yang saya berikan, murid saya harus bisa. 

Bisa dibilang stres juga?
Stres tidak, sedih saja. Saya harus berpikir saja. Makanya begini, pola pengajaran di Indonesia ini salah. Karena kalau seorang siswa itu gagal, yang disalahkan dianya (murid). Dosennya tidak pernah instropeksi. Padahal memberikan ilmu ke dia (murid),  kalau muridnya gagal, dosennya yang gagal. 

Contohnya, saya punya teman seorang soulin. Setiap muridnya tidak bisa mengaplikasikan apa yang dia ajarkan, dia sedih. Walaupun muridnya dihukum, tapi malamnya dia intropeksi diri, besoknya diajarkan lagi, sampai akhirnya muridnya itu jago. Harusnya kan (pola pendidikan) kan seperti itu.

Anda sendiri ngajar di kelas tertentu atau semua kelas?
Saya mengajar di semua kelas. Biasanya di kelas terakhir. Dari basic sampai advanced. Basic dapat tiga kali pertemuan. Di intermediate tiga kali, di kelas advanced malah lima kali. *** (SS / Photo: Ferry Ardianto/Male Indonesia)

SHARE