Stars and Rabbit: Ingin Sumbangkan Energi Positif - Male Indonesia
INTERVIEW
Stars and Rabbit: Ingin Sumbangkan Energi Positif
Sopan Sopian | News

Tahun 2018 lalu merupakan tahun sibuk bagi Stars and Rabbit. Selain mengisi festival di dalam negeri, duo grup yang digawangi Elda Suryani (vokalis) dan Adi Widodo (gitar) ini mengisi acara bergengsi seperti Formula 1 Grand Prix, Singapura dan Wonderfriut di Pattaya, Thailand.

Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

Stars and Rabbit juga sempat berkolaborasi dengan Bottlesmoker, duo elctronic asal kota Bandung, yang kemudian menjadi SRXBS. Mereka berhasil menciptakan sebuah experience yang unik bagi pendengarnya.

Selain itu, Stars and Rabbit juga telah sukses membuat roadshow dalam format besar bertajuk "Stars and Rabbit Asian Tour". Dari roadshow-nya itu, Stars and Rabbit mendapatkan hal-hal baru, baik dari segi musik dan lirik lagu. 

Hal baru tersebut kemudian mereka tuangkan dalam album kedua-nya yang masih dalam proses penyelesaian. "Kita memang lagi nyiapin album kedua, tapi kita tidak bisa ngobrolin itu dulu lebih banyak. Soalnya masih dikerjain, masih dirapihkan, masih proseslah," kata Adi.

Kendati mereka sedikit menyembunyikannya, ada beberapa bocoran terkait proses kreatif dan perbedaan antara album pertama Constellation dan album kedua yang sedang mereka siapkan. Berikut ini petikan wawancara eksklusif MALE Indonesia bersama Stars and Rabbit di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.

Ada hal baru apa setelah melakukan Asian Tour?
Elda: Kalau dari aku pribadi, secara kreatif banyak banget menemukan hal-hal baru. Jadi dari cara aku nulis lagu, terus cara ngambil nada, itu terus menemukan gaya menyanyi yang tidak terpikirkan sebelumnya, itu muncul.

Mungkin itu karena efek baik dari manggung kita tahun lalu yang sangat intens. Karena sering bawain materi yang sama, jadi seperti ngasah terus. jadi seperti semakin mengenal bagian-bagian detilnya. Tiba-tiba muncul improviasi baru, muncul intrepretasi baru. Terus banyak nemu materi-materi baru juga, kami banyak nulis lagu baru.

Apakah ada pengaruh juga terhadap proses kreatif dalam menulis lagu?
Elda: Saya rasa traveling itu bagus, ya. Maksudnya, selama ini kan aku traveling itu hanya dalam pikiran saya saja. Tapi ketika itu benar-benar terjadi dan main musik sendiri, ada perspektif di mana sesuatu yang sama bisa terasa berbeda. Itu menurutku ngaruh dalam caraku nulis lagu.

Terus dulu, dengan aku menangis sendiri diam-diam, sekarang lebih bisa mengungkapkannya dengan lebih baik. Kalau dulu untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan ke dalam satu lagu itu susah. Sekarang hal-hal itu tidak sesusah itu. Dan ini baru buat aku, dan itu penting.

Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

Lagu-lagu Stars and Rabbit begitu puitis, apakah itu ada pengaruh dari sebuah karya sastra tertentu?
Elda: Aku sih tidak mengkhususkan literatur tertentu. Maksudnya literaturku sebenarnya tidak terlalu banyak. Hanya literatur yang tidak sengaja bersinggungan dengan aku saja. Karena aku bukan tipe yang ngoyo nyari sebuah buku tertentu.

Aku lebih tipe orang yang menyambut, seperti misalnya ada teman yang sedang bawa buku, dan meminta aku untuk membacanya, baru aku baca buku itu. Jadi aku enggak ngumpulin sebuah buku puisi atau buku khusus tertentu. Tapi aku orang yang tipe baca buku semuanya, sampai buku cerita anak-anak berbahasa inggris juga aku baca.

Lalu di album kedua yang sedang disiapkan, Ada kesulitan seperti apa?
Adi: Membuat sesuatu yang baru dan lebih matang lagi. Seperti aku yang umurnya sudah sekian, seharusnya aku sudah bisa memainkan musik yang seperti apa. Intinya yang susah itu ke rasanya, menimbulkan rasa pada lagunya.

Dari album pertama (2015) ke album kedua rentang jaraknya begitu jauh, apakah ini strategi?
Adi: Untuk segi bisnis memang kurang baik. Tapi mau bagaimana. Kita juga tidak bisa memaksakan untuk dikeluarin begitu saja. Ketika dipaksakan, itu nantinya tidak akan jadi apa-apa untuk kedepannya.

Terus selama konser, apresiasi penonton paling baik, di luar negeri atau di dalam negeri?
Elda: Selama beberapa tahun terakhir manggung, bentuk apresiasi yang aku ingingin itu ternyata aku menemukannya di luar negeri. di UK itu keren banget, Asian Tour itu keren banget. Kalau aku melihat dari time line-nya, di Indonesia aku belum pernah merasakan apresiasi yang aku dapatkan ketika di luar negeri.

Alasannya, karena memang itu lebih ke teknis. Karena Stars and Rabbit mungkin masih sesuatu yang baru, jadi mereka (penonton) masih sedakep. Masih memproses. Berbeda ketika di luar negeri, di mana membawakan lagu yang sama, penonton di luar itu sudah open arms duluan. Sampai ke hati itu cepat banget. 

Di luar, mereka bisa menjabarkan apa yang mereka rasakan dari lagu Stars and Rabbit. Mereka bilang "Lagu kamu mengingatkanku pada sesuatu..." Tapi kalau di Indonesia masih sebatas "aku suka musik kamu", semacam itu. Tapi akhirnya di Indonesia pun beberapa tahun kemudian aku mendapatkan apreasi yang sama tapi dalam bentuk yang berbeda. 

Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

TANTANGAN DAN CAPAIAN STARS AND RABBIT

Apa tantangan terberat Stars and Rabbit selama bermusik?
Elda: Tantangannya kolaborasi. Karena aku pribadi, aku orang yang agak susah untuk menyamakan persepsi atau duduk bareng untuk membuat sesuatu (karya) yang baru. Dan kesempatan untuk kolaborasi itu tidak banyak. Kebetulan Bottlesmoker itu salah satunya.

Selain itu, tantangan terbarat sebenarnya pas memulai Stars and Rabbit itu sendiri. Itu tantangannya disitu. Mencari jalur untuk melangkahnya itu adalah tantangan buat Stars and Rabbit.

Ada impian untuk berkolaborasi dengan musisi tertentu yang diinginkan?
Adi: Aku belum kepikiran (tertawa). Kenapa waktu itu bareng Bottlesmoker. Secara teknis karena musiknya beda, instrumennya juga tidak terlalu banyak, jadi untuk bagi-bagi frekuensi instrumennya juga lebih mudah. 

Tapi, yang paling basic, Bottlesmoker dengan Stars and Rabbit pertemanannya sudah terjalin lebih dulu. Mungkin band lain bisa berkolaborasi dengan siapa saja. Tapi kita di Stars and Rabbit tidak bisa seperti itu. Jadi yang harus klop dulu itu hatinya dulu. Dan itu bisa mempermudah. Dan pada akhirnya nantinya jadi kan family.

Elda: Sama aku juga belum kepikiran. Tapi karena aku tipe orang yang menunggu tantangan kolaborasi itu sendiri. Kalu ditanya impian ingin kolaborasi dengan siapa, aku mikirin band sendiri saja panjang urusannya. Kalau mau sepanggung sama siapa, banyak maunya. (tertawa). 

Lalu apa sebenarnya capaian yang diinginkan Stars and Rabbit?
Adi: Itu yang belum bisa banyak kita share, album. Buat aku main di festival Internasional sama saja, menyenangkan. Kalau fase album, ini hanya aku sama tuhan saja yang bisa menyelesaikan. 

Bahkan, orang lain hanya bisa ngasih masukan. Pada akhirnya yang bisa ngerjain aku sendiri. Ketika ini udah jadi, menurut aku, aku udah selamat. Jadi capaian kita adalah album, karena itu adalah karya.

Elda: Kalau aku inginnya bisa menginspirasi orang-orang di sekitarku. Aku ingin mereka bisa menjadi versi terbaik untuk dirinya sendiri. Caranya aku terapin dalam diriku sendiri dulu. Dengan aku terus berkarya ini, aku semacam mengelupasi diri sendiri dan memasuki diriku lebih dalam. Jadi ini semacam Legacy buat aku.

Ketika aku menjadi pribadi yang menyenangkan, tentu hal positif itu kan menluar, jadi bisa menularkan kepada orang-orang yang ada didekatku. Jadi orang yang didekatku pun merasa ikut senang dan menjadi pribadi yang lebih baik. Terus orang yang dengerin lagu Stars and Rabbit itu jadi feel better, nah aku mau menyumbangkan energi itu. *** (SS)

SHARE