Satu Kota di Amerika Ini Lumpuh Karena Hacker - Male Indonesia
Satu Kota di Amerika Ini Lumpuh Karena Hacker
Sopan Sopian | Digital Life

Kota Baltimore, Amerika Serikat, menjadi sasaran empuk serangan program jahat Ransomware. Akibatnya, seluruh sistem kota lumpuh seharian penuh akibat serangan yang melanda komputer-komputer di kantor pemerintahan kota itu.


Gambar oleh Vitabello dari Pixabay

Kota Baltimore merupakan kota terbesar di negara bagian Maryland, Amerika Serikat. Kota ini juga merupakan tempat asal Ravens dan Orioles, yang keduanya adalah tim olahraga profesional. Di sini terdapat pelabuhan dalam, yang banyak tempat belanja dan Baltimore Aquarium, yang merupakan salah satu yang terbaik di Amerika Serikat.

Ransomware sendiri adalah serangan pemerasan siber yang dilakukan hacker kepada pemilik komputer. Mereka akan diminta uang tebusan, biasanya dalam bentuk uang digital Bitcoin, jika ingin menyelamatkan komputernya tersebut.

Para hacker mengunci dokumen-dokumen pemerintahan Baltimore dan meminta uang tebusan sebanyak 13 Bitcoin atau setara dengan Rp 1,2 miliar jika ingin kota tersebut kembali beroperasi seperti semula. Hampir semua layanan pemerintahan terkena dampaknya, kecuali polisi, pemadam kebakaran, hingga layanan darurat.

Pada serangan di Baltimore sendiri, hacker menggunakan varian RobbinHood yang agresif. Cara kerja ransomware itu adalah mengunci file menggunakan enkripsi.

 
 

Para penjahat siber meninggalkan sebuah catatan pada komputer pemerintahan kota bahwa pemilik data harus segera mengirimkan uang tersebut. Jika tidak, maka harga Bitcoin akan terus melonjak dalam empat hari dan pemerintah harus membayar lebih mahal.


Gambar oleh Bruce Emmerling dari Pixabay

Hacker juga mengancam pemerintah tidak akan bisa mendapatkan kembali dokumen kota, jika permintaannya tidak dipenuhi dalam waktu 10 hari.

Untungnya serangan Ransomware ini tidak berlangsung lama. Sehari setelahnya program jahat tersebut berhasil dipatahkan oleh pemerintah kota Baltimore. Meski begitu, pemerintah belum tahu kapan jaringan komputer di sistemnya kembali pulih seperti normal.

Serangan ini serupa dengan serangan yang terjadi di Greenville, North Carolina, pada bulan April 2019 lalu. Ini adalah serangan siber terbesar kedua yang dialami Baltimore dalam waktu satu tahun. Pada 2018 lalu, hacker bahkan pernah membuat sistem panggilan darurat 911 di Baltimore tidak bisa diakses.

"Sayangnya, perlombaan antara penjahat siber dan peneliti keamanan siber akan terus berjalan," kata Chief Information Officer Baltimore, Frank Johnson. "Begitu para peneliti tahu cara memitigasi dan mencegah serangan, para kriminal siber akan telah selangkah lebih maju, dan kita menjadi bagian dari perlombaan ini."

Johnson mengatakan, sistem IT Baltimore telah dinyatakan baik-baik saja. Serangan siber ini menunjukkan betapa sulitnya untuk menjaga sistem keamanan IT, terutama karena ahli keamanan siber biasanya lebih tertarik dengan karir yang menawarkan gaji yang lebih besar. *** (SS)

SHARE