Jangan Malas, Pentingnya Cek Darah Secara Rutin - Male Indonesia
Jangan Malas, Pentingnya Cek Darah Secara Rutin
Sopan Sopian | Sex & Health

Melakukan cek darah sebagai screening test untuk kesehatan sangat diperlukan. Banyak manfaat yang bisa dirasakan dengan melakukan cek darah. Salah satunya untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh atau mendeteksi kemungkinan penyakit tertentu.


Gambar oleh Photo Mix dari Pixabay

Untuk diketahui, darah tidak hanya membawa nutrisi dan oksigen ke seluruh tubuh, darah juga membawa produk limbah ke sistem ekskresi untuk pembuangan. Hal ini menyebabkan darah bisa memengaruhi atau dipengaruhi kondisi kesehatan seseorang. Maka dari itu, Anda jangan malas untuk cek darah, karena kondisi kesehatan Anda bisa diketahui dengan cara ini.

Banyak penyakit yang bisa dideteksi dengan cek darah. Bahkan beberapa penyakit yang tidak menunjukan adanya gejala fisik. Penyakit ini bisa dideteksi lewat cek darah. Misalnya, Gangguan hematologi dikenal sebagai kelainan darah, HIV, Infeksi, Diabetes, Kolesterol, Kanker, dan lain sebagainya.

Selain itu, sebuah penemuan baru-baru ini dalam pengujian darah dapat membantu mengarah pada perawatan baru untuk penyakit Alzheimer. Menurut penelitian yang dipublikasikan jurnal Alzheimers & Dementia, para peneliti menemukan jumlah molekul lemak dalam darah dapat berkontribusi pada penumpukan amiloid peptida di otak.

 
 

Sekarang, mereka ingin mengambil informasi ini dan menyusun metode untuk menguji molekul-molekul pada orang sebelum gejala Alzheimer terlihat. "Ini adalah studi pertama di mana molekul lipid yang diproduksi di otak ditemukan dalam darah, karena disposisi amiloid meningkat pada penyakit Alzheimer," ujar Cristina Legido-Quigley, seorang peneliti di King`s College dan penulis studi dikutip UPI.

"Amida berlemak ini dikenal sebagai pelindung saraf dan menyebabkan tidur. Ada juga bukti bahwa amiloid menumpuk di otak dengan kurang tidur, sehingga molekul-molekul ini mungkin memainkan peran dalam membersihkan amiloid beracun di otak," tambahnya.

Para peneliti juga mengatakan, amiloid peptida berubah menjadi plak beracun di otak yang merusak sel-sel saraf. Hal ini dapat menyebabkan penumpukan plak mulai bertahun-tahun sebelum gejala yang tampak seperti kehilangan memori seperti Alzheimer dapat terlihat.

Molekul lemak ini tumbuh sebagai akibat dari kurang tidur. Para peneliti mengamati, akumulasi molekul lemak telah berkorelasi dengan penyusutan otak dan demensia. "Prasyarat yang sangat dibutuhkan untuk perawatan baru untuk penyakit Alzheimer adalah tes diagnostik yang andal yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi orang yang berisiko," kata Legido-Quigley. *** (SS)

SHARE