Perseteruan Kawan Lama dengan CEO Facebook - Male Indonesia
Perseteruan Kawan Lama dengan CEO Facebook
MALE ID | Digital Life

Mark Zuckerberg tak bisa dipungkiri adalah pendiri Facebook paling terkenal, apalagi saat ini dia juga berstatus CEO. Namun, Mark juga tak sendirian saat mengawali pendirian Facebook, ia dibantu oleh beberapa temannya.


Photo: Ytoyoda/Wikipedia

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, semua teman yang sempat mendirikan Facebook berseteru dan memiliki pemikiran sendiri terhadap Facebook itu sendiri. Baru-baru ini, misalnya. Chris Hughes, meminta platform media sosial itu dipecah.

Ia mengkritik agar Facebook memisahkan Instagram dan WhatsApp yang telah mereka akuisisi sebelumnya. Chris Hughes meminta Mark agar Facebook melepaskan instagram dan Whatsapp demi menciptakan iklim kompetisi yang sehat.

Hughes menilai saat ini orang tidak memiliki pilihan beralih ke media sosial lain karena tidak ada pesaing yang seimbang dengan Facebook. Hal itu diungkapkan Hughes lewat opini yang dimuat oleh New York Times. 

Berdasarkan pengamatan Hughes, sejak 2011 tidak ada media sosial baru yang muncul sehingga 84% iklan dari media sosial masuk ke Facebook.

Selain bermasalah dari segi ekonomi, Hughes juga melihat bahwa Algoritme Kabar Berita (News Feed) Facebook mendikte konten yang dilihat warganet setiap hari. Kebijakan Facebook menilai konten yang dikategorikan ujaran kebencian tidak dilakukan secara demokratis.

Melihat perseteruan itu, ternyata Hughes bukanlah satu-satunya sosok kawan yang memiliki pemikiran tersendiri pada Facebook yang kemudian menjadi lawan bagi Zuckerberg.

Brian Acton
Salah satu langkah pintar dari Facebook adalah ketika mengakuisisi WhatsApp senilai 19 miliar dolar AS pada 2014. Tapi, para pendiri WhatsApp, Brian Acton dan Jan Koum, adalah orang-orang yang terobsesi dengan privasi.

Oleh karena itu, apa yang mereka terapkan di WhatsApp sering kali bersinggungan dengan Facebook. Ini dikarenakan Facebook menjalankan bisnis yang menghasilkan uang dari koleksi informasi penggunanya.

Berbeda pendapat, Acton kemudian mundur dari Facebook pada 2017 dan menjadi penasihat untuk aplikasi pesan kompetitor WhatsApp bernama Signal. Ia juga menyerukan slogan "Delete Facebook" yang ramai di media sosial.

Roger McNamee
Roger McNamee merupakan investor awal dari Facebook. Ia juga pernah menjadi mentor bagi Mark Zuckerberg di saat awal-awal Facebook berdiri. Namun, kedekatan yang pernah terjalin itu tampak berubah pada Januari 2018.

Sebelum terungkapnya skandal kebocoran data Cambridge Analytica, McNamee menuduh Zuckerberg dan Facebook sebagai 'toxic' atau jika diartikan adalah racun. Saat itu ia menyampaikannya dalam kolom opini di surat kabar.

Kemudian, apa yang ia nyatakan itu dituangkan secara gamblang dalam buku berjudul 'Zucked: Waking Up to the Facebook Catastrophe'.

Chris Cox
Chris Cox adalah salah satu orang penting dan teman dekat Zuckerberg. Sebelum menyatakan keluar dari perusahaan, ia menjabat sebagai Chief Product Officer.

Setelah keluar, Cox tidak secara terbuka mengkritik Facebook, tapi ia menunjukkan tanda-tanda jika dirinya tidak setuju dengan arah baru yang diambil Zuckerberg. Terutama terkait perubahan backend dari Facebook, WhatsApp, dan Instagram. Kepada Yahoo Finance, Cox mengaku meninggalkan Facebook karena perbedaan visi.

Sean Parker
Sean Parker adalah presiden pertama dan investor awal Facebook. Namun, pemikirannya soal media sosial telah berubah sepenuhnya. Pada November 2017, ia pernah mengkhawatirkan dampak media sosial terhadap otak manusia.

"Hanya Tuhan yang tahu apa dampak (media sosial) terhadap otak anak-anak," ujar Parker, kepada Axios. Menurut Parker, media sosial seperti Facebook dirancang untuk mengeksploitasi merusak otak anak-anak lewat fitur seperti 'Like'.

Justin Rosenstein
Apabila McNamee adalah investor awal Facebook, maka Justin Rosenstein adalah salah satu pegawai pertama Facebook. Ia merupakan salah satu sosok yang berjasa menemukan fitur 'Like' di Facebook.

Rosenstein memutuskan untuk keluar dari Facebook pada 2008. Kini, ia telah membangun startup baru bernama Asana, bersama Dustin Moskowitz, salah satu pendiri Facebook.

Dalam sebuah wawancara pada 2017 dengan The Guardian, Rosenstein mengaku telah berhenti menggunakan media sosial dan mengkritik fitur 'Like' yang ada di Facebook. *** (SS)

SHARE