Mengapa Pemain Bola Rentan Kena Serangan Jantung? - Male Indonesia
Mengapa Pemain Bola Rentan Kena Serangan Jantung?
Sopan Sopian | Sport & Hobby

Pencinta sepak bola dunia dikejutkan dengan kabar terbaru mantan kiper Real Madrid, Iker Casillas. Kiper yang saat ini menjaga gawang FC Porto mengalami serangan jantung saat latihan.


Photo by Edoardo Busti on Unsplash

Iker Casillas mengaku sudah dalam kondisi yang lebih baik setelah mengalami serangan jantung. Tapi, dia mengakui ada rasa takut. "Semua terkendali di sini! Sangat takut, tapi sepenuhnya merasa kuat. Terima kasih banyak untuk semua pesan dan kasih sayangnya," tulis Casillas yang dikutip dari BBC.

Seperti diketahui juga, ada beberapa pemain sepakbola yang pernah terkena serangan jantung. Salah satunya adalah Davide Astori, yang ditemukan meninggal di kamar hotelnya akibat serangan jantung.

Kemudian ada kasus meninggalnya Marc-Vivien Foe, gelandang Kamerun pada tahun 2003, ketika Kamerun bertemu Kolombia di semifinal Piala Konfederasi yang berlangsung di Prancis. Pada menit ke-72, Foe kolaps tanpa ada yang tahu penyebabnya. 

Beberapa waktu kemudian, hasil otopsi lanjutan menunjukkan bahwa Foe meninggal karena pembengkakan jantung. Berdasarkan laporan Owen Anderson dalam artikelnya yang berjudul "Heart Attack Risks Are Greater for Athletes Who compete In Endurance Sports", kemungkinan pesepak bola terserang penyakit jantung sama seperti yang dialami atlet olahraga ketahanan).

 
 

Dalam tulisannya,Owen menyebutkan 1 dari 50.000 atlet olahraga ketahanan (seperti balap sepeda, maraton, triatlon, dan lain-lain) berisiko tinggi mengalami serangan jantung. Penemuan ini diperoleh setelah meneliti kandungan enzim cardiac troponin I pada 38 atlet sepeda yang mengikuti kompetisi Tyrolean Otztaler Radmarathon pada 1999. 

Enzim cardiac troponin adalah enzim yang lazim terkandung dengan jumlah yang tinggi pada darah seseorang yang terdeteksi mengalami serangan jantung.

Penelitian menunjukkan bahwa kandungan cardiac troponin I meningkat pada 13 pesepeda (34%) setelah mengikuti kompetisi tersebut. Faktor-faktor yang menjadi pemicunya antara lain usia (makin muda makin “buruk”), catatan waktu (makin cepat,risiko bertambah tinggi), dan jarak yang ditempuh saat latihan. Melakukan latihan dan pertandingan dengan volume tinggi menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusakan myocardial.

Menurut Owen, ini berlaku pula pada atlet sepak bola. Pesepakbola profesional rata-rata menempuh total 9-12 km per pertandingan. Belum lagi banyaknya aktivitas di lapangan, sebut saja sprint. Bila dikalkulasi, pesepak bola bisa melakukan sprint sejauh 2,1 km. Ini tentunya mengeluarkan banyak energi. “Sepak bola tidak ubahnya dengan olahraga lain. Olahraga ini membutuhkan mobilitas tinggi. Itu membuat para pemain mengeluarkan energi lebih banyak,” kata Owen, dilansir Sportinglife

Berdasarkan data tersebut,pemain sepak bola memiliki risiko yang sama tingginya untuk terkena serangan jantung. Bahkan, mungkin pesepak bola profesional memiliki risiko lebih tinggi lagi. Hal ini diakibatkan intensitas latihan dan pertandingan yang dilakoninya jauh lebih tinggi. Pemain profesional umumnya bermain sekali dalam sepekan.

Bandingkan dengan maraton yang memiliki aturan membatasi atletnya bertanding hanya dua kali dalam setahun. Risiko lain yang berpotensi menyerang pesepak bola adalah Alzheimer. Penyakit ini biasanya menyerang petinju. Mereka kesulitan bergerak karena sarafnya terganggu akibat sering terkena pukulan. Pesepak bola juga tidak jauh berbeda dengan petinju. Pasalnya, mereka sering mengalami benturan fisik.

Kepala juga kerap terkena benturan saat duel udara, menghalau atau menyundul bola. Bila kondisi itu terjadi terus-menerus dalam waktu lama, bisa merusak sistem saraf, khususnya yang mengatur motorik. Karena itu, setiap klub semestinya waspada dengan kondisi kesehatan pemainnya. Apalagi, mereka adalah aset besar untuk menjadi juara. *** (SS)

SHARE