Menilik Kebenaran Perjalanan Waktu, Mungkinkah? - Male Indonesia
Menilik Kebenaran Perjalanan Waktu, Mungkinkah?
Sopan Sopian | Digital Life

Cerita fiksi ilmiah kerap menampilkan plot seorang astronot yang bisa kembali ke masa silam dengan mengarungi ruang dengan gerakan lebih cepat ketimbang kecepatan cahaya. Namun sebagian besar fisikawan menganggap skenario itu mustahil.

perjalanan Waktu - Male Indonesia
Photo by Mustafa ezz from Pexels

Bahkan, dalam film Avengers: Endgame pun memperlihatkan bagaimana perjalanan waktu itu terjadi. Akan tetapi pertanyaannya, apakah perjalanan menembus waktu mungkin terjadi?

"Secara teori sangat mungkin," kata Robert Nemiroff, fisikawan dari Michigan Technological University di Houghton, Amerika Serikat, dalam jurnal arXiv

Menurut Nemiroff, sebuah benda yang bergerak lebih cepat daripada kecepatan cahaya bisa saja kembali ke masa silam. Namun proses itu sangat berisiko. Proses itu akan menciptakan sepasang "hantu" yang menyerupai benda tersebut.

Pesawat yang bisa bergerak lebih cepat daripada cahaya memang sulit dibayangkan. Apalagi teori relativitas yang dicetuskan Albert Einstein menyatakan bahwa tak ada yang dapat bergerak lebih cepat daripada cahaya dalam ruang hampa.

Hal itu tidak sepenuhnya benar. Secara teknis, menurut Nemiroff, kecepatan melebihi kecepatan cahaya bisa saja terjadi, namun hukum relativitas menetapkan bahwa segala sesuatu yang mempunyai massa akan menjadi lebih berat ketika benda tersebut bergerak semakin cepat.

Karena itulah butuh energi yang tak terbatas untuk melampaui kecepatan cahaya. "Hampir semua fisikawan meyakini bahwa tak ada benda yang dapat bergerak lebih cepat daripada cahaya," ujar Sabine Hossenfelder, pakar fisikawan teoretis dari Nordita, Stockholm, Swedia.

 
 

Menurut profesor fisika dan matematika dari Universitas Columbia Brian Greene yang juga pendiri World Science Festival, perjalanan waktu bisa dilakukan di dunia nyata. Berbicara di acara tersebut, Greene menjelaskan bahwa perjalanan waktu dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni perjalanan waktu ke masa depan dan masa lalu. 

“Perjalanan waktu ke masa depan? Sudah pasti bisa dilakukan. Kita tahu hal ini bisa karena (Albert) Einstein telah menunjukkan caranya sekitar seratus tahun yang lalu,” ujarnya.

Menurut Einstein, jika Anda bisa pergi ke luar angkasa dan bergerak mendekati kecepatan cahaya, dan berbalik arah, waktu akan berjalan lebih lambat untuk Anda. Hasilnya, ketika Anda tiba di bumi, Anda akan sampai di masa depan bumi.

Einstein juga berhipotesis bahwa jika Anda berada di pinggiran sumber gravitasi, seperti sebuah bintang neutron atau lubang hitam, waktu akan menjadi lebih lambat untuk Anda. Hasilnya, ketika Anda kembali ke bumi yang jauh dari sumber gravitasi tersebut, Anda akan tiba di masa depan.

“Ini bukan sesuatu yang kontroversial. Semua fisikawan yang mengerti bidangnya akan menyetujui hal ini,” kata Greene dalam laman The Independent.

Dilain pihak, Profesor Stephen Hawking dan Brian Cox juga percaya bahwa kecepatan cahaya dapat mendorong manusia ke masa depan. "Perjalanan waktu pernah dianggap ajaran sesat. Dulu saya tidak mau membicarakan itu karena takut dilabeli sinting. Namun akhir-akhir ini saya kembali terobsesi dengan waktu," ujar Hawking sebulan sebelum meninggal, seperti dilansir The Sun.

Senada dengan Hawking, profesor Cox juga percaya perjalanan waktu mungkin dilakukan. "Perjalanan waktu ke masa depan adalah mungkin. Ini adalah bagian intrinsik dari cara alam membangun alam semesta. Kita semua adalah penjelajah waktu dengan cara kita sendiri," ujar Cox.

Mengutip situs resmi NASA, Marc Rayman, salah seorang ilmuwan dari NASA memberikan pendapatnya mengenai kemungkinan terjadinya perjalanan melintasi waktu berdasarkan apa yang dipelajari dalam sains.

Baginya, setiap manusia di dunia sejatinya sudah melakukan perjalanan waktu, dengan kecepatan 1 jam per jam. "Yang jadi pertanyaannya adalah, bisakah manusia berkelana lebih cepat dari itu?," ucapnya.

Menurutnya, semua berawal dari sebuah teori bernama relativitas khusus yang dicetuskan oleh salah satu ilmuwan kenamaan abad 20, yaitu Albert Einstein, yang mengacu pada konsep ruang waktu.

"Setiap objek yang melewati ruang waktu memiliki batas kecepatan hingga 300.000 kilometer per detik, dengan cahaya selalu melintasi ruang hampa pada kecepatan tersebut," ujar Rayman.

"Relativitas khusus juga menjelaskan bahwa saat sebuah objek bergerak melintasi ruang waktu pada kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya, maka waktu akan bergerak lebih lambat di sekitarnya," katanya menambahkan.

Rayman pun memberikan ilustrasi singkat yang berkaitan dengan implementasi dari teori tersebut. Ia memulai dengan seorang anak berusia 15 tahun yang berkelana ke luar angkasa menggunakan pesawat antariksa, dengan kecepatan sekitar 99.5% dari kecepatan cahaya dan hanya merasakan waktu berlalu selama 5 tahun.

"Saat ia pulang ke Bumi pada usia 20 tahun, ia akan melihat teman-temannya sudah berumur 65 tahun. Karena waktu berjalan lebih lambat baginya, maka lima tahun yang dilewatinya bisa sama dengan 50 tahun bagi objek yang tidak bergerak secepat dirinya," tutur Rayman.

Dari ilustrasi tersebut, ia mengambil kesimpulan bahwa anak tersebut sudah melakukan penjelajah waktu, dengan melebihi kecepatan satu jam per jam, sebagaimana yang dilakukan oleh semua orang di muka Bumi, sehingga mengantarnya pergi ke masa depan.

Perjalanan waktu seperti itu pun tidak melulu soal kecepatan, namun juga dapat disebabkan oleh gravitasi. Mengenai hal tersebut, Einstein menjelaskannya dalam teori relativitas umum.

Dalam teorinya, Einstein memprediksi waktu bergerak lebih lambat bagi objek yang berada di tempat dengan gaya gravitasi, contohnya Bumi, dibandingkan dengan objek yang tidak terpengaruh medan gravitasi.

Hal tersebut pun juga menjelaskan fenomena distorsi ruang dan waktu yang terjadi pada objek saat berada di dekat lubang hitam dengan gaya gravitasi yang sangat tinggi.

Dalam beberapa tahun belakangan, para peneliti menggunakan distorsi pada ruang waktu tersebut untuk menemukan cara bagaimana mesin waktu dapat bekerja, salah satunya adalah konsep worm hole yang menjadi portal dalam melintasi ruang waktu.

Walau konsep tersebut, serta sejumlah teori lain mengenai perjalanan waktu, berdasarkan pada sains, namun sampai saat belum ada yang dapat membuktikan apakah semua ide tersebut dapat benar-benar diimplementasikan oleh objek sungguhan.

"Saya percaya bahwa perjalanan melintasi waktu bisa saja terjadi, tapi kita akan membutuhkan pengembangan teknologi yang sangat mutakhir untuk melakukannya. Mungkin saja kita berkelana selama 1.000 tahun ke depan dan hanya bertambah tua setahun dalam perjalanan tersebut," ujar Rayman.

"Tapi jika pergi ke masa lalu, itu yang sulit. Melihat dari teori-teori yang ada, para peneliti tidak memiliki ilmu pengetahuan yang mencukupi terkait dengan hal tersebut, sampai kita benar-benar bisa menciptakan mesin waktu," katanya menambahkan. *** (SS)

SHARE