Watergate, Skandal Paling Memalukan di Amerika - Male Indonesia
Watergate, Skandal Paling Memalukan di Amerika
Gading Perkasa | Story

Pada Agustus 1974, Presiden Amerika Serikat Richard Nixon harus mundur karena skandal paling memalukan dalam sejarah negara itu. Terbongkarnya kasus dengan sebutan Watergate ini membuat praktik politik dan jurnalisme di Negeri Paman Sam itu berubah drastis hingga sekarang.


Photo: wikimedia commons

Seperti dilansir dari The New York Times, kepala satuan pengamanan Frank Wills, yang bertugas di Kompleks Perkantoran Watergate, Washington D.C, agaknya tidak mengira keberhasilannya menangkap lima pencuri pada dini hari 17 Juni 1972 bakal memengaruhi masa depan Amerika.

Kelima pelaku ternyata bukan sekadar pencuri biasa, melainkan anggota sayap politik Partai Republik yang hendak menyadap lawan-lawan mereka menjelang pemilihan presiden negeri adidaya tersebut.

Di gedung Watergate, terdapat kantor pusat Partai Demokrat, rival kubu Republik. Polisi yang mencokok kelima orang itu langsung curiga. Mereka tidak terlihat seperti pencuri, lantaran membawa walkie-talkie, kamera kecil, dan alat penyadap. Salah satu tersangka, Jim McCord, ternyata mantan pegawai badan Intelijen Amerika (CIA).

Selama beberapa bulan kasus upaya penerobosan Kantor Pusat Demokrat ini menguap. Rakyat Amerika sedang dilanda euforia terpilihnya kembali Presiden Richard Nixon dari Partai Republik. Dia dikenal sebagai salah satu presiden bertangan besi dan tegas, terutama karena bersikeras mempertahankan pasukan Amerika di Vietnam.

Januari 1973, publik mulai memperhatikan kembali kasus Watergate karena hakim John Sirica, selain menghukum tiga tersangka, menyatakan ada konspirasi politik menyelimuti upaya penyadapan itu.

Skandal ini mencuat setelah dua wartawan harian The Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein rutin melaporkan adanya dugaan keterlibatan Presiden Nixon. Informasi itu dibocorkan pejabat lingkaran dalam kekuasaan bernama samaran Deep Throat.

Berdasarkan laporan tersebut, terkuak bahwa tim kampanye Nixon menyewa beberapa tenaga lepas untuk menyadap kubu lawan. Pencurian informasi demi pemenangan pemilihan umum ini tidak hanya menimpa Partai Demokrat, melainkan banyak lembaga, termasuk kepolisian.

Publik makin murka karena saat Watergate mulai mencuat, muncul bukti bahwa kubu Nixon memaksa polisi dan jaksa menghentikan penyelidikan.

Bola panas pun bergulir, sampai akhirnya pada April 1974, Mahkamah Agung memaksa Nixon menyerahkan rekaman percakapan dirinya dengan penasihat politiknya di Gedung Putih.

Kubu Demokrat langsung menggalang hak angket untuk memakzulkan presiden. Tidak diduga, puluhan anggota parlemen dari Partai Republik ikut mendukung upaya ini.

Tepat pada pagi hari 8 Agustus 1974, Nixon membacakan pengunduran diri disiarkan radio dan televisi nasional. Dia mengambil keputusan itu lantaran pemakzulan tidak bisa dihindari lagi.

Nixon adalah satu-satunya presiden aktif yang mundur akibat tekanan politik sepanjang sejarah berdirinya Amerika. Bahkan Presiden Andrew Johnson dan Bill Clinton yang dimakzulkan parlemen rendah tetap menjabat sampai akhir karena adanya lobi di tingkat senat.

Sejak Watergate melengserkan Nixon, pemerintah Amerika memperbaiki undang-undang kampanye dan pemilihan umum. Kasus ini juga menjadi rujukan pakar hukum tata negara dari seluruh dunia soal cara parlemen memakzulkan presiden.

Dunia jurnalistik Amerika pun memperoleh manfaat. Liputan jenis investigasi kian marak. Pemanfaatan sumber anonim juga menjadi tren sejak kisah jurnalis Woodward membongkar Watergate dibukukan dengan judul All the President Men, bahkan dibuat adaptasi filmnya. [GP]

SHARE