Gugun Blues Shelter: Musik Kami Tidak Mainstream! - Male Indonesia
INTERVIEW
Gugun Blues Shelter: Musik Kami Tidak Mainstream!
Gading Perkasa | News

Kalangan penikmat musik di tanah air tentu sudah familier dengan nama Gugun Blues Shelter. Band beranggotakan Muhammad Gunawan aka Gugun (vokal, gitar), Fajar Adi Nugroho aka Fajar (bass), serta Adityo Wibowo aka Bowie (drum) ini telah malang-melintang di dunia permusikan sejak tahun 2004 dan menghasilkan begitu banyak karya.

Male Indonesia

Beberapa album yang mereka rilis yaitu Get the Bug (2004), Turn it On (2007), Satu untuk Berbagi (2011), dan Hitam Membiru (2016).

Tapi terlepas dari itu semua, mari mengenal Gugun Blues Shelter lebih dalam. Penasaran? Simak wawancara eksklusif MALE Indonesia bersama para personel Gugun Blues Shelter.

Gugun Blues Shelter sudah banyak main di luar negeri. Ketika kalian main di Amerika, lalu pulang ke Indonesia, apa perbedaan yang kalian rasakan?
Kalau kita bandingkan musik blues di Amerika dan Indonesia, yang jelas aliran blues kan asalnya dari Amerika. Di Indonesia sendiri, orang masih bertanya-tanya dan bingung mau menikmatinya seperti apa. Walaupun sebenarnya penggemar musik blues tetap ada. Namun tidak menjadi musik mainstream.

gbs gugun blues shelter

Tempat-tempat yang sangat mengapresiasi musik blues di Indonesia?
Sejauh ini sebenarnya tidak ada tempat khusus yang menampilkan musisi blues perform. Jadi kita pun sebelum main, berusaha meyakinkan venue bahwa kita bisa membawa massa. Tidak seperti Amerika yang punya House of Blues, B.B King, Buddy Guy, dan tempat lain di sana yang menampilkan musik blues.

Gugun Blues Shelter sudah punya beberapa album, tapi jarang merilis single. Kenapa?
Kita membuat musik agar orang tetap mengingat kita. Bahwa kita masih punya karya. Untuk mengejar single rasanya agak susah. Satu, kita independen. Dan musik-musik kita tidak mainstream. Biasanya, ketika kita jenuh dengan lagu lama, kita bikin lagu baru.

Banyak orang mengatakan Gugun Blues Shelter bukan grup rekaman, tapi grup panggung. Bagaimana tanggapan kalian?
Itu benar. Tidak banyak orang mendengarkan rekaman kita seperti artis lain. Mungkin konotasinya lebih ke live band. Nuansa rekaman lagu dibikin lebih rapi. Buat orang yang senang mendengarkan versi rekaman, lihat kita live rasanya agak wild. Tapi kita berusaha membuat musik yang bagus.

Apakah menjadi live band itu sebuah proses atau sudah kalian tentukan sejak awal?
Tidak ada pilihan seperti itu. Kita di beberapa album melakukan rekaman secara live. Belakangan, kita berusaha membuat musik yang rapi dan lebih simpel.

Atau karena live band menghasilkan lebih banyak pundi-pundi ketimbang rekaman?
Di masa sekarang, banyak juga beberapa band yang mencari keuntungan di live. Untuk penjualan album, kita lihat toko kaset/CD sudah enggak ada. Secara nominal pun, streaming dari lagu kita lumayan ter-monetize. Mungkin dibandingkan pop star atau most demanding artist sekarang jauh, karena kita lebih segmented.

Selama melakukan show, jenis lagu blues seperti apa yang bikin orang tertarik?
Yang jelas, di luar negeri orang lebih appreciate kalau kita membawakan lagu sendiri (original). Orang luar negeri juga berbeda dari orang Indonesia. Walaupun musik yang kita bawakan agak sedikit hard rock, tapi ada notasi blues, mereka tetap menganggap itu blues. Kalau Indonesia, mendengar musik kenceng konotasinya sudah rock, tanpa melihat notasi dan lain-lain. Saat kita main di venue kecil, mereka ingin musik yang lebih riang dan sedikit improve. Di Indonesia, ada pendengar yang senang lagu hits kita, ada juga yang memang seorang musisi dan menyuruh kita memainkan lagu-lagu sulit.

Male Indonesia

Berbagai literatur menyebut, blues lahir dari penderitaan. Sehingga dia memainkan musiknya begitu dalam. Kalian sendiri mendalami itu, atau justru membuat genre baru?
Dari awal, jujur saja kita mendalami itu untuk mendapatkan arti bermain blues. Pertama kita dengarkan musiknya. Kita coba masuk ke cerita di balik lagu itu. Di situlah muncul bunyi ‘merintih’ seperti yang orang-orang sering katakan. Tapi dalam membangun Gugun Blues Shelter, itu kita jadikan acuan saja. Karena kalau blues-nya terlalu kental, rata-rata pendengar di Indonesia pasti boring. Setidaknya ada unsur pop atau rock di dalamnya, jadi lebih ‘blues Indonesia’.

Ada pepatah bilang, “Blues is easy to play, but hard to feel”. Apa tanggapan kalian?
Itu bener banget. Kalau ada orang yang minta diajarkan cara bermain blues, berarti di kepala dia, blues adalah pentatonik. Tapi untuk menjadikan blues bernyawa, itu yang sulit.

Berapa lama proses sampai membuat blues bisa bernyawa?
Kita harus bisa menguasai, dan main di tempat yang tepat. Karena yang menilai adalah orang lain. Sering-sering showcase, dilihat orang, dan melihat orang mainnya seperti apa. Evolusi setiap orang berbeda-beda. Tidak ada patokan.

Male Indonesia

Karya baru yang akan dikenalkan ke publik?
Kita baru saja merilis box set, di dalamnya ada tiga CD, lalu memorabilia seperti t-shirt, pick gitar, dan stik drum.

Sering kolaborasi dengan band indie lain yang berbeda genre?
Kebanyakan kita malah kolaborasi sama band mainstream. Susah, karena rata-rata band indie musiknya jarang blues. Biasanya mereka beraliran rock, alternative.

Ke depannya, apa yang perlu dibenahi di kancah musik indie?
Sementara belum ada. Menurut kita, ini era keemasan buat musik indie. Sejak major label gulung tikar, 4 - 5 tahun terakhir indie berada paling atas. Mudah-mudahan, lembaga kreatif di Indonesia benar-benar memfasilitasi. Karena kan mereka bilang, mereka bergerak di industri kreatif dan ‘akrab’ sama musisi indie. Rangkul semua secara merata.

gbs gugun blues shelter

Daerah mana di Indonesia yang paling antusias menyambut Gugun Blues Shelter dan musisi indie secara keseluruhan?
Rata-rata di kota besar. Tapi agak susah juga. Saat kita datang ke satu kota, sambutannya meriah. Ketika kembali ke kota itu, bisa saja sambutannya berubah. Yogyakarta, Bandung, Surabaya. Kalau musik indie pada umumnya, setiap kota di Indonesia bakal ramai ketika musik yang dibawakan beraliran reggae.

Festival blues tidak hidup di tanah air. Apa yang membuat kondisi itu terjadi?
Karena musisi blues tidak banyak bikin album. Pelakunya bisa dihitung sebelah tangan. Kita sendiri juga pernah mengajukan ke sponsor mau bikin festival bertema blues. Mereka minta kita sebutkan sepuluh band blues. Nggak bisa. Musisi blues tidak banyak pergerakan. Untuk tur tiga band blues sendiri agak sulit.

Solusinya, harus sering ikut festival di luar negeri?
Bermain sebanyak-banyaknya. Karena Gugun Blues Shelter dicap sebagai musik yang ketinggalan zaman. Dan itu pekerjaan rumah kita untuk terus berinovasi. Berusaha membuat sesuatu yang berbeda dan mampu bersaing dengan musik mainstream. Apalagi banyak aliran musik baru. Kita berinovasi, tapi tidak menghilangkan jati diri Gugun Blues Shelter. [GP]

SHARE