Menikmati Sunda Kelapa, Pelabuhan di Utara Jakarta - Male Indonesia
Menikmati Sunda Kelapa, Pelabuhan di Utara Jakarta
Sopan Sopian | Relax

Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan bagian dari catatan sejarah yang tak bisa dipisahkan dari Kota Jakarta. Sejak tahun 1500-an, pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan di Asia di mana kapal-kapal asing yang berasal dari Jepang, India dan Timur Tengah merapat dan membawa barang-barang komoditi.


Photo: Sopian/Male Indonesia

Hingga saat ini, hiruk pikuk suasana pelabuhan pun masih bisa ditemui di sana, meskipun tak seramai dulu. Namun keberadaan Pelabuhan Sunda Kelapa yang terletak di utara ibu kota ini masih menyimpan daya tarik bagi masyarakat luas, khususnya wisatawan domestik ataupun mancanegara.

Kesan kering, gersang dan panas memang identik dengan pelabuhan. Sama halnya dengan Pelabuhan Sunda Kelapa, saatt menginjakkan kaki ke sini, Anda akan bertemu pemandangan seperti itu. Tetapi, pasti ada yang menarik kenapa pelabuhan ini  menjadi salah satu tujuan wisata, bahkan termasuk salah satu spot foto yang seringkali dipilih. Misalnya untuk pre-wedding, fashion atau foto buku tahunan, dan lain sebagainya.


Photo: Sopian/Male Indonesia

Deretan kapal-kapal besar yang berjejer di tepi pelabuhan ini yang menjadi daya tariknya. Belum lagi tumpukan kontainer dengan cat warna-warni merupakan pemanis bagi kaum urban yang makin enggan dengan kemacetan.

Kapal-kapal kayu yang masih berlabuh hingga kapal yang sudah tak terpakai merupakan pemandangan jarang di balik megah Jakarta dengan gedung pencakar langitnya. Di sini juga terdapat kapal pinisi dengan campuran gaya Madura dan berbagai daerah lainnya.

 
 

Aktivitas para ABK (Anak Buah Kapal) adalah pemandangan selanjutnya yang tak boleh terlewatkan. Berbalut peluh sembari membiarkan tubuh terbakar panasnya matahari yang menyengat, mereka bekerja dengan gigih. Mereka melakukan kegiatan bongkar muat barang secara tradisional. Ada yang mengandalkan tenaganya sendiri untuk memanggul barang-barang sambil menjaga keseimbangan demi melewati pijakan yang hanya terbuat dari kayu.


Photo: Sopian/Male Indonesia

Bosan memperhatikan deretan kapal-kapal yang merapat, tak ada salahnya berkeliling di antara himpitan dua kapal besar sambil melihat pemandangan yang lebih luas dengan menggunakan perahu sampan. Bila ingin naik perahu ini, sejumlah nelayan akan menghampiri para wisatawan dan melakukan tawar menawar harga. Harga yang ditawarkan pun tak lebih mahal dari harga segelas kopi di pusat perbelanjaan mewah.

Di atas perahu yang berlayar dengan menggunakan bantuan mesin bermotor, pelajaran kehidupan baru pun akan dimulai. Menyelami kehidupan nelayan dengan lingkungan yang masih jauh dari layak. Serta para ABK kapal yang mungkin saja hanya makan apa adanya di atas kapal  yang merapat, tanpa terpikirkan sepotong dada ayam dengan kentang goreng di salah satu restoran cepat saji.


Photo: Sopian/Male Indonesia

Namun para nelayan tersebut begitu terampil menjelaskan ketika wisatawan mulai bertanya-tanya tentang hal yang terkait dengan Pelabuhan Sunda Kelapa. Mereka juga siap membawa para wisatawan berlayar menikmati dua mercusuar berwarna merah dan hijau, yang katanya belum ke Pelabuhan Sunda Kelapa jika belum melihat kedua mercusuar tersebut.

Jika sedikit sabar, wisatawan bisa menunggu waktu sampai matahari terbenam. Menunggu senja sambil mengabadikan siluet para pekerja dan kapal-kapal di pinggir dermaga. Ibarat menikmati sunset romantis di pinggir Pantai Kuta, Pelabuhan Sunda Kelapa juga menawarkan hal yang sama. Semua tergantung bagaimana cara menikmatinya. *** (SS)

SHARE