Peran Penting Kaisar di Perjalanan Sejarah Jepang - Male Indonesia
Peran Penting Kaisar di Perjalanan Sejarah Jepang
Kontributor | Story

Kaisar, lambang seorang pemimpin di Negara Matahari Terbit yang diturunkan secara turun temurun dari para keluarga dan secara konstitusional merupakan lambang negara dan suatu bangsa.


Photo: Shawnc/Wikimedia Commons

Kaisar sendiri, menjadi pemegang kewenangan tertinggi agama Shinto yang dinilai sebagai keturunan dari dewi matahari yaitu amaterasu. Seperti dikutip dari Nippon.com Jepang merupakan salah satu yang paling tertua dalam monarki turun-temurun.

Kaisar pertama dari Jepang, yaitu Kaisar Jimmu pada tahun 660 Sebelum Masehi. Dilihat dari sejarahnya, peran Kaisar Jepang berganti-ganti antara peran simbolis seremonial dan peran seorang penguasa kekaisaran sebenarnya.

Kaisar Jepang selalu dikendalikan oleh kekuatan politik eksternal, hingga berbagai tingkatan. Akan tetapi, Kaisar yang dipilih selalu pria karena dirasa pria merupakan sosok yang tepat menjadi seorang pemimpin.

Selain dari itu, terdapat nama Shogun yaitu Dari tahun 1192 sampai 1867, shogun bertindak sebagai de facto penguasa Jepang, walaupun mereka dinobatkan oleh kaisar dalam upacara formalitas. Shogun pada dasarnya adalah jenderal kemiliteran.

Kekaisaran pada tahun 1868 terjadi restorasi atau perubahan yang cukup signifkan, shogun dibubarkan dan kaisar Meiji menjadi pemimpin negara.

Kaisar Meiji, memiliki peran yang absolut karena memegang kekuasaan politik, kebebasan berdaulat, serta kekuatan militer. Namun, pada praktiknya tetap saja ada perdana menteri, jenderal dan laksamana.

Suatu peristiwa besar yang sangat tidak bisa terlupakan dalam kekaisaran Jepang adalah peristiwa pada tahun 1945 dibawah kekuasaan kaisar Hirohito.

Dimana Jepang, dijatuhkan bom atom di dua kota penting yaitu Hiroshima dan Nagasaki dimana dua kota tersebut sangat penting dalam berbagai hal termasuk pertahanan Jepang.

Setelah jatuhnya bom di Hiroshima, kaisar Hirohito melakukan rapat bersama faksi dewan perang tertinggi Jepang untuk menerima Deklarasi Postdam akan tetapi hampir sebagian besar menolak jika menyerah tanpa syarat.

Namun, peristiwa yang terjadi semakin memburuk ketika pada tanggal 8 Agustus Uni Soviet mengibarkan bendera perang dengan Jepang.

Kaisar Hirohito pun, kembali melakukan rapat bersama faksi dewan perang tertinggi Jepang untuk menerima Deklarasi Postdam tepat sebelum tengah malam tanggal 9 Agustus. 

Kaisar mendukung suatu proposal yang dibuat perdana menteri Suzuki, yaitu dengan syarat tidak mengkompromikan permintaan apapun yang mengurangi hak preogratis kaisar sebagai penguasa yang berdaulat.

Hingga, pada saat ini kaisar Negeri Matahari Terbit ini yaitu kaisar Naruhito yang diangkat pada Mei 2019 yang sebelumnya adalah kaisar Heisei atau Akihito, yaitu ayahnya. (YS)

SHARE