Riset: Stres Meningkat Akibat Internet Melambat - Male Indonesia
Riset: Stres Meningkat Akibat Internet Melambat
MALE ID | Digital Life

Saat ini hampir semua orang di dunia memanfaatkan internet untuk beragam keperluan sehari-hari. Anda bebas mengirimkan berbagai file atau data kapan saja dan di mana saja, browsing, download, meng-upload, chatting, dan lainnya.

Internet Lambat-Male Indonesia
Photo by Robert Bye on Unsplash

Begitu besarnya pengaruh internet terhadap kehidupan sehari-hari, terkadang akan merasa jengkel saat koneksi internet menjadi lambat. Beragam pekerjaan bisa terhambat hanya karena koneksi internet yang lambat. Selain menghambat produktivitas, koneksi internet yang lambat juga bisa menimbulkan dampak buruk.

Bahkan, Nielsen, lembaga riset media dan ekonomi asal Inggris, pernah merilis laporan yang menyebutkan bahwa kebanyakan konsumen di dunia merasa gelisah jika berada jauh dari gawainya, dari medsosnya, dari dunia sekundernya. 

Dalam laporan yang dirilis pada Oktober 2016 tersebut, Nielsen menyatakan bahwa 56 persen konsumen global tidak dapat membayangkan hidup tanpa perangkat ponsel pintarnya. Kemudian, dijelaskan pula bahwa 53 persen konsumen global merasa tidak tenang jika berada jauh dari perangkat mobile mereka. Bahkan, 70 persen konsumen global merasa perangkat mobile membuat hidup mereka menjadi lebih baik. 

Selain itu, Ericsson melalui ConsumerLab-nya juga sempat mempublikasikan sebuah riset bertajuk “The Stress of Streaming Delays”. Dalam risetnya, Ericsson membagi responden menjadi tiga kelompok yang diberi gawai dan sebuah pekerjaan dengan modal jaringan internet tanpa gangguan, dengan gangguan jaringan tingkat menengah, dan gangguan jaringan tingkat tinggi. 

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respons responden dari ketiga situasi di atas. Pendekatan yang dipakai adalah studi neurosains sehingga peneliti memantau aktivitas otak, gerakan mata, dan nadi responden selama mereka berselancar ke beberapa situsweb dan menonton video klip. Mereka juga mengukur persepsi responden operator jaringan internet yang dipakai sebelum dan sesudah dilaksanakannya penelitian. 

Hasilnya menunjukkan, penundaan dalam memuat sebuah laman dan video meningkatkan level detak jantung dan stres responden. Rata rata dalam sekali penundaan akan menghasilkan 38 persen peningkatan detak jantung. Sedangkan untuk stres, partisipan telah menunjukkan stres sejak awal memegang gawai sebab salah satu perintahnya yakni menuntaskan sebuah pekerjaan dengan waktu yang terbatas.

Dalam pelaksanaannya, penundaan-penundaan dalam akses internet membuat tingkat stresnya lebih tinggi lagi. Stres sebesar 13 persen bahkan tetap ada pada kelompok responden yang jaringan internetnya lancar jaya. Untuk kelompok kedua dengan penundaan tingkat menengah, tingkat stres di awal penelitian sudah mencapai 16 persen. 

Setelah penundaan-penundaan selama dua detik di sisa penelitian tingkat stresnya naik menjadi 31 persen. Sementara itu di kelompok dengan tingkat penundaan paling tinggi sudah merasakan kenaikan tingkat stres sebesar 19 persen di awal riset. Di sisa riset dengan penundaan-penundaan hingga 6 detik, tingkat stresnya sudah mencapai 34 persen. *** (SS)

SHARE