Hati-Hati Pelanggaran Lisensi untuk Konten Digital - Male Indonesia
Hati-Hati Pelanggaran Lisensi untuk Konten Digital
MALE ID | Digital Life

Aturan penggunaan suatu karya diatur dalam lisensi yang disertakan pada karya tersebut. Kebanyakan negara menerapkan automatic copyright untuk setiap karya yang dibuat, dengan kata lain ketika suatu karya tidak dijelaskan lisensinya, maka hak atas kekayaan intelektual sepenuhnya pada si pembuat sesuatu itu. 

Photo: Nick Youngson/thebluediamondgallery.com

Di Indonesia, seperti dijelaskan dalam Undang-undang No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Copyright atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah hak cipta, adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bagi yang melanggar, ancaman hukumannya tak main-main, yakni penjara mulai dari satu bulan hingga lima tahun serta denda sebanyak lima ratus juta hingga lima miliar rupiah.

Terkait lisensi,  banyak lembaga yang mendirikan organisasi perlindungan hak cipta, salah satunya adalah DMCA. Ada juga lembaga yang memfokuskan diri untuk memperluas cakupan karya kreatif milik seseorang agar kemudian karya tersebut dapat digunakan serta dibagikan secara luas dan pastinya legal, lembaga yang dimaksud adalah Creative Commons.

Creative Commons atau kerap disingkat CC umumnya melindungi berbagai macam konten digital seperti teks, gambar, musik, hingga video yang tersebar dalam domain publik seperti YouTube, Forum, dan website lain yang memiliki izin pendistribusian dari pemiliknya. Konten-konten yang berada di bawah lisensi Creative Commons akan dijamin terlindungi. 

Kasus Pelanggaran Hak Cipta Foto di Ranah Digital
Pada tahun 2013, seorang fotografer mengajukan gugatan terhadap BuzzFeed. Ia mengklaim bahwa BuzzFeed telah melanggar hak cipta salah satu foto yang ia pos di Flickr pada tahun 2009. Fotografer tersebut meminta BuzzFeed untuk membayar ganti rugi hingga mencapai US$3,6 juta (sekitar Rp48,2 miliar).

BuzzFeed bukan satu-satunya media yang pernah tersandung kasus pelanggaran hak cipta akibat menggunakan foto orang lain. Agensi stok foto berbasis di Amerika Serikat, Getty Images, dan media berita internasional Agence France-Presse pernah mengalami hal yang sama.

lisensi-Male-Indonesia
Photo by rawpixel.com from Pexels

Seorang fotografer internasional bernama Daniel Morel menggugat kedua perusahaan tersebut karena telah menggunakan foto yang ia pos ke Twitter tanpa izinnya. Setelah melalui proses hukum, Morel akhirnya memenangkan gugatan tersebut dan mendapatkan ganti rugi sebesar US$1,2 juta (sekitar Rp16 miliar).

Bahkan perusahaan sekelas Google dan Amazon pun juga pernah mengalami kasus serupa. Keduanya pernah digugat oleh perusahaan majalah pria dewasa berjudul Perfect10. Menurut Perfect10, Google dan Amazon telah melanggar hak cipta dengan memuat foto-foto di dalam majalah, meski hanya digunakan sebagai thumbnail.

Namun, pihak pengadilan menyatakan Google dan Amazon tidak bersalah. Pihak pengadilan menilai bahwa thumbnail memiliki manfaat publik yang luas sehingga tidak boleh terancam karena khawatir akan berdampak pada penjualan.

Cara Menghindari Pelanggaran Hak Cipta Gambar di Internet
Menambahkan sebuah foto dalam sebuah tulisan tentu akan membuat sebuah tulisan lebih menarik dibaca. Sebaliknya, dapat terasa membosankan, sebuah artikel fashion tanpa foto-foto yang berkaitan dengan isi tulisan.
 
Bagi pengguna gambar atau Anda yang menjalankan profesi-profesi tertentu dimana kebutuhan akan gambar cukup tinggi sebaiknya berhati-hati mengambil gambar pihak lain, termasuk di internet. Hak cipta tidak selalu didaftarkan atau disebutkan pada sebuah gambar oleh pemiliknya. 

Tidak ada kewajiban bagi pemilik hak cipta untuk kedua hal tersebut. Karenanya, mengutip laman Hukum Online, pada saat Anda ragu mengenai hak cipta atas sebuah gambar, selalu berasumsi bahwa sebuah gambar dilindungi hak cipta dan berusaha mendapatkan izin penggunaan dengan benar, merupakan pilihan sikap yang bijak.
 
Sebelum menggunakan sebuah gambar yang bukan milik Anda, usahakan untuk terlebih dahulu selalu mencari informasi tentang sumber gambar yang bersangkutan dan mengetahui apakah pemilik gambar (baik langsung atau melalui penyedia gambar yang telah ditunjuknya secara resmi) menyediakan lisensi/ijin kepada orang lain baik dengan berbayar, non berbayar (gambar-gambar yang merupakan public domain) atau melalui lisensi creative commons (memberi ijin pakai dengan kondisi-kondisi tertentu).
 
Agar terbebas dari ketidaknyamanan yang mungkin timbul di kemudian hari akibat tuntutan hukum pemilik hak cipta, disarankan untuk mengikuti syarat dan ketentuan yang digariskan pemilik/penyedia gambar sebelum gambar tersebut dipilih dan digunakan. *** (SS)

SHARE