Gelar Scudetto Si Nyonya Tua yang Spektakuler - Male Indonesia
Gelar Scudetto Si Nyonya Tua yang Spektakuler
MALE ID | Sport & Hobby

Gelar juara Liga Italia Serie A 2018/2019 (scudetto) jatuh ke tangan Si Nyonya Tua, Juventus. Hebatnya, mereka berhasil keluar sebagai juara saat kompetisi liga masih menyisakan lima pertandingan lagi.


Photo: dmolsen on Visualhunt.com / CC BY-NC-SA

Scudetto ini menjadi torehan istimewa bagi Juventus, menandai bahwa mereka memenangi Serie A selama delapan musim berturut-turut. Perjalanan yang cukup panjang membuat mereka layak disebut sebagai raja sepak bola Italia.

Wakil Presiden Juventus, Pavel Nedved, percaya jika pencapaian klubnya tak akan terulang lagi di masa mendatang. Namun setidaknya, mereka telah mematahkan rekor Olympique Lyon di kancah Eropa.

“Merawat gelar juara secara beruntun dalam jangka panjang bukan perkara sulit lagi, tapi secara praktik, tergolong mustahil. Makanya saya pikir, hal ini tidak akan terulang, terutama di Italia,” kata Nedved, sebagaimana dilansir dari Football Italia.

Tujuh scudetto beruntun yang direngkuh Juventus sejak 2011/12 hingga 2017/18 memang prestasi mentereng. Tapi Si Nyonya Tua belum jadi yang terhebat karena sejak 2001/02 hingga 2007/08, Lyon juga mengumpulkan gelar juara liga tujuh musim berturut-turut.

Itu sebabnya, keberhasilan Juventus mengunci scudetto ke delapan beruntun patut diacungi jempol. Mereka satu-satunya tim dari lima liga top Eropa (Italia, Inggris, Prancis, Spanyol, dan Jerman) yang sanggup memecahkan rekor tersebut.

Bagi Nedved, pencapaian tersebut tidak semata-mata karena materi Juventus sebagai tim. Banyak elemen terlibat, mulai dari mereka yang terjun langsung di tiap pertandingan, hingga orang-orang di balik layar.

“Gelar berhasil kami dapatkan lagi dan lagi bersama pemain dan pelatih yang luar biasa. Tapi di atas segalanya, ini berkat mentalitas Juventus. Seluruh orang di klub pantas diapresiasi. Bagaimanapun, delapan scudetto adalah pencapaian gila,” tutur Nedved.

Juventus memang bergelar Si Nyonya Tua. Walau begitu, kekuatan mereka di kancah Serie A, tidak lantas layu. Mereka masih perkasa dan melaju kencang. Maka tak heran, delapan musim diisi kisah perjalanan yang bermuara pada pesta juara.

Gelar juara di negeri sendiri seolah tak cukup bagi klub besar manapun, termasuk Juventus. Masih ada kompetisi Eropa sekaliber Liga Champions, tempat mereka mengolah si kulit bundar yang harus ditaklukkan.

Sayang sekali, Bianconeri seolah kehilangan tajinya di kancah Eropa. Kali terakhir mereka menjuarai Liga Champions yaitu di tahun 1996, dimana mereka mengalahkan Ajax lewat babak adu penalti. [GP]

SHARE