Masalah Kebersihan yang Tersimpan di Jenggot Anda - Male Indonesia
Masalah Kebersihan yang Tersimpan di Jenggot Anda
Gading Perkasa | Looks

Buat kaum adam, mempunyai jenggot atau rambut di wajah dapat menunjang rasa percaya diri sekaligus menonjolkan sisi maskulin. Sayangnya, riset terbaru membawa kabar buruk bagi pria berjenggot.

Photo by Fernanda Latronico from Pexels

Seperti dilansir dari DMarge, riset yang dilakukan oleh Profesor Gutzeit dari Hirslanden Clinic, Swiss, menemukan jenggot membawa lebih banyak kuman daripada bulu anjing. Jumlah bakteri secara signifikan lebih tinggi dalam spesimen yang diambil dari rambut wajah pria daripada bulu anjing.

Riset awalnya bertujuan untuk menentukan apakah penyakit bawaan dari anjing dapat ditularkan oleh manusia melalui pemindai MRI yang digunakan oleh dokter hewan dalam pemeriksaan.

Peneliti menganalisis sampel dari 18 jenggot pria dan 30 leher anjing, serta membandingkan hasil keduanya. Sampel diambil dengan semacam kain yang diusapkan ke area rambut wajah dan leher anjing subjek penelitian.

Kelompok fokus riset terdiri dari pria berjanggut berusia antara 18 - 76 tahun. Didapati semuanya memiliki mikroba tinggi di jenggot mereka. Hasil ini sangat kontras dengan anjing yang diuji, dimana sebanyak 23 dari 30 anjing punya jumlah mikroba tinggi dan sisanya mengandung mikroba dalam jumlah sedang.

Peneliti juga menemukan, separuh rambut wajah pria mengandung serangga yang dapat memengaruhi kesehatan. “Berdasarkan temuan ini, anjing dianggap lebih bersih dibandingkan pria dengan rambut di wajah,” ucap Gutzeit, mengutip DMarge.

Walau bukti ilmiah telah dipaparkan, banyak pria tidak mempedulikan kebersihan rambut di wajahnya. Keith Flett, pendiri Beard Liberation Front, kelompok pendukung jenggot dan menentang diskriminasi pogonophobia mengatakan ada keraguan masuk akal tentang keabsahan penelitian terbaru ini.

Menurutnya, mikroba dalam sampel bisa saja tercampur dari mikroba di tangan pengambil sampel. “Saya tidak percaya jenggot tidak higienis. Tampaknya ada semacam cerita negatif turun temurun yang membuat lebih banyak pogonophobia,” tutur dia.

Sekadar informasi, secara umum pogonophobia adalah ketakutan ekstrem dan tidak rasional terhadap jenggot.

Riset sebelumnya juga pernah membuktikan hal serupa. Riset dilakukan oleh ahli mikrobiologi John Golobic dengan menyeka jenggot subjek riset secara acak.

Hasilnya, ilmuwan menemukan adanya bakteri usus yang biasa ditemukan dalam feses. Menurutnya, bakteri jenggot tidak mungkin menyebabkan penyakit, namun tetap harus diperhatikan kebersihannya.

Ilmuwan lain membantah hasil riset Golobic. Pasalnya, mereka menganggap sebagian besar bakteri pada jenggot juga dapat ditemukan di kulit kita.

Riset lain yang turut menentang temuan Golobic mengklaim bahwa rambut di wajah pria bisa melindungi mereka dari infeksi resisten terhadap obat. [GP]

SHARE