Tatap Muka tak Boleh Digantikan Komunikasi Digital - Male Indonesia
Tatap Muka tak Boleh Digantikan Komunikasi Digital
Sopan Sopian | Digital Life

Sadarkah Anda, kemunculannya Skype, Whatsapp, dan Snapchat, bagi banyak orang percakapan tatap muka menjadi sudah jarang digunakan? Aplikasi tersebut memungkinkan antar pengguna satu sama lain dengan dengan cepat memperpendek jarak, zona waktu, dan negara.

tatap-muka-Male-IndonesiaImage by Manuel Alvarez from Pixabay

Istilah 'mendekatkan yang jauh' semakin terasa. Sehingga cara komunikasi lewat aplikasi ini mengurangi kebutuhan untuk berbicara dengan manusia lain secara tatap muka. Artinya, percakapan yang terjadi sehari-hari sekarang lebih banyak menggunakan teknologi.

Jadi orang tidak perlu lagi berbicara dengan asisten toko (e-commerce), resepsionis (aplikasi pemesanan hotel), supir bus (angkutan umum online) atau bahkan rekan kerja, semua orang hanya menggunakan layar untuk berkomunikasi apa pun yang ingin dikatakan.

Bahkan, lorang cenderung hanya berbicara kepada orang lain ketika teknologi digital tidak beroperasi dengan sukses. Misalnya, kontak antar manusia terjadi ketika memanggil asisten (pelayan) untuk membantu seseorang ketika suatu barang tidak dikenali, misalnya saat sedang berada di swalayan.

Dan ketika orang memiliki kemampuan untuk terhubung dengan begitu cepat dan mudah dengan orang lain menggunakan perangkat teknologi dan aplikasi perangkat lunak, mudah untuk mulai mengabaikan nilai dari percakapan tatap muka. Tampaknya lebih mudah untuk mengirim pesan teks seseorang daripada bertemu dengan lawan bicaranya secara langsung.

Laman The Next Web menuliskan bahwa, dalam penelitiannya, teknologi digital menunjukkan bahwa frasa seperti "dari mulut ke mulut" atau "tetap berhubungan" menunjukkan pentingnya percakapan tatap muka. Sesungguhnya, percakapan tatap muka dapat memperkuat ikatan sosial dengan tetangga, teman, rekan kerja, dan orang lain yang orang jumpai di setiap harinya.

 
 

Percakapan tatap muka adalah pengalaman yang kaya yang melibatkan pada ingatan, koneksi, mental, asosiasi dan respons. Percakapan tatap muka juga multisensor, bukan hanya tentang mengirim atau menerima pernak-pernik yang sudah diprogram seperti suka (like), kartun cinta hati (icon) dan senyum emoji kuning.

Saat melakukan percakapan menggunakan video (video call), Anda terutama melihat wajah orang lain hanya sebagai gambar datar di layar. Tetapi ketika percakapan tatap muka dalam kehidupan nyata, Anda dapat melihat mata seseorang, menjangkau dan menyentuh mereka. 

Anda juga dapat mengamati postur tubuh orang lain dan gerakan yang mereka gunakan saat berbicara, dan menafsirkannya sesuai dengan apa yang Anda lihat secara langsung. Semua faktor ini, berkontribusi pada intensitas sensorik dan kedalaman percakapan tatap muka yang Anda miliki dalam kehidupan sehari-hari.

Sherry Turkle, profesor studi sosial sains dan teknologi, memperingatkan bahwa ketika seseorang pertama kali "berbicara melalui mesin, [orang] lupa betapa pentingnya percakapan tatap muka dengan hubungan sesamanya, kreativitas, dan kapasitas seseorang untuk empati".

Dalam banyak hal, kehidupan sehari-hari seseorang sekarang melibatkan perpaduan bentuk komunikasi tatap muka dan yang dimediasi secara teknologi. "Tetapi dalam pengajaran dan penelitian saya, saya menjelaskan bagaimana bentuk komunikasi digital dapat melengkapi, alih-alih menggantikan percakapan tatap muka," ujar Turkle.

Namun, pada saat yang sama, lanjut dia, penting juga untuk mengakui bahwa beberapa orang menghargai komunikasi online karena mereka dapat mengekspresikan diri mereka dengan cara-cara yang mungkin sulit dilakukan melalui percakapan tatap muka.

Gary Turk seorang budayaawan menuliskan karya sasatra yang menarik perhatikan, di mana ia menuliskan bahwa aspek sensori yang kaya dari komunikasi tatap muka, itu dapat menghargai kehidupan tubuh dalam kaitannya dengan persahabatan dan keintiman. 

Gagasan sentral yang mengalir melalui karyanya itu menggugah, bahwa perangkat berbasis layar mengkonsumsi perhatian semua orang, dan sementara menjauhkan dari seseorang pada rasa tubuh bersama orang lain.

Pada akhirnya, suara, sentuhan, bau, dan pengamatan isyarat tubuh yang orang alami ketika melakukan percakapan tatap muka tidak dapat sepenuhnya diganti oleh perangkat teknologi. Berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain melalui diskusi tatap muka sangat berharga. Karena itu bukan sesuatu yang dapat diedit, dijeda, atau diputar ulang. *** (SS)

SHARE