Perjalanan Panjang Penikmat Musik Progressive - Male Indonesia
Komunitas
Perjalanan Panjang Penikmat Musik Progressive
Sopan Sopian | Sport & Hobby

Berawal dari sebuah radio yang memutar lagu-lagu clasic rock. Semuanya dimulai. Terlebih ketika Andy Julias (alm), personil Band Rock 80-an MAKARA, menjadi music director di radio tersebut pada tahun 2000-an.


Rikon memegang album musik yang dirilis bersama Indonesian Progressive Society (IPS)/Foto: Sopian-Male Indonesia

Masuknya kakak kandung pemain keyboard Adi Adrian "KLa Project" itu membuat warna musik radio tersebut berubah. Di mana, di setiap hari Minggu-nya dibuatkan program dengan memutar musik-musik dari band 70-an yang progressive. Seiring penikmatnya bertambah, Andy Julias pun membuat acara setiap Selasa Malam yang masih menyangkut genre musik progressive.

Kemudian, untuk mempererat dan saling mengenal antar pendengar, diajaklah untuk berkumpul di studio. Akhirnya saling semua kenal, baik dari penyuka metal 80-an yang mengerti progressive hingga yang tidak faham apa itu progressive

Berdirinya Indonesian Progressive Society (IPS)
Rikon, pengurus inti komunitas Indonesian Progressive Society (IPS) menceritakan bagaimana kelanjutan dari perkumpulan para pendengar itu, kemudian menjadi sebuah komunitas solid terkait musik progressive yang diberi nama Indonesian Progressive Society.

indo progressive
dok. IPS

"Setelah sering ngumpul di studio. Program radio musik progressive itu ditambah, yang awalnya cuma hari Minggu, jadi hampir tiap hari. Mulai dari Minggu sampai Jumat. Jadi setiap pulang kantor di hari Jumat, ngumpul di Radio di ruangannya Andy Jualias yang kecil. Ruangannya sekitar 2x3-lah," tutur Rikon saat ditemui MALE Indonesia, di kawasan Blok M Squere, Jakarta Selatan.

Ada sebuah kejadian, kata Rikon, di mana pemilik hak siaran tidak menyukai perkumpulan yang kerap dilakukan di ruangan Andy Julias. Apalagi sampai ikut siaran. "Terus pindah tempat ngumpul. Setiap Jumatnya jadi ngumpul di rumah Andy Julias," kata Rikon. "Enggak lama, Andi Julian juga mundur sebagai music director, kayanya sih selek sama pemilik hak siarannya itu," tambahnya.

 
 

Setelah satu bulan lamanya kerap kumpul di rumah Andy Julias, Rikon pun mengusulkan perkumpulan itu menjadi sebuah organisasi penggemar musik. Akhirnya, Jumat siang, di tahun 2001. Dibuatlah kepengurusan dan dideklarasikan oleh 20 sampai 30 orang soal berdirinya Indonesian Progressive Society (IPS).

"Setelah berdiri dan struktur organisasi lengkap, kita mengumpulkan uang dan membuat sebuah Progressive Festival (Prog Fest) yang pertama (2001) di Taman Ria, Senayan," ucap Rikon.

Progressive Festival (Prog Fest) pun kemudian menjadi agenda tahunan yang diisi oleh band-band dengan aliran musik progressive. Prog Fest yang pertama terbilang sukses dengan menampilkan 10 band yang dimulai sejak pukul 15.00 hingga pukul 00.00 WIB dan ditonton oleh ribuan penonton.

indo progressive
dok. IPS

Tujuan Mendirikan IPS
Suksesnya Prog Fest dua tahun berturut-turut. Kemudian IPS memnbuat event lain, yakni Prog Night. Event tersebut diadakan setiap tiga bulan sekali. Band yang mengisi adalah band yang akan mengisi Prog Fest. "Band yang akan tampil di Prog Fest dimajukan. Sambil kita nyari band-band baru," kata Rikon.

Rikon juga menambahkan. Selain mengumpulkan para pendengar musik-musik progressive, juga mencari band baru dengan aliran progressive. "Karena kita tahu, band progressive ini kruang diminatii di acara-acara pensi kala itu. Jadi kami berikan wadah untuk tampil," jelasnya.

Bahkan, tujuan lain yang mungkin tidak ada di komunitas musik lainnya adalah, membantu pembuatan album musik bagi band-band yang telah memiliki demo. "Dari 2004 sampai 2010, kita sudah mengeluarkan 10 album band progressive. Kita kerjasama dengan Sony Music dan sempat dikasih label Pogressive Rock Sony," terang Rikon.

indo progressive
dok.IPS

Sayangnya, penikmat musik progressive yang rendah membuat penjualan album-album itu lesu. Karena itu pula, kerjasama dengan Sony Music pun selesai. "Tapi uniknya, meski waktu itu album tidak begitu laku. Sekarang albumnya dicari orang. Harganya malah jadi mahal banget. Bisa sampai Rp 300 ribu," ucap Rikon.

"Tujuan kita bahkan sampai membuat pendidikan bagi anggota IPS," kata Rikon. Pendidikan itu pendidikan pola pikir. Di mana pola pikirnya harus out of the box atau maju. "Karena progressive itu kan artinya maju," tambah Rikon.

Bangun dari Mati Suri
Selin Andy Julias, masih ada musisi lain di dalam komunitas IPS tersebut. Sebut saja Iwan Hasan, Kiki Caloh (Discus), hingga Welly Siahaan dari Giant Step. Kepemimpinan sempat berganti hingga tiga kali. Hingga pada tahun 2005, semua harus berubah. "Karena kesibukan masing-masing anggota, banyak dari mereka yang mengundurkan diri," kata Rikkon mengenang.


dok. IPS

Tahun 2016 menjadi titik di mana semuanya harus merelakan. Ketika sesepuh IPS harus "pulang selamanya". Kiki Caloh berpulang pada tahun 2014 karena sakit, dan di tahun 2016 Andy Julias pun menyusul pulang. "Dan sekarang tinggal saya dan Welly," lirih Rikon.

Rikon mengakui, ketiadaan Andy Julias dan Kiki Caloh, komunitas IPS sedikit meredup. Tidak ada yang duduk di kursi ketua. "Karena telah lama tidak ada ketua, mungkin sekarang Welly akan diangkat menjadi ketuanya, dan saya masih jadi tim keanggotaan saja, tim yang mengurusi ini dan itu, tim sibuklah," tegas Rikon.

Dengan semangat bangkitnya IPS di 2019. Rikon mengaku akan mengembalikan semuanya seperti dahulu. Kendati anggota tidak sebanyak dahulu. Misalnya menghidupkan Prog Night, membantu merilis album band-band dengan aliran progressive, dan event-event lainnya.

Indo progressive
dok. IPS

Rikon pun tidak mempersulit bagi mereka yang ingin ikut bergabung ke komunitas IPS. Bagi mereka yang ingin menjadi anggota, tinggal ikut masuk ke dalam laman Facebook Indonesian Progressive Society dan aktif di dalamnya. Untuk pertemuan-pertemuan, dilakukan di toko musik Roundabout yang berada di lantai basement Blok M Squere, Jakarta Selatan, 

"Di zaman sekarang, sepertinya sudah tidak relevan lagi membuat sebuah keanggotaan," ucap Rikon. *** (SS)

SHARE