Benarkah Kesehatan Mental Bisa Rusak karena Tato? - Male Indonesia
Benarkah Kesehatan Mental Bisa Rusak karena Tato?
MALE ID | Sex & Health

Tato adalah salah satu seni menggambar tubuh menggunakan tinta dan jarum khusus. Jarum akan memasukkan tinta ke dalam lapisan kulit Anda. 

pixabay.com

Di tangan seniman tato terbaik, maka hasil tato akan tampak memukau. Namun, di balik keindahan tato, ternyata tato memiliki efek samping yang berbahaya bagi kesehatan mental. Para peneliti menunjukkan bahwa walaupun memiliki tato tidak secara signifikan terkait dengan status kesehatan secara keseluruhan, individu dengan tato cenderung didiagnosis dengan masalah kesehatan mental dan masalah tidur.

Peneliti dari University of Miami di Florida, Amerika Serikat (AS) itu juga menambahkan informasi mengenai orang yang memiliki tubuh bertato biasanya mempunyai pasangan seksual lebih banyak dibanding yang tidak bertato. Temuan yang dipublikasikan dalam International Journal of Dermatology ini mempelajari hasil survei Pew Research Centre terhadap 2.000 orang dewasa yang tinggal di AS.

Sebanyak 40 persen partisipan berusia antara 18 dan 29 tahun memiliki setidaknya satu tato. Sementara, 18 persen lainnya mempunyai enam atau lebih tato pada tubuh mereka. Studi mencatat, orang yang bertato lebih sering terlibat dalam perilaku yang berisiko negatif. Perilaku yang dimaksud adalah seks bebas, merokok, dan tindakan kriminal dengan hukuman penjara.

Berdasarkan pertanyaan yang diajukan kepada partisipan, peneliti juga menemukan gangguan tidur dan masalah kesehatan mental lebih banyak terjadi pada orang dengan tubuh bertato. Penulis utama penelitian, Dr Karoline Mortensen, mengatakan, penelitian sebelumnya telah membentuk hubungan antara memiliki tato dan terlibat dalam perilaku berisiko.

"Di era meningkatnya popularitas tato, bahkan di kalangan profesional yang bekerja, kami menemukan hubungan dan karakter seperti tersebut di atas jelas terlihat, tetapi tidak terkait dengan status kesehatan tubuh," ujar Dr Mortensen dalam laman Times Now News.

Penelitian ini diharapkan bisa memberikan kemudahan pada pakar medis, terutama psikolog dan para ahli yang memiliki spesialis menangani pasien dengan gangguan tidur.

Pada masa lalu, tim peneliti dari Liverpool Hope University, juga pernah melakukan penelitian pada partisipan yang memiliki tubuh bertato Penelitian dilakukan pada 48 partisipan bertato tersebut menyimpulkan bahwa alasan-alasan populer kebanyakan orang saat akan merajah tubuh adalah ingin memberontak, ingin tergabung dalam sebuah kelompok sosial, dorongan estetika, dan hubungan emosional yang kuat terhadap suatu objek.

Lalu, berdasarkan pengamatan peneliti, orang-orang yang bertato memperlihatkan sikap dengan rasa percaya diri yang rendah. “Temuan ini menunjukkan tato bukan sebatas aksesori mode, tetapi lebih dipicu oleh berbagai macam faktor motivasi yang terkait signifikan dengan kepercayaan diri yang rendah,” jelas Randle mengenai hasil penelitian yang telah dipublikasikan British Psychological Society

Dia pun menganjurkan, agar orang-orang yang berniat menato tubuh untuk mempertimbangkan secara matang dan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri terkait alasan dan motivasi. Empat peneliti dari Department of Basic Psychological Research and Research Methods School of Psychology, University of Vienna, Austria, juga memaparkan kajian studi mengenai karakter kebanyakan orang yang bertato.

Penelitian terhadap 540 responden tersebut merangkum, karakter orang bertato sangat ekstrover, sarat risiko, mencari perhatian, dan cenderung lebih positif terhadap sesama pemilik tato. Tim peneliti menarik kesimpulan tersebut berdasarkan pengamatan dengan ukuran Lima Besar Faktor kepribadian, yang meliputi faktor keunikan, harga diri, sensasi, dan spiritual. *** (SS)

SHARE