Penyakit yang Bisa Menyerang Pecandu Gadget - Male Indonesia
Penyakit yang Bisa Menyerang Pecandu Gadget
MALE ID | Sex & Health

Ketika ponsel atau gadget sudah terus berkembang, bukan hanya mempermudah aktivitas seseorang. Tetapi juga muncul hal negatif yang mengintai. Apalagi bergi Anda yang terlalu berlebihan menggunakan gadget. Bukan hanya soal kencanduan, tetapi penyakit yang cukup serius juga akan membidik Anda.

Pixabay.com

Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat, dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), mengatakan menggunakan smartphone dalam jangka waktu yang lama bisa menyebabkan kerusakan saraf tepi pada tangan.

“Bermain smartphone terlalu lama bisa memengaruhi kondisi fisik dan saraf. Dan posisi memegang smartphone akan berisiko mengalami kerusakan pada tangan. Salah satunya adalah neuropati, kerusakan saraf tepi,” kata dr. Manfaluthy.

Berdasarkan hasil survei Consumer Behavior dari Merck yang melibatkan 900 reponden di enam kota besar ditemukan bahwa orang dengan rentang usia 26-30 tahun merupakan yang tertinggi mengalami gejala neuropati, diikuti dengan yang berusia di atas 30 tahun. Lebih dari 50 persen terjadi di kota besar.

Kebiasaan sederhana yang sering dilakukan seperti mengetik di gadget bisa menjadi penyebab utama munculnya gejala neuropati (61,5%). dr. Manfaluthy Hakim juga mengatakan, jika itu tidak ditangani dapat menyebabkan kelumpuhan.

“Gejala kebas dan kesemutan menjadi gelaja awal yang sering kali diabaikan. Padahal jika dibiarkan terus dapat menurunkan fungsi saraf seperti hilangnya sensasi rasa dan gerak hingga kecacatan permanen. Apalagi jika kerusakan saraf sudah lebih dari 50% itu akan sulit untuk diperbaiki,” ujar Hakim.

Neuropati sendiri terbagi menjadi tiga tahapan. Pada tahap dini, ditandai dengan terjadinya gangguan fungsi saraf. Berlanjut ke tahap kedua atau biasa disebut dengan moderat, dimana terjadi kerusakan selubung saraf yang mengelupas dan masih bisa diperbaiki.

Sementara neuropati di tahap yang berat, bisa menyebabkan kerusakan saraf hingga ke dalam, bahkan putusnya saraf. Dan jika hal ini terjadi, maka penyakit ini sudah tidak bisa disembuhkan dan pengidapnya menjadi tidak bisa merasakan apapun.

dr. Manfaluthy Hakim menganjurkan melakukan olahraga/stretching sesuai dengan kemampuan tubuh masing-masing. Selain itu, mengonsumsi obat neurotropik juga bisa membantu menurunkan risiko hingga 62,9 persen selama tiga bulan periode konsumsi. *** (SS)

SHARE