Olivier Giroud, Pahlawan Perancis yang Terlupakan - Male Indonesia
Olivier Giroud, Pahlawan Perancis yang Terlupakan
MALE ID | Sport & Hobby

Agaknya berlebihan menyebut seorang Olivier Giroud sebagai legenda. Bahkan banyak orang akan mengatakan overrated jika ia dinobatkan sebagai salah satu striker terbaik dunia. Tapi menyoal mental juara di dalam dirinya, tak ada yang dapat membantah.

wikimedia commons

Olivier Giroud bukan Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Bila disandingkan dengan pemain beken macam Neymar, Kylian Mbappe, atau Mohamed Salah, publik bisa saja menyisihkan namanya.

Tapi perlu diingat, kiprah Giroud di lapangan hijau selama satu dekade terakhir layak diakui dan mendapat penghargaan khusus.

Ia adalah pemain berstatus juara dunia. Seiring keberhasilannya membawa timnas Perancis mengangkat trofi Piala Dunia 2018.

Lahir di Chambery, Perancis, Giroud melakoni debut profesionalnya di kancah Ligue 2 bersama Grenoble di usia 19 tahun pada musim 2005/06. Di penghujung musim, kesuksesannya menjadi top scorer membuka jalan baginya untuk memperkuat tim kasta teratas, Montpellier.

Di Montpellier, Giroud mulai menyedot perhatian Eropa. Selama dua musim, ia mampu membukukan 33 gol, termasuk total 21 gol kala membawa klub menjuarai Ligue 1 Perancis 2011/12. Sepatu Emas pun menjadi miliknya.

Arsenal sontak membawa Giroud muda berkancah di Liga Primer Inggris. Tak butuh waktu lama, ia segera mencetak gol perdana menandai kedatangannya di Negeri Ratu Elisabeth.

“Dia adalah finisher yang hebat. Saya yakin dia tengah mencari kepercayaan diri dan gol itu bisa membantunya. Saya harap, dia dapat melanjutkannya ke ajang Liga Primer,” ujar pelatih Arsenal kala itu, Arsene Wenger, mengutip dari Goal.

Di bawah seragam The Gunners, total dia mengumpulkan 250 penampilan dan mengoleksi 105 gol selama lima setengah musim. Ia mempersembahkan Arsenal tiga gelar Piala FA (2013/14, 2014/15, 2016/17), gelar pribadi FIFA Puskas Award dan mengunci tempat di timnas Perancis.

Pada 2018, Chelsea tetap menahan Giroud untuk berada di Liga Primer dengan memboyongnya dari Emirates Stadium. Piala FA 2017/18 cukup mengharumkan namanya di Stamford Bridge.

Dalam tujuh pertandingan Piala Dunia 2018, ia dipercaya memimpin lini depan oleh Didier Deschamps dan menyelesaikan 500 menit. Torehan golnya tak banyak. Ini yang membuatnya dianggap underrated.

Walau demikian, Olivier Giroud punya jaminan mutu. Postur jangkung, piawai dalam menguasai seluruh area penyerangan. Semua lantaran gaya bermainnya dibangun di atas pengorbanan. Dia bukan striker oportunis apalagi egois.

Tidak banyak penyerang kelas atas dunia memiliki perpaduan teknik penguasaan bola yang bagus, memainkan sentuhan pertama secara brilian dan jago duel udara.

Trofi Piala Dunia, Puskas Award, membawa tim medioker Montpellier menjuarai liga domestik dan mencetak lebih dari 200 gol seharusnya membuat Giroud dikenang sebagai salah satu striker terbaik sepanjang masa. Sayang, hal itu tak berlaku baginya.

Giroud tak sekalipun dielu-elukan publik di generasinya. Jauh dari gemerlap seorang bintang. Mungkin, orang baru menyadari saat ia gantung sepatu, bahwa dunia si kulit bundar pernah mempunyai striker berkelas yang bernama Olivier Giroud. [GP]

SHARE