Perjalanan Jas Jadi Busana Para Pria Sejati - Male Indonesia
Perjalanan Jas Jadi Busana Para Pria Sejati
MALE ID | Looks

Jas adalah pakaian resmi model Eropa yang kerap dipakai kaum adam untuk menghadiri acara formal. Biasanya dipakai sebagai outer dan dipasangkan dengan kemeja. Pakaian ini juga menunjukkan simbol kebangsawanan, maskulinitas, dinamisme, bakat serta gambaran ideal seorang pria.

Photo by Anders Kristensen from Pexels

Bila dilihat dari sejarahnya, jas mengalami transformasi dari masa ke masa. Jejak pertama jas atau yang akrab disebut setelan pria ini muncul pertama kali di tahun 1600-an.

Seperti dilansir dari The Quint Essentials Mind, Raja Charles II yang saat itu menjadi ikon gaya, memberlakukan aturan ketat mengenai gaya berpakaian. Siapa pun yang melanggar aturan tersebut akan dikenai sanksi.

Pria harus memakai mantel atau jas panjang, petticoat, cravat atau neckband dan berbagai aksesoris lainnya. Namun, berbagai hal mulai berubah secara sosial dan budaya, begitu pula busana pria.

Pengaruh Inggris awal ini hidup sampai tahun 1800-an, ketika Beu Brummell, tokoh ikon Regency England, membawa pembaruan pada gaya pria.

Di bawah pengaruhnya, versi modern dari jas dan dasi langsung terkenal. Pria kelas atas mengenakan jas berekor gelap dan celana berwarna senada. Era ini dikenal sebagai era Regency.

Abad ke-19, saat era Victoria berkuasa, froack coat atau jas panjang dan morning coat telah menjadi standar berbusana pria. Di masa itu, mengenakan jas dan celana panjang yang senada adalah hal tidak formal.

Menjelang pergantian abad, leisure coat atau jas santai menjadi bentuk standar pakaian untuk acara kasual.

Selama periode Edwardian di abad ke-20, lounge suit dari Era Victoria mulai dipakai di segala aktivitas. Pria mulai meninggalkan frock coat yang pengap dan semua standar formalitas.

Pasca Perang Dunia I berakhir, waist-length suit menjadi standar berpakaian dan pria mulai memakai celana straight leg.

Sementara itu, pria konservatif lebih menyukai double breasted suit. Fitur manset atau cuffing juga semakin populer di era ini.

Tahun 1940-an hingga 1950-an, setelan pria makin sempurna, sederhana, dan dimodernisasi. Ukuran kerah berkurang secara signifikan dan mulai menggunakan kain lebih tebal seperti wol.

Sayangnya, perkembagan fashion pria di tahun 1970-an tak lagi mengalami perkembangan signifikan karena fokus pada pergantian kekuasaan di tahun 1980-an dan kembalinya mode minimalis.

Kini, setelan atau jas pria mulai dibuat dengan sentuhan personalisasi sesuai ukuran. Jas juga menjadi busana paling populer di kalangan pria tanah air. Kalau Anda sendiri bagaimana? [GP]

SHARE