Masa Sih, Hubungan Intim Bisa Bikin Pria Depresi - Male Indonesia
Masa Sih, Hubungan Intim Bisa Bikin Pria Depresi
Gading Perkasa | Sex & Health

Sudah seharusnya hubungan intim menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi kaum adam. Selain memuaskan gairah, hal ini juga merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan pasangan.

Photo by Daniel Reche from Pexels

Namun tak menutup kemungkinan jika hubungan intim dapat membuat pria merasa sedih dan berujung pada depresi. Kok bisa?

Berdasarkan sebuah riset terbaru dari Queensland University of Technology (QUT), Australia, ditemukan fakta terbaru tentang pria dan hubungan intim. Hasilnya boleh dibilang cukup mengejutkan.

Studi yang diterbitkan secara online dalam Journal of Sex & Marital Therapy ini mengungkap bahwa pria bisa sangat sedih, mellow, menangis, bahkan depresi setelah melakukan hubungan intim.

Joel Maczkowiack dan Robert Schweizter, peneliti dari Sekolah Psikologi dan Konseling QUT mengatakan, sindrom itu disebut postcoital dysphoria (PCD).

“Jika pria depresi setelah melakukan aktivitas seksual, jangan dianggap remeh,” tulis Maczkowiack dan Schweitzer dalam studi berjudul Postcoital Dysphoria: Prevalence and Correlates among Males.

Sebab, tulis para peneliti, hal tersebut berpotensi menimbulkan konflik pada sebuah hubungan. Seperti dilansir dari laman Science Daily, Maczkowiack mengatakan bahwa jumlah pria yang mengalami sindrom ini cukup tinggi.

Dari 1.208 pria yang disurvei, sebanyak 41 % di antaranya selalu mengalami sindrom postcoital dysphoria sepanjang hidupnya. Sementara 20 % responden baru saja mengalami PCD empat pekan sebelum disurvei. “Empat persen lainnya menderita PCD secara teratur,” tutur Maczkowiack.

Ditambahkan oleh Maczkowiack, faktor yang memengaruhi terjadinya PCD berasal dari faktor biologis dan psikologis karena kurangnya interaksi setelah berhubungan intim.

Pengalaman yang dirasakan oleh responden pun beragam. Mulai dari tidak ingin disentuh usai berhubungan intim, sampai merasa kesal dan gelisah.

“Hal tersebut mematahkan asumsi yang selama ini ada, bahwa pria sangat dominan dalam hubungan intim,” kata Schweizter.

Studi ini merupakan hasil survei online anonim internasional dari berbagai negara. Di antaranya Australia, Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Selandia Baru, Jerman, dan negara-negara lain.

Para peserta direkrut lewat media sosial, artikel online, dan situs penelitian psikologis. Mereka diminta secara sukarela mengisi kuesioner online yang disajikan. [GP]

SHARE