Solusi Keamanan Berbasis Video Analytics - Male Indonesia
Startup
Solusi Keamanan Berbasis Video Analytics
MALE ID | Works

Sistem keamanan berbasis pemantauan di tanah air selama ini terbatas pada perekaman sebuah peristiwa semata. Hal tersebut merupakan ironi, mengingat di situasi tertentu rekaman video sangat diperlukan dalam proses pengamanan.

Photo by Gading Perkasa/Male.co.id

Lantaran sistem keamanan dengan CCTV terbatas, dua anak bangsa memutuskan untuk mendirikan Nodeflux, startup yang mengembangkan teknologi intelligent video analytics

“Kami mulai berdiri pada Januari 2016 lalu. Kami provide intelligent video analytics atau vision artificial intelligence. Secara umum, kami membuat mesin bisa melakukan interpretasi visual layaknya manusia, lebih ke arah city surveillance, face recognition, nanti kami compare dengan aslinya,” kata Meidy Fitranto, CEO Nodeflux.

Bersama rekannya, Faris Rahman, ia merintis bisnis tersebut sejak Maret 2015. Termasuk membuat prototype, dan mencari pendanaan. Sekarang ini, total karyawan di Nodeflux mencapai 73 orang.

“Sebenarnya artificial intelligence bukan istilah baru, sudah ada sejak era 50-an, tapi baru memasuki masa peak di era 80-an. Disebut AI winter, lebih ke arah research and experimental. Namun karena hardware masih terbatas, akhirnya sempat stagnan.”

Photo by Gading Perkasa/Male.co.id

“Kemudian, mulailah tren deep learning, hardware semakin canggih dan terjangkau, data semakin banyak dan knowledge juga berkembang. Di tahun 2010 deep learning naik daun, implementasi di mana-mana,” ujar Meidy.

Ditambahkan oleh Meidy, positioning Nodeflux terbilang menarik. Pasalnya, baru Nodeflux satu-satunya startup di Indonesia yang provide solusi sistem keamanan dengan teknologi intelligent video analytics.

“Sebenarnya ada sejumlah pesaing, tapi kalau kami mengikuti tender, hanya kami satu-satunya asal Indonesia. Sisanya dari luar negeri, seperti Cina, Jepang, atau Rusia,” ucap dia.

Menurut Meidy, sekitar 80 % hingga 90 % penerapan artificial intelligence di dunia menggunakan NVIDIA sebagai graphic processing unit (GPU). Fungsinya bukan hanya sekadar mengolah grafis, melainkan juga melakukan komputasi lain, seperti Bitcoin mining.

“NVIDIA punya program bernama Metropolis Software Partner Program, dan ada 24 top rank artificial intelligence di dunia, salah satunya kami,” ujarnya.

Photo by Gading Perkasa/male.co.id

“Mulai tahun 2018, kami dapat banyak kesempatan untuk provide di berbagai high profile event. Antara lain Asian Games 2018, IMF World Bank Group Summit di Bali. Kami pun sedang roll out ke 13 Polda di Indonesia, dan integrasi data kependudukan dengan Dukcapil. Ini achievement besar buat kami.”

Ia mengaku ada sedikit kendala dalam menjalankan bisnisnya, seperti menemukan sumber daya manusia yang tepat dan menghadapi ekspektasi dari masyarakat.

“Kendala utamanya adalah mencari talent. Soalnya kami mengambil area latest technology. Sekarang sudah lebih mudah. Mengenalkannya ke masyarakat juga tidak susah. Agak bahaya kalau mereka over expectation,” tutur Meidy.

Terkait besaran modal yang diperlukan untuk membangun Nodeflux, Meidy menyebut modal tersebut diperoleh dari funding, masih di angka ratusan juta rupiah.

“Untungnya generasi sekarang, mereka lebih mudah menemukan channel yang memberi modal untuk buka usaha. Venture capital dan pihak-pihak yang mau invest ke startup banyak,” kata dia.

Photo by Gading Perkasa/Male.co.id

Ke depannya, Meidy mengatakan ingin lebih memperkuat posisi Nodeflux di pemerintahan. Caranya yaitu memperluas pasar dan mengenalkan bahwa ada yang bermain di area surveillance.

Di penghujung wawancara, Meidy memberikan saran bagi setiap orang yang hendak membuka usaha serupa.

“Anda harus punya passion dan motivasi cukup besar. Karena rintangan selalu ada di tengah perjalanan. Kalau tidak benar-benar komitmen, Anda akan kembali ke zona nyaman. Pastikan ide Anda didukung oleh data yang valid dan dicari orang, agar Anda yakin bisnis dapat berjalan lancar,” tuturnya kepada MALE Indonesia. [GP]

SHARE