Tempat Berbagi Cerita Pelaku Event Se-Indonesia - Male Indonesia
Tempat Berbagi Cerita Pelaku Event Se-Indonesia
MALE ID | Sport & Hobby

Kala itu, sekitar tahun 2010. Enam orang pelaku event asik ngopi bersama untuk sekadar berbincang-bincang, dua diantaranya Krisnanto dan Emon Firman Syah. Tentu, selain saling bercanda, mereka berbincang terkait event yang sedang mereka jalani masing-masing.

Photo: Sopian/Male Indonesia

Dari ngumpul sambil ngopi itu, terberesit sebuh impian untuk bisa sekadar bertemu atau ngumpul bareng bagi semua pelaku event di Indonesia. Di mana di dalamnya ada Event Organizer (EO), Vendor, Artis, dan lain-lain. Akhirnya, tercetuslah "Backstage People" sebagai komunitas untuk para pelaku event. Kemudian, pada 2013, nama itu berubah menjadi "Backstagers".

"Backstage People itu terlalu panjang, dan susah menyebutkannya, akhirnya kita persingkat seperti sekarang (Backstagers)," tutur Krisnanto Sutrisman, selaku Founder Backstagers.

Pria yang biasa disapa Anto itu juga memaparkan, bahwa Backstagers memiliki arti yang seolah-olah orang yang berada di belakang panggung. Tetapi makna "di belakang panggung" ini bukan benar-benar orang yang ada dibelakang panggung.

"Apapun yang berhubungan dengan kegiatan, acara, kita sebutnya 'panggung', Nah, kita ini adalah orang-orang dibalik itu semua," ucap Anto.

Sebagai Wadah Berbagi, Pengetahuan, dan Edukasi
Emon Firman Syah, salah satu pencetus Backstagers memaparkan, bahwasannya Backstagers itu berdiri memang karena dari beberapa teman-teman para pelaku event yang punya rasa kebersamaan yang sama.

doc. Backstagers/@backstagers.indonesia

"Kami ingin memberikan knowledge atau pengetahuan kepada teman-teman di Indonesia, baik itu temen-temen para pelaku event di dalamnyan vendor, artis, EO. Kami merasa bahwa pengetahuan kami berbeda, sehingga kami punya kewajiban sharing dan mengedukasi, ini yang pertama," kata Emon.

Kedua, lanjut Emon, Backstagers ingin, pada satu titik tertentu, bisnis EO itu bisnis yang seksi dan menggiurkan. Walau pun dahulu pada zaman 90an, EO adalah bisnis yang dipandang sebelah mata.

"Dengan adanya komunitas ini bisa berbagai ilmu dan pengetahuan, supaya kualitas pengetahuannya sama. Mulai dari Jakarta sampai ke daerah. Karena mengelola event itu tidak ada sekolahnya. Ditambah, pelaku event tidak semua bentuknya berbedan hukum, ada yang bentuknya paguyubab, komunitas, macam-macam," tutur Emon.

Kendati sekarang telah sukses menjadi komunitas pelaku event terbesar, Emon mengaku di awal-awal memang memiliki kesulitan. Di mana ketika memberikan gambaran kepada mereka (pelaku event) bahwa jika ingin bisnis atau usaha itu harus sehat. Tidak saling sinis antar EO ketika salah satunya mendapatkan tender atau proyek.

doc. Backstagers/@backstagers.indonesia

"Tahun 2000an, kalau kita ketemu temen EO yang lain di dalam proses tender atau pitching, lihat matanya itu sinis. Karena dia melihatnya kompetitor, sebegitunya," cerita Emon.

Nah, dengan adanya Backstagers ini, lanjut dia, berusaha mencairkan suasana seperti itu. Sehingga bisa saling bersinergi. saling berbagi ketika ada pitching, sama-sama bersaing sehat. Jika ada yang menang, saling memberikan selamat. 

"Selama lima tahun untuk bisa mensinergikan semuanya, akhirnya terbangun dan bersinergi seperti sekarang," ucapnya.

"Regroup", Event Tahunan untuk Saling Berkumpul
Sebagai komunitas, tentu ada waktu di mana semua anggota berkumpul. Entah itu dalam bentuk ngopi bareng atau membuat sebuah event bersama. Tujuannya jelas, saling mengenal lebih dalam pada satu tubuh komunitas.

doc. Backstagers/@backstagers.indonesia

Backstagers memiliki acara tersendiri untuk hal itu, yang diberinama "Regroup", kemudian disepakati memiliki sub judul berbeda di setiap tahunnya. 2013 adalah tahun pertama adanya "Regroup" dan sekaligus pengesahan nama "Backstagers" yang semula bernama "Backstage People".

"Regroup awal kegiatannya, kaya buka puasa bareng, terus ada CSR, buka puasa bareng anak yatim piatu. Itu rutinitas awal sebelum Backstagers dibuka dan masih dijalani sampai saat ini," kata Emon.

Tapi seiring waktu. Selain CSR itu, Regroup sebagai acara tahunan diisi dengan sharing ilmu tentang seluk beluk event, bagaimana standar membuat event, mengatur tiketing, mengundang media, dan lain sebagainya. 

"Sebelum 2019 ini, biasanya kita ngadain seperti di kafe atau lounge, semua biaya dari kita masing-masing. Karena acara tahunan Regroup ini memang 'dari kita, oleh kita, untuk kita'," ucap emon.

doc. Backstagers/@backstagers.indonesia

Di tahun 2019, kata Emon, dengan tajuk "Unleashed", menjadi Regroup pertama yang diadakan di tempat Indoor dan Outdoor sekaligus dan mendapatkan sponsor.

"Acara Unleashed ini dua hari, karena belajar dari antusias acara sebelumnya yang hanya satu hari mulai dari jam 10 pagi sampai jam 12 malam. Dari situ saya melihat antusias yang besar, sehingga menjadikan event ini rutin untuk mengundang bukan hanya pelaku event, tetapi juga mahasiswa untuk ikut terlibat sebagai pengetahuan soal event itu sendiri," terang Emon.

Lebih lanjut, kata Emon, kedepannya ada rencana bahwa, event Regroup ini skalanya diperkecil dan tetap memiliki event besar tahunnya. "Skala kecil ini nantinya akan roadshow ke 10 sampai 12 kota di tahun 2019. Misinya sama, kami akan memberikan edukasi, pengetahuan, baik data dan soal event itu sendiri," jelas Emon. *** (SS)


  

SHARE