Kisah Onitsuka Tiger Bangkit dari Keterpurukan - Male Indonesia
Kisah Onitsuka Tiger Bangkit dari Keterpurukan
MALE ID | Looks

Onitsuka Tiger sudah melekat di benak konsumen sebagai brand sepatu olahraga yang memiliki desain keren dan kekinian. Pertanyaannya, bagaimana awal mula kemunculan brand ini di dunia?

Kazuhiro Keino/flickr

Di tahun 1949, Kihachiro Onitsuka mencoba membuat sepatu yang sesuai keinginan untuk digunakan para atlet dan penggemar olahraga. Ia mempekerjakan empat pegawai di rumahnya, mendesain sepatu yang terinspirasi dari sandal jerami tradisional Jepang.

Namun sepatu jerami tak laku karena kurang cocok dan tidak nyaman dipakai bermain basket. Kebetulan, kala itu orang Amerika membawa olahraga basket yang segera populer di Negeri Sakura. Onitsuka memutar otak agar sepatu-sepatunya nyaman dipakai.

Kihachiro Onitsuka mendapat ide saat ia menyantap salad gurita. Salah satu tentakel gurita yang hendak dimakannya menempel pada mangkuk dan sulit dilepas.

Mekanisme penghisap pada tentakel gurita sangat cocok diterapkan pada sepatu basket agar bisa mencengkeram lantai lapangan. Gagasan itu segera ia wujudkan menjadi sepatu yang diberi brand Tiger. Sepatu baru dibuat beberapa model dan diuji ke para pemain dan pelatih basket.

Dari hasil uji coba, Kihachiro Onitsuka kemudian membuat sepatu yang merupakan perbaikan kepada para atlet. Ternyata hasilnya memuaskan mereka. Sepatu berbahan kanvas dan sol karet itu segera jadi sepatu basket populer di seantero Jepang. Orang-orang menyebutnya Onitsuka Tiger.

Kesuksesan itu membuat Onitsuka berniat membuat sepatu untuk cabang olahraga lain, akhirnya lahirlah sepatu lari, sepatu voli, tenis, bulu tangkis, dan sepatu berbagai olahraga yang disebut all training shoes.

Di tahun 1960-an, sepatu Onitsuka Tiger pun mulai terlihat di berbagai ajang olahraga dunia, terutama sejak Olimpiade musim panas tahun 1964 yang diselenggarakan di Tokyo.

Sepatu-sepatu baru dibuat, termasuk seri all training shoes bernama Limber yang diperkenalkan tahun 1966 demi menyambut Olimpiade Mexico. Limber tergolong sepatu pertama dari Onitsuka yang menggunakan garis lengkung, setelah sebelumnya berbentuk garis sejajar seperti Adidas.

Tahun 1977, Onitsuka Tiger bergabung dengan perusahaan sepatu GTO dan Jelenk, ketiganya menjadi ASICS, singkatan dari Anima Sana In Corpore Sano. Bila diterjemahkan, itu artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

ASICS mulai fokus pada berbagai produk dalam cakupan lebih luas, termasuk peralatan ski, baseball, hingga golf. Walau mereka terus membuat sepatu olahraga, seri-seri ikonik Onitsuka Tiger perlahan tenggelam.

Baru beberapa tahun berjalan, bisnis ASICS meredup, dan pada 90-an perusahan itu merugi sembilan tahun berturut-turut. Penyebabnya beragam, dari kondisi ekonomi sampai munculnya pesaing baru.

Beruntung, ASICS berhasil bangkit dengan desain ikoniknya. Tahun 2002, nama Onitsuka Tiger bahkan dihidupkan kembali sebagai lini fashion dan lifestyle dari ASICS.

Kebangkitan ini tak lepas dari munculnya tren retro dan nostalgia di seluruh dunia, dimana orang mencari barang ikonik yang dibuat dengan bahan dan teknologi baru.

Kepopuleran Onitsuka kian melejit di tahun 2003, saat film Kill Bill muncul. Di film tersebut, tokoh utamanya mengenakan Onitsuka Tiger Mexico 66 berwarna kuning, seperti yang pernah dipakai Bruce Lee di film Game of Death tahun 1978, lengkap dengan kostum serba kuningnya. [GP]

SHARE