Kedalaman Emosi Konser Pearl Jam yang Berbeda - Male Indonesia
Kedalaman Emosi Konser Pearl Jam yang Berbeda
MALE ID | News

Siapa yang tidak mengenal Pearl Jam, band yang terdiri dari Eddie Vader, Mike McCready, Stone Gossard, Jeff Ament, dan Matt Cameron. Telah menghadirkan berbagai karya fenomenal, namun sayangnya fans di Indonesia tidak pernah merasakan aksi panggungnya secara langsung di tanah air. 

Pearl Jam-Male-Indonesia
Paul from United Kingdom/Wikimedia

Para penggemar Pearl Jam di luar negeri memperbarui “keimanan” mereka melalui pengalaman konser. Dari “ritual” sebelum konser, seperti gathering dan amal, hingga tentunya konsernya itu sendiri. Apa sebetulnya yang membuat konser Pearl Jam bisa mengikat penggemarnya?Tercatat, mereka nyaris ke sini tahun 1995, yang batal karena bersamaan dengan Idul Fitri. Padahal, konser Pearl Jam adalah salah satu yang membuat band berusia 29 tahun ini masih mempunyai fanbase yang solid.

Berbeda dengan band lainnya, Pearl Jam tidak menghabiskan budget konser untuk efek yang wah dan spektakuler. Malah, konser mereka sejak awal di Off Ramp, Oktober 1990 sampai Home and Away Show tahun lalu tidak mempunyai perbedaan signifikan. Mereka, sejak awal, mengkonsepkan diri sebagai persona panggung.

Penampilan para personilnya tidak berbeda dari dalam dan luar panggung. Tidak ada alter ego. Memiliki kesejajaran yang pas dengan para penontonnya, bahwa mereka, ya “Bunch of people onstage playing music”.

Kebersahajaan yang terbukti mengikat. Penggemar-penggemarnya tumbuh bersama. Menua bersama band. Menyaksikan sendiri evolusi para anggota band yang mulai kesulitan memainkan lagu dengan tempo seketat mudanya, tetapi mengganjar dengan kompensasi lain.

Sudah jadi cerita umum mengenai nirekspektasi konser Pearl Jam. Bahwa mereka memainkan setlist yang random. Sehingga, tidak mungkin menghapal segelintir lagu andalan. Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan muncul dalam konser.

Pearl Jam-Male-Indonesia
Paul from United Kingdom/Wikimedia

Ada beberapa ciri umum yang jadi pola. Misalnya susunan konser dengan struktur set utama dan dua kali encore. Biasanya ada 17-18-an lagu di set utama, dan rata-rata 5 lagu di masing-masing encore. Pola yang bisa berubah juga, sehingga sama seperti setlist, tidak bisa diantisipasi. Termasuk oleh anggota band-nya.

Barangkali sinambung paralel misteri dari penggemar dan band ini yang membuat konser Pearl Jam jadi intim. Orang berharap, sekaligus menerima apa saja yang dibawakan oleh penghibur di atas pentas. Melihat bahwa yang di panggung memberikan pengalaman unik, khusus untuk mereka yang menonton.

Sehingga, konser Pearl Jam tidak pernah selesai sebagai diskursus ketika lagu terakhir (biasanya Yellow Ledbetter) diakhiri. Masih ada bahasan mengenai setlist. Masih ada bahasan mengenai banter atau rants Eddie dari atas panggung yang tidak pernah sama. Konser, meminjam istilah film, berakhir dengan hanging ending yang memaksa penggemar untuk pergi ke konser berikutnya, atau paling tidak menanti.

Celakanya, Indonesia belum pernah merasakannya secara langsung. Penggemar di sini masih terjebak pada konteks Pearl Jam yang muncul dari sebuah kaset atau cakram padat.namun belum pernah menikmatinya secara langsung.

Untuk itulah Pearl Jam Indonesia ada. Menyediakan ruang untuk mengalami hakikat sebagai penggemar Pearl Jam melaui berbagai entitas nyata dan maya. Dan kali ini, mengambil ceruk untuk membawa pengalaman berada dalam konser melalui sebuah konser.

Formula, pilihan lagu, susunan, dan flow panggung yang dibuat seperti konser Pearl Jam sesungguhnya. Dengan penampil yang mengerti hakikat dari band ini apa.

Bagi Anda yang ingin merasakan suasana yang mirip dan menutup kerinduan, hingga kehadiran Pearl Jam secara nyata di Indonesia. Bisa datang ke PEARL JAM NITE XI LIVE EXPERIENCE.

SHARE